Perubahan Musim, Membuat Antartika Perlahan-lahan Menjadi Hijau! Apakah Ini Pertanda?

Komentar
Salah satu dari 5 benua terbesar, yakni antartika yang seharusnya ditutup dengan es di seluruh datarannya, rupanya itu semua tinggal mitos belaka.



BACA JUGA:  NGERI! Hewan Bermata Satu Ini Ditemukan Di Sulawesi! Hewan Apa Ini?

Bagaimana tidak? para peneliti di Antartika menemukan lumut yang tumbuh cepat di semenanjung utara Antartika. Ini membuktikan adanya perubahan iklim di dataran paling tinggi di planet ini. Bahkan ditengah pemanasan global selama 50 tahun terakhit, sudah ada 2 spesies lumut yang tumbuh semakin cepat.

Dikutip dari kompas, "Orang-orang berpikir bahwa Antartika adalah tempat yang diselimuti es, tapi temuan kita menunjukkan bahwa bagian itu telah menjadi hijau dan akan semakin hijau," kata Matthew Amesbury, peneliti Universitas Exeter, Inggris dan penulis utama dari studi ini.

Penemuan yang dipublikasikan di Current Biology ini juga menunjukkan bahwa walaupun pada saat ini tumbuhan hanya melingkupi kurang dari satu persen wilayah Antartika, tetapi lumut sudah mulai tumbuh di beberapa bagian benua tersebut yang mencair karena datangnya musim panas.

Ketika musim panas tiba, lumut membuat lapisan tipis yang kemudian membeku selama musim dingin. Lalu, ketika musim panas kembali, lumut membuat lapisan baru di atas lapisan yang lama dan perlahan-lahan, lumut tua turun ke bawah tanah yang beku. Di sini, lumut terpelihara dengan baik dan menjadi catatan perubahan.



Foto yang diambil para peneliti selama menjalani tugasnya juga menunjukkan lanskap hijau yang mencolok. "Jika emisi gas rumah kaca berlanjut tak terkedali, Antartika akan kembali lebih mundur dalam waktu geologi. Mungkin suatu hari nanti, semenanjung Antartika akan menjadi hutan kembali seperti iklim rumah kaca di periode Cretaceous dan periode Eocene saat benua bebas dari es," kata Rob DeConto, glasiolog dari Universitas Massachusetts.

Meski begitu, pertumbuhan lumut di Antartika lebih lambat daripada di kutub utara. Dengan begitu para peniliti berharap agar ini bisa menjadi media pengimbang hilangnya karbon akibat global warming. Lantas, apakah ini merupakan musibah ataukah menjadi berkah?
Top