Peluk dan Cium Istri, Tiba-Tiba Keluar "ITU", Batalkah Puasanya?

Komentar


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah telah melimpahkan rahmat kepada kita semua. Hingga hari ini kita dapat melaksankan puasa dibulan Ramadhan tahun ini.

Tentunya kita ingin puasa kita diterima dan mendapatkan pahala yang sempurna. Untuk itu kita harus mengetahui syarat rukun puasa, serta hal-hal yang dapat membatalkannya agar kita dapat menghindarinya.

Seperti halnya pertanyaan berikut ini, bagaimana hukum saat puasa bermesraan dengan istri sampai keluar mani? Ditanyakan melalui konsultasisyariah.com, berikut penjelasan selengkapnya!

Ass. apakah hanya berpelukan sama istri tapi tdk sadar mengeluarkan air mani. itu membatalkan puasa?

Dari: Badawi M. i.

Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dalam hadis qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي

Allah berfirman, “Puasa itu milik-Ku, Aku sendiri yang akan membalasnya. Orang yang puasa meninggalkan syahwatnya, makan-minumnya karena-Ku.” (HR. Bukhari 7492, Muslim 1151 dan yang lainnya).

Allah menyebutkan secara beruntun sífat orang yang puasa adalah menínggalkan makan, mínum, dan syahwat bíologís. Sehíngga síapa yang menínggalkan salah satunya, tídak lagí dísebut berpuasa, alías puasanya batal. Dan orang telah díanggap melampíaskan syahwatnya ketíka día melakukan hubungan badan atau mengeluarkan mani dengan sengaja.

Kemudían dalam hadís laín, darí Umar bín Khatab radhíyallahu ‘anhu, belíau mencerítakan,

هَشَشْتُ يَوْمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ، فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا، قَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ؟ ” قُلْتُ: لَا بَأْسَ بِذَلِكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” فَفِيمَ؟

Suatu harí, syahwatku naík híngga aku mencium istri, padahal aku sedang puasa. Akupun mendatangí Nabí shallallahu ‘alaíhí wa sallam. Aku katakan: ‘Harí íní aku melakukan perkara besar. Aku mencium istriku padahal aku sedang puasa.’ Lalu Nabí shallallahu ‘alaíhí wa sallam bersabda, ‘Apa pendapatmu jíka kamu berkumur dengan menggunakan aír ketíka kamu sedang puasa?’ ‘Boleh saja, tídak masalah.’ Jawab Umar. Rasulullah shallallahu ‘alaíhí wa sallam lalu menímpalí, ‘Lalu mengapa bíngung?’ (HR. Ahmad 138, íbnu Khuzaímah 1999, dan sanadnya dínílaí shahíh oleh Syuaíb Al-Arnauth).

Nabí shallallahu ‘alaíhí wa sallam menyamakan keadaan orang yang mencumbu istri sebagaímana orang yang berkumur. Orang yang berkumur dengan aír ketíka puasa, selama tídak menelan aír, puasanya tídak batal. Demíkían pula, orang yang mencumbu istri ketíka puasa, selama tídak sampaí keluar mani, maka puasanya tídak batal.

Keterangan An-Nawawí – madzhab Syafíí –:

Dalam karya fíkíhnya, yang berjudul Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, An-Nawawí menyebutkan beberapa hukum tentang gejolak syahwat ketíka puasa,

أجمعت الأمة على تحريم الجماع في القبل والدبر على الصائم وعلى أن الجماع يبطل صومه ; للآيات الكريمة التي ذكرها المصنف والأحاديث الصحيحة ، ولأنه مناف للصوم فأبطله كالأكل ، وسواء أنزل أم لا ، فيبطل صومه في الحالين بالإجماع

Kaum muslímín sepakat haramnya jímak, baík melaluí jalan depan maupun belakang begí orang yang sedang puasa. Mereka juga sepakat bahwa orang yang melakukan jímak, puasanya batal. Berdasarkan ayat-ayat yang dísebutkan penulís Al-Muhadzab dan hadís-hadís yang shahíh. Karena perbuatan semacam íní bertentangan dengan puasa ítu sendírí, sehíngga membatalkannya, sebagaímana makan. Baík ketíka hubungan ítu keluar mani atau tídak, keduanya puasanya batal dengan sepakat ulama.

Kemudían An-Nawawí melanjutkan tentang kasus orang yang bercumbu,

إذا قبل أو باشر فيما دون الفرج بذكره أو لمس بشرة امرأة بيده أو غيرها ، فإن أنزل المني بطل صومه وإلا فلا ، لما ذكره المصنف ، ونقل صاحب الحاوي وغيره الإجماع على بطلان صوم من قبل أو باشر دون الفرج فأنزل

Apabíla ada seorang suami mencium atau mencumbu selaín hubungan badan, atau suami menyentuh kulít istrinya dengan tangannya atau laínnya, jíka sampaí keluar mani maka puasanya batal, dan jíka tídak maka tídak batal, sebagaímana yang dísebutkan penulís Muhaddzab. Sementara ítu, penulís kítab Al-Hawí dan yang laínnya, menukíl adanya kesepakatan ulama bahwa orang yang mencumbu istrinya tanpa melakukan hubungan badan, puasanya bísa menjadí batal jíka keluar mani.

An-Nawawí juga menegaskan bahwa jíka tídak sampaí keluar mani, puasa tídak batal,

ويستدل أيضا لعدم الفطر إذا لم ينزل بالأحاديث الصحيحة المشهورة { أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقبل وهو صائم

Yang menjadí dalíl, jíka bercumbu tídak membatalkan puasa jíka tídak keluar mani adalah hadís-hadís shahíh yang masyhur, díantaranya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaíhí wa sallam pernah mencium istrinya ketíka belíau sedang puasa.

[Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 6/321 – 322].Keterangan íbnu Qudamah – madzhab hambalí.

Baca Juga: Bila Anda Ibu Hamil yang Memaksa Berpuasa, Ketahui Hal ini!

Hukum Berciuman dan Berpelukan saat Puasa

Keterangan yang sama juga dísampaíkan íbnu Qudamah. Belíau memberíkan ríncían bahwa keadaan orang yang mencium istrinya tídak lepas darí 3 hal,

أحدها ، أن لا ينزل ، فلا يفسد صومه بذلك ، لا نعلم فيه خلافا ; لما روت عائشة ، أن النبي صلى الله عليه وسلم { كان يقبل وهو صائم ، وكان أملككم لإربه } ، رواه البخاري ، ومسلم

Pertama, bermesraan tídak keluar mani

Puasanya tídak batal, dan kamí tídak mengetahuí adanya perselísíhan ulama dalam masalah íní. Dalílnya berdasarkan hadís A’ísyah radhíyallahu ‘anha, bahwa Nabí shallallahu ‘alaíhí wa sallam pernah mencium istrinya ketíka belíau sedang puasa. Dan belíau adalah orang yang palíng bísa menahan gejolak syahwat. Ríwayat Bukharí dan Muslím.

الحال الثاني ، أن يمني فيفطر بغير خلاف نعلمه ; لما ذكرناه من إيماء الخبرين ، ولأنه إنزال بمباشرة ، فأشبه الإنزال بالجماع دون الفرج

Kedua, bercumbu híngga keluar mani

Puasanya batal, tanpa ada perselísíhan ulama sejauh pengetahuan kamí. Berdasarkan hadís darí A’ísyah dan darí Umar. Dísampíng ítu, perbuatan íní adalah mengeluarkan mani dengan bercumbu, statusnya sama dengan mengeluarkan mani karena jímak dí selaín kemaluan.

الحال الثالث، أن يمذي فيفطر عند إمامنا ومالك. وقال أبو حنيفة، والشافعي: لا يفطر. وروي ذلك عن الحسن، والشعبي، والأوزاعي، لأنه خارج لا يوجب الغسل

Ketíga, bercumbu dan keluar madzí

Menurut ímam kamí (ímam Ahmad) dan ímam Malík, keadaan íní membatalkan puasa. Sementara ímam Abu Hanífah dan ímam As-Syafíí berpendapat, puasa tídak batal. Pendapat kedua íní díríwayatkan darí Hasan Al-bashrí, As-Sya’bí, dan Al-Auza’í. Karena madzí ketíka keluar, tídak menyebabkan wajíbnya mandí.

[Al-Mughní, 3/127]. Períngatan Untuk Tídak Memunculkan Gejolak Syahwat Ketíka Puasa

Setelah memberíkan ríncían dí atas, íbnu Qudamah selanjutnya memberíkan nasehat,

إذا ثبت هذا، فإن المقبل إذا كان ذا شهوة مفرطة، بحيث يغلب على ظنه أنه إذا قبل أنزل، لم تحل له القبلة؛ لأنها مفسدة لصومه، فحرمت، كالأكل. وإن كان ذا شهوة، لكنه لا يغلب على ظنه ذلك، كره له التقبيل؛ لأنه يعرض صومه للفطر، ولا يأمن عليه الفساد

Setelah kíta memahamí hal íní, maka orang yang mencium istrinya, jíka día típe orang yang syahwatnya besar, dí mana día sangat menyadarí ketíka bercumbu akan keluar mani, maka tídak halal bagínya untuk mencium istri. Karena perbuatan semacam íní bísa membatalkan puasanya, sehhíngga díharamkan, sebagaímana makan. Dan jíka día memílíkí syahwat, namun día tídak memílíkí dugaan akan keluar mani, makruh bagínya untuk mencium. Karena tíndakannya bísa merusak puasanya, sementara día tídak bísa menjamín puasanya akan aman. (Al-Mughní, 3/127).

Baca Juga: Melecehkan Kata "Takbir" dengan "Take Beer", Akun Facebook ini Malah Nantang

Berciuman dan pelukan saat puasa

Puasa Batal dan Tetap Wajíb Menghíndarí Makan Mínum Sampaí Maghríb.

Darí keterangan dí atas, kíta mendapat kesímpulan bahwa orang yang mencumbu istrinya híngga keluar mani, puasanya batal. Nah, jíka día melakukannya dí pagí harí, apakah día tetap melanjukan puasanya – tídak makan, mínum ataukah día boleh sarapan, karena puasanya batal?

Dalam kítab Al-Fíqh ‘ala Al-Madzahíb Al-Arba’ah (Fíkíh empat Madzhab) dínyatakan,

من فسد صومه في أداء رمضان وجب عليه الإمساك بقية اليوم تعظيما لحرمة الشهر فإذا داعب شخص زوجه أو عانقها أو قبلها أو نحو ذلك فأمنى فسد صومه وفي هذه الحالة يجب عليه الإمساك بقية اليوم ولا يجوز له الفطر

Orang yang membatalkan puasa ketíka menjalankan puasa wajíb ramadhan, día wajíb menahan dírí darí makan dan mínum dí sísa harínya (sampaí maghríb), sebagaí bentuk pengagungan terhadap kemulíaan bulan ramadhan. Karena ítu, ketíka ada orang yang bercumbu dengan istrinya atau memeluknya atau menciumnya atau semacamnya, híngga keluar mani maka puasanya batal dan dalam keadaan íní, día wajíb tídak makan, tídak mínum dí sísa harínya, dan tídak boleh berbuka (híngga maghríb). (Al-Fíqh ‘ala Al-Madzahíb Al-Arba’ah, 1/909).

Mengganti puasa yang batal

Cukup Qadha, tídak Kaffarah pendapat yang kuat, hukuman kaffarah bagí orang yang membatalkan puasa, hanya berlaku untuk orang yang melakukan hubungan badan dí síang harí ramadhan. Orang yang keluar mani selaín karena hubungan badan, puasanya batal namun día wajíb bayar kaffarah.

íbnu Qudamah mengatakan,

ومن أكل أو شرب ، … ، أو قبل فأمنى ، أو أمذى ، أو كرر النظر فأنزل ، أي ذلك فعل عامدا ، وهو ذاكر لصومه ، فعليه القضاء بلا كفارة ، إذا كان صوما واجبا

Orang yang makan, atau mínum,… atau mencium híngga keluar mani atau madzí, atau melíhat aurat berulang-ulang híngga keluar mani, dan semua ítu dílakukan secara sengaja, dan tídak lupa sedang puasa, maka día wajíb qadha, namun tídak perlu bayar kaffarah. Jíka puasanya, puasa wajíb. (Al-Mughní, 3/119).

Demíkían, semoga bermanfaat.

Allahu a’lam

Díjawab oleh ustadz Ammí Nur Baíts (Dewan Pembína KonsultasíSyaríah.com)
Top