Pasangan Gay RI Dihukum Cambuk, Jadi 'Tontonan' Dunia

Pengadilan Syariah Islam, memvonis 2 pasangan gay asal Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan hukuman cambuk. Media-media ternama di dunia menyorot berita ini setelah mengetahuinya. Terutama Amerika Serikat yang menganggapnya sebagai hukuman ekstrim.



BACA JUGA: Gara-gara Hina Nabi, Mahasiswa UNIMED Ini Dikeluarkan dari Kampus

Dikutp dari sindonews, Salah satu dari pria tersebut menangis saat vonis dibacakan. Dia kemudian memohon keringanan hukuman.

Beberapa media asing yang mengulas hukum cambuk terhadap pasangan gay di Aceh itu antara lain, BBC dengan judul “Indonesia's Aceh: Two gay men sentenced to 85 lashes”. Kemudian, Guardian yang mengangkat judul; “Indonesian court sentences two gay men to public caning”.

Selanjutnya, media AS The Washington Post mengusung judul “Shariah court in Indonesia sentences gay couple to caning”. Beberapa media Asia dan Australia juga meramaikan pemberitaan serupa.

Jaksa penuntut, Gulmaini, mengatakan bahwa kedua pria tersebut akan dicambuk minggu depan, sebelum bulan suci Ramadan yang dimulai sekitar 25 Mei. Mereka ditangkap pada akhir Maret lalu setelah warga mencurigai mereka. Menurut laporan, keduanya masuk ke kamar sewaan tempat mereka digrebek karena berhubungan badan.

Sebuah video ponsel yang beredar online juga dijadikan bukti. Video itu menunjukkan salah satu pria dalam kondisi tanpa busana saat ditangkap. Sedangkan pria lainnya dicegah saat akan meninggalkan kamar sewaan.

Hakim Ketua, Khairil Jamal, mengatakan bahwa kedua pria tersebut terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan hubungan seks gay.

Dia mengatakan bahwa majelis hakim yang terdiri dari tiga hakim memutuskan untuk tidak menerapkan hukuman maksimal 100 cambukan. Alasannya kedua terdakwa sopan selama sidang dan bekerjasama dengan pihak berwenang.

”Sebagai Muslim, para terdakwa harus menegakkan hukum Syariah yang berlaku di Aceh," kata Jamal.

Kelompok hak asasi manusia internasional menggambarkan perlakuan terhadap pasangan itu sebagai perlakuan kasar dan memalukan. Kelompok HAM juga minta agar kedua terdakwa dibebaskan.

”Setiap manusia memiliki hak atas privasi, hak untuk memasuki hubungan konsensual, dan hak untuk perlindungan fisik,” kata Wakil Direktur Amnesty International untuk Asia Tenggara dan Pasifik, Josef Benedict, dalam sebuah pernyataan, yang dikutip Kamis (18/5/2017)
Top