Orang-Orang Bodoh Lebih Buruk dari Binatang, Karena Begitu Pentingnya Ilmu

Komentar

youtube.com

Ilmu dalam hal ini bukan hanya pendidikan formal yang dipatok dengan selembar ijazah saja. Namun bagaimana bertentangga dengan baik, dan berinteraksi dengan sesama juga ilmu yang sangat berharga, begitu pula hubungan manusia dengan Allah SWT.

Manusia bodoh dalam pandangan Islam bukanlah mereka yang tidak bisa membaca, tidak naik kelas atau tidak bisa menulis. Allah menciptakan manusia dengan kelebihannya masing-masing. Sebagian mudah menghafal, mudah memahami, mudah menjelaskan dan sebagian yang lain mudah bergaul, mudah bercerita dan banyak lagi kelebihan yang telah Allah sajikan di alam ini.

Lalu pertanyannya, siapakah orang bodoh itu? Kenapa mereka diperumpamakan seperti binatang oleh Al-Qur’an?

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS.al-A’raf:179)

Ya, ayat ini adalah jawabannya. Orang bodoh adalah mereka yang memiliki mata tapi tidak mau “melihat” dan memiliki telinga tapi tidak mau “mendengar”.

Baca Juga: Hukum Meng-Aqiqah-i Anak atau Orang Tua yang Sudah Meninggal

Lalu mengapa mereka diperumpamakan seperti binatang?

Mengutip khazanahalquran.com, salah satu pendapat menyebutkan, perumpamaan manusia dengan binatang itu disebabkan karena kehidupan mereka difokuskan untuk mengejar kelezatan dunia, memuaskan syahwat biologis, mengenyangkan perut dan banyak tidur.

Mereka bermimpi meraih kehidupan materi yang nyaman dan sejahtera dengan kilau emas ditangannya, karena mereka menganggap puncak keadilan dan kesejahteraan masyarakat itu ketika semua mampu mendapatkan makanan dan air.

Sayyidina Ali bin Abi tholib berkata,

“Seperti binatang yang diikat, hasratnya adalah makanan. Atau seperti binatang yang dilepas, yang pekerjannya adalah tujuan hidupnya.”

Dengan kata lain, satu kelompok domba diberi makanan yang disediakan pemiliknya untuk digemukkan. Sementara domba yang lain mencari makanan dan air di padang pasir. Tidak ada tujuan lain dari keduanya kecuali mengenyangkan perut.

Kecenderungan manusia yang hanya fokus untuk mengenyangkan perut dan memuaskan keinginan inilah yang membuat mereka disamakan dengan hewan, bahkan lebih buruk. Jika ambisi hewan hanya makan, memenuhi hasrat biologi dan tidur itu sangat dimaklumi karena hewan tercipta tanpa akal.

Baca Juga: "Surga nyata itu di dunia, bukan di dongeng setelah kematian" Astagfirullah

Jika ambisi manusia sama dengan hewan, mereka bahkan jauh lebih buruk dari binatang seperti disebutkan pada Q.S. Al A'raf ayat 179 diatas.

Karena itu, mari kita syukuri nikmat akal yang telah Allah berikan. Gunakan kenikmatan termahal ini untuk selalu melakukan kebaikan kepada sesama dan selalu memohon ampunan padaNya, atas semua kesalahan yang kita lakukan. Karena jika tidak, nilai kita tak lebih dari seekor hewan, bahkan lebih hina.

Dan Al-Qur’an pun telah mengabarkan bahwa kelak teriakan dari penghuni neraka adalah teriakan penyesalan.

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS.al-Mulk:10)

Semoga Allah menjauhkan kita dari derita dan penyesalan di neraka.
Top