Masihkah Dirimu Betah Menyimpan Duri? Padahal Jelas Membukanya Akan Jauh Lebih Baik!


Alquran dan sunah Nabi SAW yang banyak menjelaskan macam-macam amal ibadah dengan kedudukan dan keutamaan yang berbeda-beda. Ada yang wajib, sunah, yang asas, dan yang cabang. Selain itu, ada pula yang berfungsi sebagai rukun dan syarat sah ibadah, ada juga yang lebih tinggi kedudukannya dari ibadah yang lain.

Oleh karena itulah, ibadah yang dilakukan oleh setiap manusia, diantaranya adalah amalan-amalan yang diharapkan mampu mendapat kebaikan dari Allah SWT, sehingga bisa menjadikan pahala terus mengalir dan terhapusnya segala dosa. Diantara hal tersebut, ternyata ada amalan-amalan yang mempunyai efek berantai. Artinya kalau dia mengerjakan sesuatu akan ada akibatnya dan seterusnya sampai menuju satu arah. Perbuatan jujur dan dusta merupakan salah satu contohnya.

Artikel pilihan : Bahaya Bila Tak Sadar, Inilah Perbuatan Sepele yang Menimbulkan Dusta Besar!

Orang yang berbuat jujur akan terus berbuat jujur. Kejujurannya dalam menunaikan suatu amanat akan menghasilkan amanat yang lebih baik. Semakin dia jujur maka lingkungan akan memberikan apresiasi lebih tinggi. Akhirnya kejujuran itu akan mengantarkannya kepada surga.

Dan orang yang senantiasa jujur akan dicatat Allah sebagai orang yang jujur. Maksudnya jika sedikit saja ada kekhilafan maka Allah akan melupakannya. Demikian pula dengan dusta. Seoang yang berdusta akan berusaha menutupi dustanya dengan dusta berikutnya. Ketika dikejar kepada masalah yang sebenarnya, ia kembali berdusta sehingga tercipta sebuah cerita yang lengkap. Di situlah dustanya menjadi sempurna.

Dusta seperti itu akhirnya mengantarkan dirinya ke dalam neraka. Allah dan orang-orang baik di sekelilingnya pun akan mencapnya sebagai pendusta. Suatu ketika ada kebenaran yang dia sampaikan orang menjadi tidak percaya. Allah pun tetap mencatat dia sebagai pendusta karena seringnya ia berdusta.

Maka berhati-hatilah terhadap penyakit dusta. Sekali kita berdusta, lebih baik mengakui bahwa kita bersalah telah berdusta. Daripada kia menghindari malu, lalu kita mengarang cerita fiktif untuk melindungi dosa pertama tadi. Demikian itu kita sudah menjalani dusta kedua. Lantas orang bertanya, ia kembali mengarang cerita dan menuju ke dusta ketiga dan seterusnya. Sebelum menuju neraka, stop dulu di dusta pertama dan jadilah orang yang jujur.


Artikel pilihan : Jangan Menyalahkan Mereka yang Ingin Menikah Muda, Bahkan Setan Saja Menangisinya!

Dalam sebuah hadits disebutkan “Biasakan jujur engkau katakan karena kejujuran akan menuntunmu pada kebaikan. Lalu kebaikan akan menuntunmu menuju surga. Seorang yang jujur selalu dicatat Allah di sisi-Nya sebagai seorang hamba yang selalu berkata jujur. Berhati-hatilah kamu semua dari berkata dusta karena dusta akan mengantarkanmu pada kejahatan, dan kejahatan akan mengantarkanmu pada neraka. Seseorang yang biasa dusta dicatat Allah di sisi-Nya sebagai pendusta. (HR. Abdullah ibnu Mas’ud).

Allâh Azza wa Jalla akan menghukum orang yang suka berdusta dengan menahan dan menghalanginya dari maslahat dan manfaat. Allâh Azza wa Jalla akan membalas orang yang jujur dengan memberinya taufiq dalam melakukan amal shalih di dunia dan akhirat. Oleh karena itulah, renungkan sekali lagi dan pahami, mungkinkah kita akan berdusta dan tetap menyembunyikan duri, padahal kita tahu ketika menusuk pun duri itu akan sangat menyakitkan untuk mereka dan juga untuk diri kita sendiri.
Top