Lupa, Makan atau Minum di Awal - Awal Ramadan, ini Kata Rasulullah


Bulan Ramadan telah tiba. Saatnya seluruh umat muslim berlomba-lomba meraih pahala di bulan suci ini. Selama sebulan penuh orang Islam akan menahan lapar, haus dan hawa nafsu saat menjalankan ibadah puasa.

Oleh sebab itu hari pertama puasa paling dinanti sebagai awal memasuki bulan penuh rahmat dan ampunan. Setiap orang bersemangat menjalankan puasa di hari pertama setelah 11 bulan makan dan minum bebas setiap waktu. Namun terkadang, pada hari pertama ada beberapa orang yang lupa jika tengah berpuasa. Sehingga mereka makan dan minum seperti biasa.

Lalu apakah makan atau minum karena lupa membatalkan puasa?

Dikutip dari buku Puasa Bersama Rasulullah karangan Syekh Yusuf Qardhawi menyebut makan atau minum karena lupa bahwa dia sedang berpuasa tidak dianggap membatalkan puasanya. Dengan kata lain puasanya tetap sah.

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa makan atau minum dalam keadaan lupa, maka hendaklah dia meneruskan puasanya. Sesungguhnya Allah yang telah memberinya makan dan minum."

BACA JUGA : Menanti Datangnya Malam 1000 Bulan, Inilah Tanda-tanda Yang Paling Terasa

Rasulullah juga mengatakan bahwa orang yang makan atau minum karena lupa tengah berpuasa tidak wajib untuk menggantinya. Rasulullah bersabda, "Apabila seseorang yang berpuasa makan dalam keadaan lupa, atau minum dalam keadaan lupa, sesungguhnya itu merupakan rizki Allah yang diberikan dan tidak wajib qadha baginya."

Ibnu Qayyim menerangkan mengenai tidak wajibnya qadha bagi orang yang makan dan minum dalam keadaan lupa. "Sesungguhnya Allah lah yang telah memberinya makan dan minum. Maka makan dan minum itu tidak diniatkan perbuatan sendiri hingga membatalkan puasa. Sebab puasa hanya dapat batal dengan apa yang dikerjakan sendiri."

Lupa merupakan sifat alami dalam diri manusia sehingga tidak dapat disalahkan atas hal tersebut. Soal lupa juga diterangkan dalam surah Al Baqarah ayat 286. Allah SWT berfirman:


Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa lahaa maa kasabat wa'alaihaa maktasabat. Rabbanaa laa tu aakhiznaa in nasiinaa au akhtha-naa, rabbanaa walaa tahmil 'alainaa ishran kamaa hamal tahuu 'alal ladziina min qablinaa. Rabbanaa walaa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bih. Wa'fu 'annaa waghfir lanaa warhamnaa, anta maulanaa fanshurnaa alal qaumil kaafiriin.

"Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala kebaikan yang di usahakannya, dan ia juga menanggung dosa kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): "Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami terlupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir."
Top