Ketika Balita Mulai Suka "Pegang yang Bawah", Begini Harusnya Sikap Bunda!


Sebelum membahas topik anak suka memegang alat kelamin, kita perlu memahami terlebih dulu  mengapa si prasekolah berperilaku demikian? Secara teori, pada usia 3 - 6 tahun, anak memasuki tahapan perkembangan psikoseksual, yaitu masa falik. Pada periode ini, sumber kenikmatan dari mulut (masa oral) secara alami berpindah ke daerah kelamin. Akan tetapi, kepuasan seksual yang diperoleh pada tahap ini bukanlah masturbasi. Pada masturbasi ada keinginan atau pengharapan untuk bisa memuaskan hasrat seksual.

Artikel pilihan : Namanya Emas, Kok dalam Islam Dilarang Dipakai Mas-Mas? Ternyata Karena Ini Lho!

Jadi, pada usia ini anak belum memiliki pemikiran ke arah sana. Yang terjadi saat anak memegang alat vital, rasa ingin tahunya muncul  sehingga apa pun dia eksplorasi, termasuk alat kelaminnya. Ia berusaha mengamati organ seks miliknya dengan memegang-megang, menggaruk-garuk, bahkan memperlihatkan  alat kelaminnya kepada orang lain. Sekali lagi, bukan untuk kenikmatan, namun sekadar menuruti keingintahuannya, “Ini namanya apa, ya?”; “Apakah ayahku punya juga?”, dan lainnya.

Karena pada umumnya anak akan mencari sesuatu yang bisa membuatnya nyaman dan terkadang akan marah jika hal ini diganggu oleh orang lain. Orangtua tak perlu bingung atau panik jika anak punya kebiasaan ini. Ada kalanya kedapatan anak kita yang seusia 3-6 tahun menonton televisi sambil tangannya memegang dan memainkan alat këlamiñnya.

Lantas sebagai orang tua, apa sebaiknya yang harus kita lakukan?


Anak usia 3 – 6 tahun memperoleh kenikmatan dari sentuhan pada alat genitalnya. Fase phalic ini merupakan bagian dari proses perkembangan anak seperti halnya perkembangan motorik dan verbal. Fase ini biasanya berhenti di usia 6 tahun.

Saat melakukan kegiatan tersebut, tidak ada orientasi dan fantasi sesksual dalam pikiran si anak. Sedangkan pada orang dewasa, masturbasi disertai dengan fantasi seksual.

Anak jangan dimarahi atas “kegiatannya” tersebut dan jangan panik saat memergoki si kecil memainkan alat këlamiñnya. Karena respons yang keliru akan berpengaruh hingga mereka besar.


Artikel pilihan : Bunda Tak Usah Risau, Ini Lho 4 Kegiatan Seru untuk Ngabuburit Si Kecil Ramadhan Nanti!

Justru ini merupakan salah satu momentum bagi orang tua untuk memberikan pendidikan seks kepada anak. Perkenalkan alat këlamiñ dan namanya, ajarkan cara menjaga kebersihan alat këlamiñ, jelaskan bagaimana adik bayi bisa lahir.

Jelaskan secara terbuka dan alamiah serta ilmiah (jangan dianggap kotor). Rasa ingin tahu yang tidak terjawab justru bisa mendorong anak untuk mencari informasi dari sumber lain yang belum tentu benar dan baik.

Gunakan nama sebutan alat këlamiñ dan anggota tubuh yang sebenarnya. “Penis” bukan “burung”, “payudara” bukan “susu”. Masyarakat sering menganggapnya vulgar padahal jika kita tidak memberikan sebutan yang benar di kemudian hari dapat menimbulkan kebingungan pada anak.

Jelaskan misalnya, “Kalau laki-laki punya penis, fungsinya untuk pipis, bukan buat mainan. Kalau dipegang-pegang dan dibuat mainan, bisa lecet dan luka. Nanti sakit kalau pipis.”

Dengan demikian, anak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan, dan tahu cara memperlakukan alat vitalnya. Bagaimana menurut bunda?
Top