Ketahui Arti Idul Fitri, Jangan Sampai Hanya Tentang Ketupat dan Opor Saja!


Sebentar lagi umat Muslim di seluruh dunia akan segera memasuki bulan suci Ramadhan, dimana bulan suci ini memang sudah dinantikan dari sejak berakhirnya Ramadhan tahun lalu. Oleh karena itulah, ketika bulan puasa tersebut tinggal menghitung hari, maka yang ada hanyalah perasaan suka dan lapang dada untuk menyambutnya.

Berbicara mengenai bulan Ramadhan, setelah kiranya 30 hari atau genap satu bulan lamanya umat Islam menunaikan ibadah wajib berpuasa, dimana harus menahan haus dan lapar, serta hawa nafsu yang sering tak terkontrol. Maka, saat hari kemenangan itu tiba, kita semua pun bisa merayakannya karena telah berjuang menuju kemenangan sampai pada hari yang fitri tersebut.

Also read : Waktu Shalat Masih Nanti-nanti? Awas Hidupmu Berantakan Sendiri Lho!

Lantas, apa yang biasanya ada atau syarat dengan nuansa idul fitri? Benar, jawabannya adalah baju baru, angapau, kue-kue dan manisan, hingga yang paling khas yakni ketupat.

Namun, meski identik dengan Idul Fitri, ketupat bukanlah esensi dari hari raya tersebut. Apalagi yang identik dengan Lebaran? Memakai baju baru, setidaknya untuk anak-anak. Namun, untuk mereka yang lebih dewasa, setelah berpuasa sebulan penuh, Idul Fitri seyogyanya memiliki makna yang lebih dari sekadar makna duniawi.

Menyucikan diri dengan berpuasa selama bulan Ramadan sebaiknya ditutup tidak dengan pesta pora atau kalap menyantap segala hidangan. Justru, semakin menyadari bahwa berpuasa adalah salah satu jalan untuk membuka mata tentang banyak hal. Bukankah demikian?

Ada baiknya, sebagai orang yang telah dewasa, memberi contoh makna puasa dan Lebaran kepada anak-anak. Bahwa puasa dan Lebaran bukanlah waktunya untuk beriang gembira. Boleh saja, tetapi ada batasnya.

Sebaiknya beri contoh kepada anak-anak bahwa Lebaran adalah saat untuk memaafkan. Ajari mereka menghormati orang yang lebih tua. Ajari anak-anak untuk meminta maaf kepada yang lebih tua, terutama orangtua. Tentunya, dengan cara yang khusyuk, sekhusyuk ketika melakukan ibadah salat.


Also read : Ketika Kesulitan Menjadi Penghalang untuk Menolong Sesama, Seringkah?

Ajak juga anak-anak bersilaturahmi ke rumah tetangga. Jangan tinggal mereka di rumah, sementara hanya Anda dan suami yang berkeliling. Jika diajari sejak dini, kebiasaan itu akan terbawa ketika mereka dewasa nanti.

Satu lagi, ajari juga anak untuk memaafkan. Contohnya, anak Anda memiliki teman yang berbuat jahil. Ketika berlebaran, jika si teman tersebut meminta maaf, segera minta anak Anda untuk membalas salam dan kemudian sama-sama meminta maaf.

Jika anak-anak sudah memahami makna sebenarnya dari Idul Fitri, mereka akan mengerti pula bahwa hari tersebut bukanlah sekadar hari untuk berbaju baru atau makan ketupat sebanyak-banyaknya. Jadi bagaimana bunda? Yuk ajari anak untuk menjadi lebih baik dan berharap kelak ia mengerti bahwa idul fitri itu maknanya jauh lebih dari angpau dan makan banyak kue ataupun cemilan lain. Namun lebih dari itu, karena idul fitri pula lah, kita bisa merasakan bagaimana rasanya kemenangan yang hakiki.
Top