Karena Saya Sebagai Wanita Tahu, Menjadi Seorang Pria Itu Tidaklah Mudah


Mungkin kalian yang wanita pernah merasa bahwa menjadi seorang wanita adalah hal yang paling sulit di dunia ini, apalagi jika berbicara mengenai bagaimana rasanya hamil, menjadi ibu, dan juga mengurus pekerjaan rumah yang begitu banyaknya. Mungkin ada benarnya, bisa juga tidak. Karena aku yang wanita ini sekarang sudah mengerti, ternyata tidaklah mudah untuk menjadi seorang pria seperti dirinya.

Ya, dia yang sekarang telah memilikiku dengan segenap cinta dan niat tulusnya di hadapan Allah SWT dan kedua orang tua kami. Dialah yang sekarang bisa aku panggil sebagai suamiku yang terkasih. Lantas, apakah memang benar menjadi pria itu tidaklah mudah?

Artikel pilihan : Ketahui Arti Idul Fitri, Jangan Sampai Hanya Tentang Ketupat dan Opor Saja!

Ya, hampir sebulan ini, suami saya sibuk sekali. Biasanya kalau pulang kerja, dia pasti berburu game. Kalau weekend atau tanggal merah, juga pasti main game. Nah hampir sebulan ini gamenya membeku, tidak disentuh. Suami saya seorang programmer, spesialis di bidang mobile aplikasi. Tapi dia sering rendah hati menyebut dirinya sebagai tukang ketik. Tidak seperti istrinya yang agent asuransi namun sering tinggi hati menyebut dirinya sebagai malaikat tanpa sayap, haha

Dari dulu sampai sekarang, saya tidak pernah paham tentang pekerjaannya. Jika kupandang laptopnya, rasanya semua yang terpampang di layar sama semua. Berisi kode-kode a la programmer. Terlalu teknikal sekali buat saya yang terbiasa bekerja di dunia marketing. Maka dari itu saya bisa minta pendapatnya jika terkait pekerjaan saya, sedangkan dia tidak bisa minta pendapat saya jika terkait pekerjaannya.

Hari ini libur nasional Idul Adha dan suami saya kembali berkutat dengan kode-kode di laptop-nya. Saya menyetrika pakaian sambil sesekali melihat padanya yang begitu serius di depan laptop. Saya jadi berfikir bahwa suami saya ini hampir tidak pernah mengeluh sesibuk apapun beban pekerjaan yang dia tangani. Beda sekali dengan saya yang gemar berceloteh.

Saya jadi ingat beberapa hari yang lalu saya posting foto setrikaan yang menggunung dan ngedumel soal itu. Suami saya memang jarang sekali membantu pekerjaan rumah tangga, tapi saya bersyukur bahwa dia hampir tidak pernah menegur bahkan marah jika rumah dalam keadaan kotor atau berantakan. Mungkin dia tidak ingin membuat saya bertambah pusing. Hal simple seperti itu sudah cukup membuat hati saya nyaman.

Saya tahu banyak sekali wanita yang sering menganggap dirinya menanggung beban berat dalam hidup entah itu ibu rumah tangga atau wanita menikah yang juga berkarir. Sesekali saya juga merasakan hal yang sama. Rasanya ingin teriak “Hey, tidak mudah menjadi wanita!

Tapi saya sadar menjadi pria pun tidak mudah. Sebagai kepala keluarga mereka memikul beban tanggungjawab financial yang semakin hari semakin berat. Dunia kerja begitu kompleks. Persaingan semakin ketat. Mereka perlu memutar otak dan bekerja sangat giat untuk dapat memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga tercinta.

Saya punya beberapa kenalan teman pria yang terpaksa harus bekerja di luar kota bahkan di luar negeri demi istri dan si buah hati. Saya yakin mereka sebenarnya merasakan kesedihan tidak dapat berkumpul setiap waktu dengan keluarga.

Apalagi jika hari ulang tahun atau hari raya tidak dapat pulang. Merindukan masakan istri, merindukan tangis dan tawa si kecil, juga merindukan suasana di negeri sendiri. Kalau boleh mengeluh, saya yakin mereka juga ingin sekali melakukannya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa wanita kerap rempong dengan hal remeh temeh. Suami lembur atau telat pulang, diinterogasi! Suami terima telp dari partner atau client perempuan, dicurigai! Suami sibuk kerja dan tidak bisa ajak liburan di long weekend, dingambeki! Suami lelah dan tidak bisa bantu pekerjaan rumah, dimarahi, dan sebagainya.


Artikel pilihan : Karena Kini Akulah Pengganti Kedua Orang Tuamu, Inilah Niatku Untukmu Istriku

Dengan memahami bahwa menjadi pria ternyata juga tidak mudah, saya sangat berusaha untuk tidak membuat suami saya bertambah pusing dengan hal-hal sepele. Kalau saya tidak bisa membantu meringankan pekerjaannya, maka saya berusaha untuk tidak mempersulitnya. Sesekali saya juga menghiburnya dengan jokes. Senang dapat melihatnya tiba-tiba tersenyum ketika dahinya berkerut di depan laptop.

Aku akan selalu berdoa untuk kesehatan dan juga keselamatannya. Sehingga dia bisa menemaniku dan anak-anak kami nanti hingga sampai pada waktu mereka bisa bahagia sendiri bersama kehidupannya yang baru. Dari istrimu.

(Sebuah ulasan dari seorang wanita yang hebat, dan mempunyai suami yang luar biasa pula. Untuk kalian para wanita yang mungkin belum ataupun sudah mempunyai pendamping di sana. Sudahkah kalian duduk sejenak dan mulai mendengarkan apa saja keluh kesah suami hari ini?).
Top