Karena Ketika Dirimu Seperti Ini, Tandanya Derajatmu Sama dengan Malaikat Allah!

Komentar

Mungkin bagi sebagian orang yang menganggap bahwa malaikat adalah sesosok makhluk yang sempurna amal kebaikannya karena selalu beribadah kepada Allah SWT dan tak pernah mempunyai celah sedikitpun akan keburukannya. Berbeda dengan manusia yang memang diciptakan dalam wujud yang paling sempurna namun masih memiliki nafsu. Sehingga bisa jadi amalan kebaikan yang dilakukan akan terhapus hanya karena manusia tersebut melampiaskan nafsunya.

Artikel pilihan : Karena Ada Manusia yang Tak Berpuasa dan Allah Pun Memakluminya! Siapakah Dia?

Akan tetapi, manusia juga dibekali Allah SWT dua hal berupa akhlak dan juga perasaan. Sehingga ketika kedua hal tersebut lebih sering digunakan daripada nafsu, maka bisa jadi derajat seseorang mampu menjadi sama daripada para malaikat yang tak pernah berhenti untuk beribadah.

Layaknya kisah berikut ini, yang mana inilah sebuah gambaran ketika seorang manusia mampu membuat derajatnya sama layaknya para malaikat yang ada di surga. Kisah seorang laki-laki yang mungkin bisa menyadarkan kita arti dari sebuah kesabaran.

Laki-laki ini berjalan gontai di malam gulita. Menyusuri setiap jalan dan gang sempit. Tanpa arah. Hanya mengikuti langkah kaki dan nuraninya. Asal jalan. Asal ke depan. Asal tak kembali ke belakang. Terus seperti itu.

Entah setelah langkah ke berapa, ia seperti menemukan jawaban atas rasa lapar yang menderanya. Terlihat sebuah rumah. Ada tanda-tanda kehidupan dan makanan di dalamnya. Lebih menjanjikan ketika pintu rumahnya terbuka. Dia pun mendekat dengan optimisme yang terus naik ke ubun-ubun.

Pikirnya, dia akan segera mendapatkan makanan. Rasa lapar akan serta-merta pergi.

Dia pun masuk. Meneliti ke segenap penjuru. Lalu kakinya melangkah menuju ruang makan. Dengan mengendap-endap agar tak ketahuan sang pemilik rumah, dia membuka penutup makanan. Dan terlihatlah makanan-makanan yang menerbitkan liur.

Namun, dia urung menyentuh sajian itu. Ia teringat petuah guru ruhaninya agar tidak menyentuh apalagi memakan yang bukan haknya.

Dia pun pergi. Masih dengan langkah gontai, tapi harapannya akan rahmat Allah Ta’ala kian bertambah.

Malangnya, ketika langkahnya belum genap beberapa puluh meter, ada godaan lain yang lebih dahsyat. Sang pemilik rumah yang ternyata seorang perempuan cantik tengah tertidur pulas. Syahwatnya timbul. Setan berbisik, “Segera gauli. Mumpung dia tertidur pulas.”

Bukan main godaan laki-laki ini. Setelah lapar terbitlah peluang melampiaskan syahwat. Agak lama, dia terdiam. Berpikir berkali-kali. Ada pertempuran dahsyat yang terjadi di benaknya.


Artikel pilihan : Benarkah Siksa Kubur Akan Berhenti Ketika Ramadhan Tiba?

Namun, imannya gagah. Kokoh. Tak tergoyahkan. Ia masih mengingat pesan agung guru spiritualnya untuk tidak menyentuh atau menikmati segala yang bukan haknya.

Dia pun berjalan hingga sampai di masjid. Tertidur dalam lapar dan menahan syahwat hingga Subuh menjelang.

Saat masuk waktu Dhuha, laki-laki ini hanya tiduran di masjid. Hingga datanglah seorang perempuan yang mengadu kepada Nabi Muhammad. Kata si wanita, semalam ada yang mendatangi rumahnya meski tiada satu pun barang yang hilang. Rupanya, wanita itu janda.

Nabi mendatangi si laki-laki. Setelah tahu bahwa dia belum menikah, beliau yang mulia menikahkan laki-laki itu kepada janda yang datang mengadu.

Dan betapa tergugunya si laki-laki dalam tangisnya yang tak kuasa dibendung hingga semua yang berada di masjid merasa bingung. Termasuk si wanita.

Setelah emosinya stabil, laki-laki ini mengaku. Dialah yang semalam masuk ke rumah si wanita, tapi tidak mengambil apa pun atau melakukan sesuatu pun karena takut kepada Allah Ta’ala.

Sahabat, pernah mengalami kisah serupa ini? Jika pernah, dengarlah janji Allah Ta’ala dalam salah satu hadits qudsi, “Engkau bagi-Ku laksana para malaikat-Ku.”

Ialah orang-orang yang mampu menahan gejolak nafsu karena mengharap ridha dan surga-Nya Allah Ta’ala.
Top