Istri Sering Ditinggal Bekerja? Padahal Ini Batas Waktunya

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap suami untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya. Tak heran jika suami lebih banyak menghabiskn waktunya untuk bekerja daripada di rumah. Apalagi pekerjaan suami yang mengharuskannya jauh dari rumah.



BACA JUGA: Sebuah Surga Allah Saat Ibu Keguguran

Saat itu terjadi, pasti ada rasa rindu dari sang istri dan juga anak yang dia tinggalkan. Oleh karena itu, ketahuilah batas waktu untuk bekerja. jangan sampai pekerjaan membuat kita terlena, hingga meninggalkan istri dan anak kita.

Allah memerintahkan para suami untuk bergaul dengan istrinya sebaik mungkin. Sebagaimana Allah perintahkan para istri untuk mentaati suaminya sebaik mungkin. Allah berfirman, “Pergaulilah istri kalian dengan cara yang makruf,” (QS. an-Nisa: 19).

Dikutip dari ruang muslimah, Islam mengajarkan untuk memberi perhatian pada istri. Jika ditinggalkan terlalu lama, itu menandakan pelanggaran rumah tangga, iyakan?  Melihat latar belakangnya, suami yang meninggalkan istrinya ada dua keadaan;

Pertama, meninggalkan keluarga karena udzur. Udzur yang dimaksud bisa bentuknya mencari nafkah atau karena kebutuhan lainnya. Dalam kondisi suami punya udzur, istri tidak berhak menuntut suami untuk segera pulang atau hak melakukan hubungan badan. Ini merupakan pendapat madzhab Hambali

Al-Buhuti menjelaskan, “Ketika suami melakukan safar meninggalkan istrinya karena udzur atau ada hajat, maka hak gilir dan hubungan untuk istri menjadi gugur. Meskipun safarnya lama, karena udzur,” (Kasyaf al-Qana’, 5/192).

Namun jika istri keberatan, dia berhak untuk mengajukan cerai. Dan suami berhak untuk melepas istrinya, jika dia merasa tindakannya membahayakan istrinya. Allah berfirman, “Janganlah kamu pertahankan mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka,” (QS. al-Baqarah: 231).

Kedua, meninggalkan keluarga tanpa udzur. Suami yang safar meninggalkan keluarga tanpa udzur, istri boleh menuntut untuk segera kembali pulang. Karena ada hak istri yang harus dipenuhi suaminya. Para ulama menyimpulkan, batas maksimalnya adalah 6 bulan. Jika lebih dari 6 bulan, istri punya hak untuk gugat di pengadilan.

Al-Buhuti mengatakan, “Jika suami safar tidak memiliki udzur yang menghalangi dia untuk pulang, sementara dia pergi selama lebih dari 6 bulan, lalu istri nuntut agar suami pulang, maka wajib bagi suami untuk pulang,” (Kasyaf al-Qana’, 5/193).

Ibnu Qudamah menyebutkan riwayat dari Imam Ahmad, “Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya, ‘Berapa lama seorang suami boleh safar meninggalkan istrinya?’ Beliau menjawab, ‘Ada riwayat, maksimal 6 bulan’,” (al-Mughni, 8/143).

Batas 6 bulan itu berdasarkan ijtihad Amirul Mukminin, Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘Anhu. Sebagaimana Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma bercerita, “Ketika malam hari, Umar berkeliling kota. Tiba-tiba beliau mendengar ada seorang wanita kesepian bersyair,

Malam yang panjang, namun ujungnnya kelam

Yang menyedihkan, tak ada kekasih yang bisa kupermainkan

Demi Allah, andai bukan karena Allah yang mengawasiku

Niscaya dipan-dipan ini akan bergoyang ujung-ujungnya

Umar menyadari, wanita ini kesepian karena ditinggal lama suaminya. Dia bersabar dan tetap menjaga kehormatannya. Seketika itu, Umar langsung mendatangi Hafshah, putri beliau, ‘Berapa lama seorang wanita sanggup bersabar untuk tidak kumpul dengan suaminya?’ Jawab Hafshah, “Enam atau empat bulan.”

Kemudian Umar berkomitmen, ‘Saya tidak akan menahan pasukan lebih dari batas ini’,” (HR. Baihaqi dalam al-Kubro no. 18307).

Lalu Umar memerintah suaminya untuk pulang. Dan beliau juga menetapkan, bahwa pasukan maksimal boleh keluar selama 6 bulan. Perjalanan berangkat 1 bulan, di lokasi perbatasan 4 bulan, dan perjalanan pulang 1 bulan. Wallahu a’lam.
Top