Inilah Bagaimana Wanita yang Menunda Mandi Besar Setelah Haid di Bulan Puasa!


Karena Perempuan di dalam Islam sangatlah diistimewakan oleh Allah SWT, sehingga ketika bulan suci Ramadhan tiba dan tamu setiap bulan para wanita tersebut datang, maka Islam pun menganjurkan untuk tak berpuasa dan bisa diganti di hari lain. Lantas muncul sebuah pertanyaan seputar haid dan puasa wanita, bolehkah mandi wajib selepas matahari terbit?

Also read : Akad Nikah, Benarkah Mempelai Wanita Harus Disandingkan dengan Calon Suaminya?

Ketika sedang haid atau nifas, seorang muslimah tidak diperbolehkan melaksanakan puasa. Ia baru boleh puasa setelah dalam keadaan suci. Namun bagaimana jika ada seorang muslimah yang sampai malam hari masih mengalami haid sedang ketika menjelang subuh harinya sudah berhenti, dan ia tidak sempat melaksanakan mandi wajib. apakah diperbolehkan melakukan mandi wajib selepas subuh dan berpuasa?

Menurut Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, jika saja ada wanita yang yakin suci dari haidh dan sudah berniat puasa sebelum Shubuh, walaupun tinggal semenit lagi akan masuk Shubuh, puasanya tetap sah walau ia belum sempat mandi besar (mandi wajib) kecuali setelah masuk Shubuh ketika ingin melaksanakan shalat Shubuh.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, muslimah tersebut harus yakin bahwa ia telah suci. Tidak ada keraguan lagi untuk menjalankan puasa. Karena salah satu syarat diterimanya puasa adalah harus dengan niat yang yakin, tidak boleh ada ragu-ragu.

Sebagaimana dikatakan Syaikh rahimahullah, ketika ada yang bertanya mengenai perempuan yang ragu-ragu untuk berpuasa karena belum mandi wajib, ia pun menjawab, “Puasanya tidak dianggap. Puasa ketika itu wajib diqadha’ (diganti). Karena asalnya haidhnya masih ada dan ketika itu masuk puasa dalam keadaan tidak yakin sudah suci. Padahal untuk masuk puasa harus dalam keadaan yakin suci. Itulah yang menyebabkan puasanya tidak dianggap.

Perkara menunda mandi wajib saat hendak berpuasa ini pernah dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.” (HR. Muslim, no. 1109)


Also read : Bukan Sebuah Beban, Puasa Itu Perisai Muslim dari Banyaknya Keburukan!

Kesimpulannya perempuan yang telah yakin haidnya berhenti sebelum waktu subuh, diperbolehkan berpuasa walaupun belum melaksanakan mandi wajib. Dan ia harus segera mandi wajib untuk melaksanakan shalat subuh.

Pernah terdengar jika ada sebagian wanita yang telah suci setelah terbit fajar atau sebelumnya, tetapi dia tidak segera mandi hingga setelah matahari terbit dengan alasan bahwa dia ingin mandi dengan sempurna, lebih bersih dan lebih suci.

Cara semacam ini salah, baik di bulan Ramadhan, maupun di luar Ramadhan, karena yang wajib dilakukannya adalah segera mandi dan shalat pada waktunya. Dia harus segera mandi wajib agar bisa melaksankan shalat. Jika dia ingin lebih bertambah suci dan bersih setelah matahari terbit, maka dia bisa mandi lagi setelah itu.

Seperti wanita haid ini, jika ada wanita junub dan belum mandi kecuali setelah terbit fajar, maka tidak apa-apa dan puasanya sah. Begitu juga seorang laki-laki yang junub dan belum mandi kecuali setelah terbit fajar dan dia puasa, maka hukumnya boleh, karena dijelaskan dalam sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwas beliau menemui waktu fajar dalam keadaan junub karena menggauli isterinya, lalu beliau puasa dan mandi setelah terbit fajar (HR. al-Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam.
Top