Faktor Utama Penyebab Rizki Kita Tersumbat, Banyak yang Tidak Sadar Soal ini!

Komentar

Mungkin kita seringkali seret sama rezeki, bener kan? Kadang-kadang kita bingung sebenernya kenapa sih Yang Maha Kuasa tidak mengabulkan doa/keinginan kita, apa Tuhan mau nguji kita atau Tuhan udah enggak sayang sama kita ?

Jangan pernah ngomong gitu. Tuhan memang selalu memberikan yang terbaik buat kita-kita orang, “tapi kok udah banting tulang kerja seharian hidup tetep gini2 aja (gerutu agan, hihihi)”.

Sebenernya Tuhan bukan tidak mau mengabulkan doa atau mewujudkan keinginan kita, justru kitalah yang tidak mau mematuhi hukum-hukum Dia yangg disebut hukum LOA (Law of Attraction).

Ingatlah, doa itu terkait erat dengan LOA. Terbukti, orang atheis sekalipun dapat mewujudkan impiannya, semata-mata karena ia mematuhi hukum-hukum LOA.

BACA JUGA : Ketika Kau Kesal dengan Kekasihmu Marahlah, Tapi Ikuti Cara Marah Menurut Islam Berikut

LOA = Hukum Tarik-Menarik (Law of Attraction) yang intinya kulang lebih seperti ini: apa yang anda pikirkan, itulah yang semesta berikan. Boleh juga dibilang, pikiran Anda-lah yang menarik segala sesuatu itu terjadi.

Saat kita berusia 1 tahun
Orangtua memandikan dan merawat kita. Sebagai balasannya, kita malah menangis di tengah malam.

Saat kita berusia 2 tahun
Orangtua mengajari kita berjalan. Sebagai balasan, kita malah kabur ketika orangtua memanggil kita.

Saat kita berusia 3 tahun
Orangtua memasakkan makanan kesukaan kita. Sebagai balasannya, kita malah menumpahkannya.

Saat kita berusia 4 tahun
Orangtua memberi kita pensil berwarna. Sebagai balasannya, kita malah kita malah mencoret-coret dinding dengan pensil tersebut.

Saat kita berusia 5 tahun
Orangtua membelikan kita baju yang bagus-bagus. Sebagai balasannya, kita malah mengotorinya dengan bermain-main lumpur.

Saat kita berusia 10 tahun
Orangtua membayar mahal-mahal uang sekolah dan uang les kita. Sebagai balasannya, kita malah malas2an bahkan bolos.

Saat kita berusia 11 tahun
Orangtua mengantarkan kita ke mana2. Sebagaii balasannya, kita malah tidak mengucapkan salam ketika keluar rumah.

Saat kita berusia 14 tahun
Orangtua pulang kerja dan ingin memeluk kita. Sebagai balasannya, kita malah menolak dan mengeluh, “Papa, Mama, aku sudah besar!”

Saat kita berusia 17 tahun
Orangtua sedang menunggu telepon yg penting, sementara kita malah asyik menelepon teman-teman kita yang tidak penting.

Saat kita berusia 18 tahun
Orangtua menangis terharu ketika kita lulus SMA. Sebagai balasannya, kita malah berpesta semalaman dan baru pulang keesokan harinya.

Saat kita berusia 19 tahun
Orangtua membayar biaya kuliah kita dan mengantar kita ke kampus pada hari pertama. Sebagai balasannya, kita meminta mereka berhenti jauh2 dari gerbang kampus.

Saat kita berusia 22 tahun
Orangtua memeluk kita dengan haru ketika kita wisuda. Sebagai balasan, kita malah bertanya kepadanya, “Papa, Mama, mana hadiahnya? Katanya mau membelikan aku ini dan itu?

Saat kita berusia 23 tahun
Orangtua membelikan kita sebuah barang yg kita idam2kan. Sebagai balasan, kita malah mencela, “Duh!Kalau mau beli apa2 untuk aku, bilang2 dong pah!”

Saat kita berusia 27 tahun
Orangtua membantu membiayai pernikahan kita. Sebagai balasan, kita malah pindah ke luar kota, meninggalkan mereka dan menghubungi mereka hanya dua kali setahun.

Saat kita berusia 30 tahun
Orangtua memberi tahu bagaimana merawat bayi. Sebagai balasan, kita malah berkata,”Papa, Mama zaman sekarang sudah beda. Nggak perlu lagi cara2 kaya dulu.”

Saat kita berusia 40 tahun
Orangtua sakit2an dan membutuhkan perawatan. Sebagai balasan, kita malah beralasan,”Papa, Mama, aku sudah berkeluarga. Aku punya tanggung jawab terhadap keluargaku.”

Dan entah kata-kata apalagi yang pernah kita ucapkan kepada orangtua kita. Bukan mustahil, itu yang menyumbat rezeki dan kebahagiaan kita selama ini.

Ane sadar gan, selama ini ane banyak nentang orang tua. Ane merasa lebih have fun sama temen2 ane daripada sama orang tua.

Padahal orang tua lah yg sebenernya paling care sama kita, kebutuhan apa pun selalu mereka usahakan untuk kita. Tapi apa balesan ane, selama ini cuma nyusahin mereka aja gan. Tapi ane selalu berharap suatu saat ane mau berangkatin mereka ke tanah suci. Amin.

Mungkin ada benernya juga sih gan, kadang usaha ane juga tersendat-sendat. Setelah ane pikir2, mungkin ane perlu pendekatan lebih kepada orang tua. Pepatah abadi juga mengatakan, “surga ada di bawah telapak kaki ibu”.

Jadi.. semoga kita2 semua mau berubah ya gan untuk selalu berbakti pada orang tua kita, seburuk apa pun mereka, tetap mereka adalah yg membuat kita terlahir ke dunia ini dan mereka lah yg mengajari kita ketika kita tidak tahu apa-apa.
Top