Cara Ampuh Menasehati Anak agar Menuruti OrangTuanya


Seburuk apapun yang dilakukan orangtua saat ini, pasti menginginkan anaknya menjadi orang yang baik

Sudah menjadi kewajiban orangtua untuk menasehati anaknya dalam semua hal tentang kebaikan. Karena tak ada orangtua yang ingin anaknya terjerumus pada hal-hal yang buruk, kemaksiatan yang penuh nista meski seburuk apapun kelakuan orangtuanya.

Selain itu nasehat menasehati adalah perbuatan yang terpuji dalam Islam.

Mengenai hal itu Allah nyatakan secara tegas dalam Al-Qur’an bahwa diantara orang yang tidak merugi dalam hidupnya  adalah orang yang suka memberi nasehat.

وَالْعَصْرِ () إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ() إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Baca Juga: Tanda Kiamat, Saat Banyak Orang Mencari Uang Modal Bicara dan Membual

Tapi pada kenyataanya, memberikan nasehat kepada oranglain itu tak MUDAH.

Untung-untung cuma tidak didengarkan, parahnya ketika nasehat yang diberikan malah dibantah, dilawan dan diacuhkan. Ironis bukan?

Bukan saja oranglain, terkadang anak-anak atau siwa saja juga demikian kronis perilakunya.

Ada yang perlu diperhatikan oleh setiap orang yang ingin memberi nasehat, baik itu berupa guru yang hendak menasehati siswa-siswanya, orang tua kepada anak-anaknya.

Baca Juga: Meski Aku Bukan Aisyah ataupun Siti Khadijah, Aku Selalu Berusaha untuk Menjadi Istri Sholehah

Bahkan suami kepada istrinya dan kepada siapa saja yang hendak menasehati orang lain, sebab pekerjaan memberi nasehat itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Berkaitan dengan hal itu, rupanya Al-Quran telah memberi petunjuk terhadap hal yang harus diperhatikan pertama kali ketika hendak menasehati yaitu apakah si pemberi nasehat sudah memaafkan kesalahan orang yang dinasehati? Akan hal itu Allah berfirman dalam Al-Qur’an,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ

“Jadilah engkau (seorang) pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan …” (Q.S. Al A’raf : 199)

Tentunya isyarat untuk memaafkan sebelum menasehati yang diajarkan Al-Qur’an sangatlah logis, sebab logikanya ketika orang yang sedang diberi nasehat dalam keadaan berbuat salah, sedang kesalahan itu adalah dosa yang membuat hati keras, maka ketika itu nasihat sebaik apapun tidak akan pernah berpengaruh.

Maka hal yang perlu dilakukakan pertama kali adalah melunakkan hati orang yang dinasehati terlebih dahulu. Cara melunakkannya adalah memaafkan kesalahannya setelah itu baru dinasihati.

Sebab jika tidak dimaafkan terlebih dahulu, hati mereka akan semakin keras dan ketika hati keras sebaik apapun nasihat akan seperti angin lalu. Jadi memafkan sebelum menasehati adalah kunci petama kesuksesan dalam memberi nasehat.
Top