Bunda, Inilah 3 Cara Melatih Anak Untuk Berpikir Mandiri




Sahabat, hati siapa yang tidak miris saat menyaksikan para pelajar terlibat tawuran, melecehkan antar teman, atau tenggelam mengonsumsi obat terlarang? permasalahan yang cukup kompleks untuk diserahkan pemecahan dan solusinya hanya kepada sekolah. Sedangkan pendidikan nasional juga belum sepenuhnya bebas dari persoalan mendasar yang mengikat dirinya.

Maka, harapan dan pertahanan yang paling utama berada di rumah kita masing-masing. Ayah dan ibu adalah figur utama bagaimana anak-anak memahami, mecerna, dan menyikapi setiap kejadian di sekitarnya.

Anak-anak perlu dibekali soft skills agar berdaulat terhadap setiap keputusan yang diambilnya. Jika anak-anak tidak belajar cara berfikir sendiri – disebabkan oleh orang tua yang mengambil alih jalan berpikir mereka – dikhawatirkan cara berpikir "dari luar" akan menuntunnya.

Sahabat, anak-anak perlu belajar soft skills, tiga keterampilan berikut ini, dengan bimbingan orang tua agar mereka memiliki kecakapan dan kemandirian berpikir.

1. Belajar berpikir untuk diri sendiri

Respon yang lembut dan bersahaja atas keputusan yang diambil anak merupakan dasar membangun cara berpikir mandiri. Kedaulatan berpikir diawali oleh sikap menghargai, meskipun untuk kasus tertentu terkadang anak mengambil keputusan yang belum tepat. Pintu dialog pun terbuka. Kita tidak perlu menghakimi kesalahan itu.

Mengetahui latar belakang dan alur berfikir mengapa ia mengambil keputusan yang tidak tepat, pasti bermanfaat untuk menemukan “titik lemah” cara berpikirnya. Nah, kita memperkuat titik lemah itu dengan logika, perspektif, cara pandang yang utuh yang kadar dan taraf berpikirnya disesuaikan dengan usia anak.

BACA JUGA : Penting, Tamankanlah 5 Sifat Ini Apabila Anak Sudah Berusia 5 Tahun

Apa hasilnya? Anak merasa menjadi pribadi yang dihargai, percaya diri, kesadaran dan citra diri yang positif. Perangkat mental agar anak berdaulat dengan sikap berpikirnya.

2. Melatih anak menerima konsekuensi atas pilihannya

Sahabat, adakalanya anak perlu dihadapkan pada resiko bertaraf rendah untuk melatih konsekwensi dari apa yang sudah dipilihnya. Terus menerus berlindung pada sikap tidak tega anak menderita memang naluri setiap orangtua. Namun, menghadapkan anak pada dialektika sebab akibat dalam kasus yang sederhana akan melatih cara berpikir bahwa setiap pilihan memiliki akibat logis.

Selain itu, kita harap berhati-hati menggunakan ungkapan: “seharusnya”. Ungkapan ini menjadi shortcut yang perlu digunakan secara bijaksana. Misalnya, ujian matematika anak mendapat lima. Spontan kita berkata, “Seharusnya kamu lebih teliti mengerjakannya.”

Ungkapan ini memang bagus tapi anak langsung mendapat klaim bahwa ia tidak teliti. Untuk melatih anak menerima konsekwensi ajaklah ia memahami apa yang terjadi lalu menemukan solusi bersama.

Jika anak tidak dilatih menerima konsekwensi sejak dini, bagaimana kelak ia akan bertanggungjawab terhadap konsekwensi perbuatan yang menimpa orang lain?

3. Belajar memecahkan masalah

Ada panduan praktis dari Kiran Bir Sethi, seorang desainer, pendiri sekolah Riverside, penggagas Design for Change. Namanya adalah FIDS: Feel – Imagine – Do – Share.

Pertama

rasakan (feel). Anak merasakan, berempati, berdialog, mendengar, dan melakukan pengamatan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Kedua

bayangkan (imagine). Anak membayangkan, menggagas, menemukan ide sebanyak dan sebebas-bebasnya untuk pemecahan solusi. Ide dan gagasan ini akan dipilih dan diuji coba.

Ketiga

lakukan (do). Ide dan gagasan solusi tadi dipilih dan direalisasikan dengan memperhitungkan teknis, biaya, waktu yang diperlukan. Pada tahap ini anak juga belajar bahwa setiap ide atau gagasan tidak selalu berhasil menyelesaikan permasalahan.

Keempat

bagikan (share). Keberhasilan menjalani langkah awal hingga eksekusi ide menjadi langkah kongkret memecahkan permasalahan orang lain dibagikan. Anak bisa menulis, mengunggah video, atau membagikan dokumentasi kegiatan. Bukan untuk pamer melainkan berupaya agar anak-anak yang lain terdorong melakukan hal yang sama. Dan ternyata setiap anak bisa mengerjakannya.
Top