Ambil Tempatmu Mulai Sekarang, Jangan Sampai Tertinggal dan Tak Berjumpa dengan-Nya!


Tahukah bahwa di belakang gemerlap dan keindahannya yang memikat, tersimpan bencana dan penipuan yang besar?

Cermati, lihat, dan belajarlah dari orang yang telah tenggelam di dalamnya. Dia mengira bahwa dunia ini diciptakan untuknya dan dia diciptakan untuk dunia. Lihat pula kemajuan yang telah diraih oleh negeri-negeri kafir, ternyata semua itu menjadi bumerang dan senjata makan tuan. Jangan sampai terlena. Jika tidak, kita akan menjadi korban berikutnya.

Ulasan terkait : Ketika Nabi Sulaiman Menangkap Semua Iblis di Dunia, dan Beginilah Jadinya..

Sebuah kisah, dimana jika masih ada yang mengejar dunia dan bahkan sampai melupakan akhiratnya, maka ketahuilah dari sini jika cukup sengsara di dunia saja, dan jangan sampai berlanjut di akhirat kelak. Naudzubillah.

Panggil saja, Umi Jainab namanya. Seorang janda tua yang tak memiliki anak. Suaminya sudah dua tahun yang lalu mendahuluinya menghadap Sang Pencipta. Hidupnya miskin, hanya sebuah gubuk tua di pinggir desa yang menjadi tempatnya bernaung. Suasana sepi dan terpencil, jauh dari rumah-rumah penduduk yang lain. Tiap hari Umi Jainab bekerja sebagai buruh cuci, dia berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain untuk mencari orang yang membutuhkan jasanya.

Pelanggannya adalah para penduduk yang merasa iba pada Umi. Karena wanita tua yang miskin ini hidup sebatang kara tanpa ada yang membantunya. Tapi terkadang para penduduk desa merasa heran terhadap apa yang dilakukannya.

Penghasilan Umi sebagai buruh cuci tidaklah seberapa. Tapi tiap hari dia selalu menyisihkan sebagian penghasilanya untuk menyumbang masjid atau membantu sesama yang mebutuhkan. Padahal dia sendiri hidup serba kekurangan. Tiap hari dia merelakan diri untuk berpuasa, demi bisa menyisihkan sebagian penghasilanya untuk dia darmakan.

Sungguh sikap yang terpuji tapi berat untuk dapat dilaksanakan semua orang. Bahkan orang-orang yang memiliki harta berlebih saja sangat sayang mendarmakan sebagian harta mereka. Kenapa Umi yang sudah memiliki kehidupan sangat susah masih menyempatkan untuk membagi sebagian rizki yang di dapatnya untuk orang lain? Bukankah dia juga sama membutuhkanya?

Itu adalah sebuah pertanyaan besar yang tak bisa di jawab oleh semua orang. Hingga pada akhirnya, ada seorang tetangganya yang coba bertanya pada Umi tentang semua hal yang dilakukannya.

Umi, bukankah kehidupan Umi juga susah? Kenapa masih sempat menyisihkan sebagian penghasilan Umi yang sudah sangat sedikit itu? Bukankah Umi juga sangat membutuhkanya?” tanya tetangga itu.

Aku coba membeli surga ku,” jawab Umi.

Jawaban tersebut tentu saja membuat si tetangga bingung tak mengerti. Hingga akhirnya dia bertanya lagi.

Maksud Umi apa?” kata si tetangga.

Aku sudah hidup sengsara di dunia. Tak memiliki anak, di tinggal suami, aku hanya sebatang kara di dunia ini. Yang kumiliki hanya Allah saja. Aku ingin diakui oleh Allah sebagai hamba yang taat. Agar kelak aku bisa bertemu dan melihat wajah Penciptaku yang Agung secara langsung. Dan yang dapat melihat Dia dan mendapat ridho serta kasih sayangnya adalah mereka yang berada di dalam surga.


Ulasan terkait : Banyak yang Mengira Buah Murahan, Ternyata Malah Jadi Kesukaan Rasulullah!

Sedang mereka yang di neraka akan selamanya di laknat dan Allah tak akan mau melihat mereka. Oleh karena itu, aku coba membeli tempat ku di surga. Mencoba menjadi hamba yang baik di mata Allah. Agar aku di akui olehNya sebagai hamba-hamba solehah yang patut menempati surga untuk dapat melihat wajahnya setiap saat.

Jika aku sudah sengsara di dunia, dan masih saja menjadi hamba yang lupa pada Tuhannya dan malah terus mengejar dunia. Maka, tak ada apapun yang akan kudapat. Selain kesengsaraan di dunia dan akhirat yang kan ku sesali selamanya,” jawab Umi.

Mendengar jawaban itu, si tetangga menjadi terdiam. Hatinya terasa di tusuk-tusuk oleh duri yang tajam. Dia mulai sadar akan tiap kekhilafanya. Kini Allah telah mengingatkanya lewat kata-kata wanita muslimah solehah yang miskin akan dunia, tapi kaya akan iman dan cinta kepada Allah. Dan si tetangga pun menangis, menyesali tiap apa yang dia lupakan selama ini. Dia mulai sadar, dan berniat untuk menjadi hamba yang lebih baik untuk sama-sama membeli surga.

Sahabat, jangan-jangan, selama ini kita merasa lelah, letih, stress dan tak berdaya mengejar dunia, karena kita telah berlari dan berlomba-lomba mengejarnya. Padahal kata Allah, cukuplah dengan berjalan untuk mengejar dunia ini. Artinya, jangan menggebu-gebu sehingga kita lupa kepada Sang Pemilik rezeki itu. Wallahu’alam.
Top