"Agama itu Bukan Warisan Orang Tua, Dhek Afi"



Afi Nihaya Faradisa, namanya langsung heboh melambung karena tulisannya tentang agama warisan orangtua. Afi kini diundang pejabat tinggi, antara lain Bupati Banyuwangi, Menkominfo dan diwawancarai live di Metro TV, serta pastinya banyak wartawan yang mewawancarai Afi.

Seperti apa sih tulisan Afi hingga ia mendadak terkenal seperti itu? Baca disini.

Namun tulisan ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra. Salah satu yang kontra dengan tulisan Afi adalah akun facebook Fauzan Inzaghi. Fauzan menulis sebagai kritikan ketidak sejalanannya perspektif antara dia dan Afi. Berikut tulisan Fauzan.

Jarang ada anak SMA yang bijak kayak afi, dan saya juga senang ada anak-anak yang cerdas seperti itu di indonesia. Iya betul dek afi!! yang dek afi katakan benar semua!! gak ada jaminan kalau kita lahir ditempat lain dan dari orang lain kita akan beragama sama dengan yang sekarang!! Setuju!! awalnya kita memang beragama warisan orang tua, itu awalnya, tapi apakah sampai sekarang masih agama warisan?

Entah jika dek afi seperti itu, tapi yang pasti banyak orang tidak seperti afi pikirkan, apakah jika nenek moyang kita yang awalnya hindu lalu jadi islam, itu karena warisan? Dan banyak lagi yang berubah agamanya dari islam ke agama lain, atau sebaliknya, apakah karena warisan? bahkan dek afi sendiri -sadar atau tidak- apakah pemahaman agama adek yang dulunya bahwa islam satu-satunya yang benar lalu sekarang afi menganggap semua agama sama, apakah juga warisan? Bukankah afi juga melakukan proses berfikir untuk mencapai ketitik pemahaman ini?

Salman Alfarisi, ratusan tahun mencari kebenaran sampai akhirnya bertemu Muhammad, juga bukan agama warisan kan?. Abang jomblo ini juga sama kayak afi, dalam pencarian dan berfikir, sempat mencapai titik nyaris gak ada agama bahkan juga sempat kepikiran semua agama dibenarkan kayak afi, toh semua agama ingin yang baik.

Tapi abang gak berhenti berfikir dan terus mencari kebenaran, ketenangan dan tuhan, sampai akhirnya pada titik ini. Abang jomblo ini memang tidak mengatakan abang telah sampai di akhir kebenaran, tapi apa yang abang yakini sekarang bukan hasil warisan tapi proses berfikir.

Dan abang juga bukan satu-satunya orang di dunia yang berfikir, dan bukan satu-satunya orang yang beragama dengan berfikir, apalagi hanya terima warisan dalam beragama. Tapi cobalah afi liat disekeliling adek, mereka juga sama, agama mereka bukan warisan, tapi hasil pencarian. 

walaupun sadar atau tidak sadar, mereka sudah mencari semampunya yang pasti bukan cuma warisan. Bahkan pemahaman afi sendiri dalam beragama juga dengan berfikir kan? Dan dengan proses mencari kan? Boleh setuju atau tidak, tapi itulah faktanya, iya baik setuju atau tidak, faktanya abang masi jomblo haha

Ini yang dinamakan dalam islam dengan iman bin nadhar(beriman dengan berfikir), dan ini wajib bagi umat islam yang sudah berusia baligh. Allah berfirman "fa'lam annahu la ilaha illah", artinya : pahamilah/ketahuilah tiada tuhan selain Allah!!. Tuhan memerintahkan agar kita memahami atau berfikir tentang la ilaha illallah!! bukan sekedar percaya atau mengucap, apalagi sekedar warisan. perintah dalam islam berarti wajib, maka dari itu kalau cuma beragama sekedar warisan (dalam islam dikenal dengan iman dengan taqlid) hukumnya berdosa, walaupun imannya sah.

Jadi agama bagi muslim bukan warisan tapi hasil pencarian. Orang tua hanya memudahkan jalan bagi anaknya dalam menunjukan jalan kebenaran yang telah mereka capai dengan berfikir, agar ketika besar, anaknya gak bingung mau kemana, bukan sekedar warisan. Paling tidak itu ajaran islam.

agama lain? Entahlah dek abang kurang tau, tapi pasti juga ada yang sama dengan islam, dan juga ada yang beda, itu biasa kalau beda. Tapi yang jelas gak semua agama didapatkan secara warisan seperti yang afi katakan, kalau tidak mau dikatakan kebanyakan, terutama bagi orang yang sudah matang berfikir, dalam islam dikenal dengan taklif (yaitu keadaan dimana manusia bisa berfikir matang ditandai dengan masuknya usia baligh dalam keadaan normal alias tidak ada gangguan kejiwaan). Intinya lingkungan memang punya pengaruh tapi kita yang menentukan.

Jadi umat beragama baik islam maupun umat yang lain bukan sedang ributin warisan, tapi mendiskusikan hasil berfikir, mereka gak merecoki pancasila, bahkan founder bangsa melalui pancasila kita diberi kesempatan menerapkan, alquran, injil, veda, dll. Kalau afi pernah baca buku hukum pasti dirimu taulah, kalau di indonesia ini, kitab suci bahkan adat, jadi salah satu sumber hukum dinegara ini.

jadi gak ada larangan, di majlis musyawarah alias pengatur undang-undang, jika masing-masing orang ingin memberi solusi untuk undang-undang agar jadi yang terbaik

masing-masing agama bahkan ideologi, menawarkan solusi menurut sesuatu yang mereka anggap itu solusi terbaik untuk bangsa. Ini dinamakan sumber hukum. nah para pengatur konstitusi lalu memilih mana yang dianggap menjadi solusi terbaik dari opsi yang ada, jadi indonesia dengan pancasila ini juga memakai hukum kitab suci, alquran, injil, weda, dll.

Jadi kalau ada yang ingin memakai hukum kitab sucinya sebagai undang-undang negara itu juga bagian dari ruh pancasila, bukan bertentangan, selama itu dilakukan dengan proses konstitusional. Dan ketika menjadi undang-undang tidak lagi dinamakan kitab suci, tapi hukum positif indonesia, yang harus dihormati oleh semua warga negara apapun agamanya. Semua melalui proses berfikir dan hukum legal, sekali lagi, pada akhirnya mereka akan mengatakan undang-undang ini sesuai ruh kitab suci!! Jadi bukan sekedar warisan dek.

Pernah sekali, terjadi keributan antar suku di papua, menyebabkan jatuhnya banyak korban, dan belum ada solusi diundang-undang untuk masalah ini, keadaan memanas dan perang antar suku kembali terancam terjadi, seorang pakar hukum indonesia memberi solusi, dalam islam ada yang dinamakan membayar diyat untuk perdamaian, yaitu ganti rugi korban tewas, lalu dikawinkanlah anak kedua kepala suku, untuk mempererat hubungan, akhirnya damai. ini hukum islam yang diterapkn di indonesia, sehingga meniadi hukum resmi di indonesia waktu itu, tidak dinamakan syariat tapi hukum positif yang sesuai syariat, dan ini wajib diikuti di indonesia pada waktu itu, dan tentu saja legal dan sesuai pancasila

Ada banyak hukum lain di indonesia bersumber dari beberapa agama, dan gak selamanya pendapat agama bertentangan, kadang sangat banyak persamaan, jadi berhukum dengan kitab suci itu bagian dari pancasila. gak akan membuat negara hancur, gak ada cerita kita ribut karena masing-masing umat agama ingin memakai kitab suci mereka sebagai undang-undang negara. lebih dari itu bahkan kita sudah mempraktekkannya, dan presiden soekarno lah yang mengatakannya. kalau mau baca paling banyak dalam undang-undang pernikahan, ah udah ah, gak usah ngomongin nikah, baper ntar guwa, kan jomblo

Tapi syukurlah afi megatakan, sempat berfikir bahwa kasian bagi orang yang tidak beragama dengan adek. Seharusnya memang semua orang seperti itu, sama seperti ortu afi yang takut afi tidak beragama sebagaimana agama yang mereka anut dan mereka anggap satu-satunya yang benar, dan tentu melalui pencarian bukun warisan

Seluruh manusia harus kasihan pada manusia lain dengan cara menyampaikan kebenaran yang mereka yakini kepada orang lain, jangan menyembunyikan, apalagi kalau menyembunyikan itu bisa membuat celaka. rela melihat mereka tersakiti di neraka? Atau tidak merasakan nikmat surga?. Mereka saudara kita dalam kemanusiaan kan? tega?

Maka dari itu dalam islam dan agama lain ada perintah dakwah, yaitu menyampaikan kebenaran. entahlah dakwah dalam agama lain, penganut agama lain lebih berhak menjelaskan, tapi dalam islam, dakwah itu ada. Jangan dibayangkan dakwah itu narik-narik orang ke agama kita, lalu kalau tidak mau kita gebukin, bukan seperti itu. Dakwah itu hanya sekedar menyampaikan informasi, samalah kayak afi ngabarin ulangan mendadak sama temen "bro, besok ada ulangan, jangan sampe gak hadir ya, kalau gak ntar gak lulus"

ya masalah mereka menerima atau tidak itu urusan kawan afi, tugas afi hanya nyampein informasi dengan cara baik-baik, makanya tuhan berfirman "innama anta muzakkir lasta alaihim bimusaitir", sesungguhnya kamu hanya pengingat dan kamu tidak punya hak untuk memaksa mereka. begitulah dakwah islam, apakah mengingatkan seseorang pada sesuatu yang memang hak mereka mengetahui, merupakan sebuah kesalahan atau kriminal? dakwah tidak lebih dari itu, kalau mereka dengar dan pecaya ya syukur, kita senang mereka bisa ikut ujian, kalau mereka tidak pecaya ya sedih la, tapi kita bisa apa? Toh itu pilihan mereka. jika mereka menganggap ada hal lain yang menurut mereka lebih penting dari info ini, dan mereka siap menerima segala resiko ketika meninggalkan info dari afi, itu juga hak mereka, tugas afi hanya menyampaikan pada mereka.

Kriminal sesungguhnya adalah orang yang tau dan diperintahkan untuk memberitahu tapi menyembunyikan info karena keuntungan pribadi, baik materi atau pengaruh. Atau orang yang mencoba menghalang-halangi afi untuk memberitahu info ulangan itu pada teman-teman afi yang harus diberi tau karena memang hak mereka untuk tau. Tapi karena kepentingan pribadi seperti ikut tinggal kelas bareng, atau biar ada kawan main, atau ada kepentingan pribadi yang beradu dengan ujian, atau masalah duit, dll mereka mengahalangi.

Penghalang inilah biang kerok, apalagi jika dilakukan dengan kekerasan, jadi masalah ribut antar agama itu bukan masalah waris mewarisi apalagi adu superior, tapi lebih pada kepentingan pribadi para penganut agama. Baik politik, uang, pengaruh pribadi, atau hargemoni kelompok, sebagian karena kisah asmara atau sakit hati ditinggal mantan, ops sori curhat

Klaim kebenaran? Jika benar di dunia ini ada yang namanya "benar dan salah" bukankah wajar ada yang mengatakan ini benar? Apakah dek afi yang menulis tulisan ini nggak merasa bahwa apa yang afi tulis benar? Kalau gak merasa benar ngapain disampaikan ke umum? Gak takut malah membuat orang-orang salah berjamaah? Iya afi tidak memaksa kebenaran pada yang lain, dalam dakwah juga sama dek, wong cuma nyampein apa yang dianggap benar

Tapi kebenaran mereka bukan hanya karena percaya, karena itu bukan iman. iman bagi seorang muslim adalah membenarkan dengan akal, mempercayai dengan hati, mengucapkan dengan lisan, lalu mengamalkan dengan anggota badan. Jadi semua didapat dari proses berfikir, bukan asal percaya. Hasil pemikiran inilah yang disampaikan, sebagaimana afi menyampaikan apa yang afi anggap benar, mereka gak mencoba jadi tuhan, tapi menyampaikan apa yang didapat dari tuhan melalui firmannya.

Bahkan untuk masalah informasi surga neraka mereka hanya menyampaikan apa yang tertulis dari tuhan tentang ayat-ayatnya, sama saja ketika guru mengatakan siapa yang nggak ikut ujian maka gak naik kelas, surga neraka juga sama, yang melakukan ini hadiah ini, yang gak melakukan hukuman ini, mereka gak mencoba jadi tuhan kok. lalu kenapa harus ada yang marah untuk informasi seperti ini, kenapa menuduh kapling surga? tak jarang yang nyampein sendiri ragu dia bisa lulus ujian.

Iya memang ada orang yang nyampein informasi sambil ngamuk, apalagi maksa, itu caranya yang salah, ini orangnya memang sakit, harus di obatin. tapi bukan malah mengeneralisasi penyampai lain sebagai pengklaim kebenaran, gak semua pendakwah kayak gitu sama seperti gak semua cowok brengsek, ada juga yang kayak abang. Adapun penyakit ini, ya tugas kita bersama mengobati, tanpa merasa paling benar sendiri, dan paling tidak mengklaim kebenaran sendiri. Kadang kita merasa bahwa hanya orang lain yang mengklaim kebenaran, dan kita gak pernah merasa bahwa saat mengatakan orang lain bermasalah karena merasa benar, kita juga melakukan hal yang sama.

Gak usah takut jika masing-masing agama mengaku bahwa dia yang paling benar, dan memang seharusnya seperti itu, masak udah milih agama lalu mengira bahwa agama kita anut salah. Lalu membenarkan yang lain, yang jelas berbeda. islam menganggap muhammad nabi, kristen nggak, tapi islam mengatakan kristen benar, itu lucu. Kristen menganggap yesus tuhan, islam tidak, lalu kristen membenarkan islam, itu palsu.

Jadi? Ya kayak biasa aja, kita beda, lalu hidup bareng, kita katakan dia salah dan saya benar dengan terus terang, lalu kita ngopi bareng, nongkrong bareng, kalau memang harus ke pelaminan ya gimana? Takdir, hahah. apakah kita harus sama baru kita bisa hidup bareng? Apakah kita harus berbohong dengan menyembunyikan kebenaran baru kita hidup bareng?. Sungguh meyedihkan hidup bareng dengan kepura-puraan seperti itu, masalahnya bukan pada perbedaan, tapi bagaimana cara hidup bareng dalam perbedaan

Tapi kalau udah menyakiti salah satu pihak dengan kasar, ini baru kita perangi bersama, kalau ada yang maksa-maksa baru kita lawan, apalagi dengan kekerasan, dan kita dilindungi hukum kok.

Sebenarnya kita sama-sama ingin damai si, tapi mungkin cara memandang permasalahan berbeda. afi merasa agama warisan kami katakan tidak. afi bilang bela warisan kami bilang bela berfikir. afi bilang kenapa memaksakan agama, kami bilang gak maksa cuma menyalurkan dengan cara yang sah. afi katakan pemaksaan kitab suci diindonesia bisa mengancam, kami katakan kita sudah mempraktekan dan gak terjadi apa-apa. afi katakan bahwa gak boleh klaim kebenaran kalau mau hidup damai, kami katakan terus apa standar kebenaran?.

Kita katakan saja, jika kita berbeda lalu kita hidup bersama, tidak bisakah? Afi katakan afi pengen kedamaian indonesia, sama kami juga sama, ayo kita kerjasama, afi katakan ada orang yang merasa tuhan, ayo kita kritik bersama, afi ingin liat indonesia naik kebulan, ayo kita kerjasama, sangat banyak hal lain yang mana kita bisa kerjasama, dan sama

yap, mari kita kerjasama pada hal yang kita sepakati dan kita toleransi pada hal yang berbeda, tanpa merasa bahwa kitalah satu-satunya orang yang punya solusi untuk kemajuan bangsa. karena kita semua pemikir dan bukan satu-satunya yang berpikir, kita mencari solusi dengan berfikir bukan dengan warisan.

jangan marah dek afi yah, kritikan seperti ini biasa kok, ntar dikampus bakal terbiasa dengan hal yang seperti ini, kan dijamin pancasila, anggap saja niat baik saling mengingatkan. lagian berhubung abang jomblo, jadi biasalah ngritikin orang, kalau udah ada pasangan mana sempat? Hahaha tapi saya tetap kagum kok sama anak yang berpikir dewasa kaya afi, teruslah berfikir, dan jangan berhenti dengan marah-marah dan merasa telah mencapai puncak kebenaran, suara miring cuekin aja. Kalau perlu ntar kalau udah di kampus kenalin la ama kakak leting yang cerdas kayak elu dek ya.

Oya dek, jangan marah ya, kita bekawan deh, entar ajarin abang gimaja cara nulis, tulisan abang gak rapih nih, walaupun lebih muda, jujur abang akui afi jauh lebih berbakat dalam hal nulis, buktinya tulisan afi jauh lebih bagus dari tulisan ini. eh cara ngetag orang gimana sih? Hahahah...
Top