9 Alasan Nyata, Jakarta Tak Layak Jadi Tujuanmu Bekerja dan Meniti Karir


m.tempo.co

Jakarta, menjadi kota impian bagi para petualang karir. Ibukota Indonesia ini menjadi kota dengan kehidupan keras luar biasa bagi banyak orang, namun menjadi kota yang begitu nyaman bagi segelintir orang yang beruntung.

Bisa dibilang, Jakarta memiliki banyak pilihan lapangan pekerjaan, dan tawaran gaji yang menggiurkan. Wajar, banyak anak muda yang tergoda untuk hijrah ke Jakarta.

Tapi, kerja di Jakarta bukannya tak punya tantangannya sendiri. Mengutip hipwee.com, ini 9 alasan kenapa Jakarta sebenarnya tak harus jadi satu-satunya alternatifmu sebagai kota tujuan kerja!

1. Kerja di Jakarta, jangan harap sarapan pagi yang tenang dan nikmat bisa kamu rasa. Kamu harus bangun sebelum ayam berkokok untuk berangkat kerja

Berangkat kerja dari subuh, diiringi doa yang tulus untuk seluruh keluarga. via selngorkini.my

Perantau pemula di Jakarta biasanya akan memilih daerah kost atau tempat tinggal yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Namun mencari hunian yang bisa begitu dekatnya dengan kantor bukanlah perkara mudah. Biasanya akan ditemui kost yang penuh, tidak sesuai keinginan, atau harga sewanya sangat tinggi.

Karena daerah di pusat kota Jakarta mulai semakin dipenuhi perkantoran, lama-kelamaan perantau akan terlempar ke daerah luar Jakarta. Sebut saja Bekasi atau Tangerang.

Mereka pun harus melaju jarak tempuh yang sangat lumayan. Untuk mengantisipasi agar tidak terlambat dan terjebak macet, mereka akan berangkat di waktu pagi buta.

Hal ini tidak berlaku bagi pekerja kantoran saja. Pada waktu pagi buta, kamu juga akan melihat siswa dan siswi yang telah berseragam rapi sembari menunggu angkutan umum langganannya di tepi jalan. Stasiun pun sudah dipenuhi dengan KRL berpenumpangkan pekerja kantoran yang berdandan rapi.

Kebiasaanmu yang masih bisa bangun pukul 06.00 pagi dan tetap tidak terlambat, kemungkinan akan banyak berubah setelah bekerja di Jakarta. Say goodbye ke waktu sarapan yang tenang!

2. Ini bukan hanya perkara macet, tapi juga pengendara roda dua yang kerap seenaknya

Berlomba dengan kemacetan. via www.beritabekasi.co

Ketika jalanan macet dan membuatmu harus terdiam cukup lama, barangkali kamu berpikir ini bisa diatasi dengan sepeda motor. Meninggalkan mobilmu untuk sementara waktu di rumah pun dikorbankan. Kalau di kota asalmu, bisa jadi cara ini efektif. Tapi kalau di Jakarta?

Banyak orang yang telah lama lahir dan terbiasa hidup di Jakarta bahkan enggan melakukannya. Kondisi jalanan yang terlalu macet ditambah dengan deadline kantor membuat siapa saja siap saling serobot. Rambu lalu lintas dilanggar. Trotoar pun siap dinaiki para pengendara sepeda motor demi lebih cepatnya waktu tempuh. Sepeda motor yang di kota asalmu jadi penyelamat, di Jakarta jadi benda yang benar-benar menyebalkan. Hih!

3. Di Jakarta, waktu itu fana. Jarak 1 jam antara satu titik dan lainnya termasuk sebentar karena macet yang merajalela

Tenang, rumah ke kantor dekat kok! 1 jam sampe! via kompasiana

“Dari kost sampai kantormu, berapa lama waktu tempuhnya?”

“Cuma sebentar kok. 1 jam juga sudah sampai!”

*melongo*

Bagi kamu yang berasal dari luar Jakarta dan sekitarnya, mohon memaklumi bila menemui percakapan yang serupa. Bagi mereka yang telah terbiasa dengan kerasnya jalanan Jakarta, waktu tempuh 1 jam dapat dikatakan sebentar. Di kota asal kamu, jarak tempuh 1 jam bahkan sudah setara dengan perjalanan vakansi ke luar kota. Bahkan waktu selama 1 jam sudah dapat kamu gunakan untuk mengerjakan berlembar-lembar skripsi kalau idenya gak mampet atau aneka kegiatan lainnya.

4. Selama 24 jam, bisa jadi setengahnya terbuang sia-sia. Ini karena waktumu habis di jalanan.
Lalu lintas gak karuan. Pantes macet. via sagalarupi.com

Terjebak dan berjibaku dengan kemacetan di Jakarta barangkali bisa mencapai waktu hingga berjam-jam. Coba saja dihitung dengan waktu berangkat ke kantor dan pulang ke rumah. Belum lagi jika kamu mempunyai pekerjaan semacam marketing atau Account Executive, yang mewajibkan setiap hari bekerja di lapangan.

Kalau kamu mengendarai angkutan umum, momen di mana kamu harus menunggu kendaraan ngetem adalah situasi yang paling menyebalkan. Ini karena waktumu akan semakin terbuang sia-sia. Waktumu yang seharusnya diluangkan untuk keluarga dan quality time pun harus ditata ulang.

5. Jam biologismu berubah drastis, menyesuaikan tekanan pekerjaan dan kepadatan jalan

Jam tidur, jam kerja, dan jam makan sudah tumpang tindih. via smart-lab.ru

Seringkali menghadapi kemacetan dan ditambah lelah menempuh perjalanan yang panjang, membuat kamu rentan kelelahan. Padahal jam istirahat kamu juga terbatas. Tak heran bila kamu menemui orang-orang yang ketiduran justru saat sedang di kantor atau angkutan umum. Tak cuma itu, jam makan bisa jadi ikut molor karena rutinitas. Jam biologismu yang tadinya rapi, sontak berantakan. Terbiasa tidur pukul 22.00, sekarang pukul 01.00. Makan siang pukul 12.00, sekarang pukul 13.00.

6. Kekurangan waktu istirahat sudah jadi fakta basi. Saat weekend, tebak kamu bakal ngapain?
Jenuh terjebak macet, mendingan tidur. via www.keepo.me

Jenuh karena selalu terjebak macet dan deadline yang tak pernah habis, rasa lelah dan stresmu pun meroket tinggi. Kamu yang sehari-hari terpaksa tidur kurang dari 8 jam, akan memanfaatkan akhir pekan dan hari libur untuk melunasi hutang tidur. Apabila di hari kerja kamu akan bangun pada waktu subuh, di akhir pekan dan tanggal merah kamu akan bangun pukul 10.00.

Apalagi kalau bukan untuk kesehatanmu sendiri? Selain rajin mengkonsumsi vitamin C agar tidak mudah sakit, tidur cukup di akhir pekan adalah jawabnya.

Baca Juga: Hati-Hati! Ini 7 Tanda Orang yang Pura-pura Baik

Usai jam tidurmu yang terlunasi, kamu ingin sekali melakukan penyegaran. Jalanan yang lagi-lagi macet, hanya memungkinkan kamu pergi ke mall

Ke shopping mall dan isinya itu-itu saja. via farm1.staticflickr.com

Sebenarnya ada begitu banyak tempat pariwisata yang begitu menarik di Jakarta. Semuanya dapat menjadi referensi untuk berakhir pekan. Hanya saja, jarak yang perlu kamu tempuh menuju destinasi tersebut bisa dikatakan lumayan. Kadang ada pula destinasi yang sebenarnya dekat, namun kamu harus mencapainya dengan berputar. Ini semakin menambah banyak jarak tempuhnya saja.

Belum dengan kemacetannya (lagi). Banyaknya mall yang bertebaran di Jakarta ternyata bisa berfungsi sebagai alternatif penghilang penat di akhir pekan. Akan tetapi jika kamu terlalu sering ke sana, apa lagi yang akan kamu perbuat?

7. Makanan 4 sehat 5 sempurna memang sehat. Tapi nasi sayur lauk di pinggir jalan Jakarta ternyata mahal dibandingkan makan ayam cepat saji
Meski udah kena pajak, makan ini masih lebih murah daripada makan di pinggir jalan. via www.graceland.ph

Dari kecil kamu sudah biasa mendengar orangtua memintamu untuk sering makan sayur mayur dan minum susu. Kalau nutrisinya bisa dilengkapi sampai 4 sehat 5 sempurna, akan lebih sehat lagi. Sayangnya, hal ini agak sulit dilakukan jika kamu bekerja di Jakarta dan tidak sempat memasak sendiri.

Beberapa orang tak jarang menjatuhkan pilihan makan siang atau bahkan sarapannya juga, ke gerai makanan cepat saji. Meski kurang bergizi, namun menyantap nasi dan ayang goreng tepung tidak memerlukan waktu yang lama dibandingkan dengan memesan seporsi capcay. Di samping itu, biaya yang dikeluarkan juga jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan menyantap nasi, sayur, lauk pauk di tenda pinggir jalan. Kamu bahkan perlu merogoh uang sebesar Rp 18.000,00 untuk seporsi nasi, sayur sup, telur balado, dan sebotol kecil air mineral. Sedangkan di gerai cepat saji, kamu bisa membeli seporsi makanan dengan harga mulai Rp 5.000,00.

8. Di luar kemacetan dan rasa lelah, pekerjaanmu bakal tidak mudah. Lengah sedikit dan jutaan perantau di Jakarta siap mengambil posisimu.
Persaingan terlalu keras. via www.it-markt.ch

Ada banyak perusahaan dan ada banyak pula pekerja/karyawan di Jakarta. Mereka berlomba-lomba menjadikan perusahaannya sebagai perusahaan yang terbaik. Beberapa perusahaan yang sejenis tentunya selalu memperhatikan perkembangan masing-masing kompetitornya. Sebagai seorang pekerja, kamu tentunya hanya bisa menjalankan apa yang atasan inginkan bukan? Apalagi jika kamu bekerja dengan target dan diharuskan mencari pendanaan. Tak sebatas antar perusahaan, persaingan ketat ada juga yang terjadi dengan sesama kawan.

9. Saat posisi tinggi sudah diraih, katakan manager. Nominal gaji pun sudah tak jadi masalah. Tapi selalu ada alasan untuk kembali ke tempat asal.
Aku rindu rumahku. via creadorutopico.files.wordpress.com

Mungkin kamu bisa menemui orang yang demikian di sekitar lingkunganmu. Entah itu tetanggamu, anggota keluargamu, temanmu, kekasihmu, atau kakak angkatanmu. Apa sih yang kurang dari mereka? Posisi bagus, gaji besar, fasilitas berupa rumah, mobil, dan supir pun difasilitasi. Mengapa mereka memilih undur diri dan kembali ke kampung halamannya?

Rupanya tidak sesederhana itu problematika mereka. Berbagai keuntungan yang mereka dapatkan dari perusahaan sebelumnya tidak menjamin kebahagiaan mereka. Apalagi jika mereka harus terus-menerus menghadapi kerasnya ibukota, mereka mungkin lebih memilih kehidupan yang tenang di daerah asalnya.

Di mana kehidupan yang sesungguhnya bisa dinikmati secara sempurna. Waktunya pun akan lebih tepat guna setiap hari. Jam-jam untuk diri sendiri dan keluarga lebih maksimal. Pergi ke kantor pun hanya perlu 15 menit.

Baca Juga: Survey: Bertahan Hidup di Jakarta dengan Gaji Rp 3 Juta

Sesungguhnya bekerja di Jakarta bukanlah satu-satunya pilihan. Apabila membicarakan rencana, memang Jakarta menyediakan banyak pilihan untuk penyaluran rencanamu. Namun tak ada salahnya kamu menjajal dan mengembangkan kemampuan kamu di bidang lainnya.

Maka usahamu untuk memantaskan diri akan semakin indah. Toh sebenarnya ada banyak kesempatan bekerja di daerah asalmu, tanpa kamu harus bermain sikut-sikutan.
Top