5 Tingkatan Shalat, Jika Sudah di Tingkat 4, Bisa Dibilang Shalat Kita Sempurna

Komentar


Allah berfirman dalam Surat Al Ma'un.
"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya" (Q.S. al-Ma’un : 4-6)

Dalam tafsir lain, ayat kecelakan pada ayat empat diartikan sebagai neraka Wail.
“Neraka Wail bagi orang yang solat. Yang mereka itu lalai dalam solatnya.” (Al-Maa’un: 4-5)

Naudzubillah, begitu pentingnya shalat hingga Allah dengan jelas menyediakan neraka Wail bagi orang-orang yang lalai dalam shalatnya. Apa itu neraka wail, menurut pendapat Ibnul Anbari Wail artinya siksaan yang sangat berat.

Jadi bisa anda bayangkan bukan. Karena itu mari kita terus perbaiki shalat kita. Ada 5 tingkatan shalat yang harus anda ketahui. Karena kita harus bisa mencapai urutan ke empat. Agar kita tidak termasuk seperti firman Allah diatas.

Baca Juga: Mengatakan Ajaran Agama Islam Gila, Video Akun Facebook ini Ditonton 5 Juta Kali

Dalam hal kualitas shalat, Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengklasifikasi orang yang shalat kedalam lima kelas. Kelima kelas tersebut antara lain:

1. Mu’aqqab

Mu’aqab artinya disiksa. Hal ini jelas yang dimaksud dalam Q.S. al-Ma’un : 4-6. Jelas ini shalatnya orang-orang munafik.

Orang yang seperti ini merupakan orang yang tidak sempurna waktu shalatnya, kurang sempurna waktu wudhunya, serta tidak sempurna pula batas-batas dan rukun-rukunnya. Orang dalam tingkatan ini disebut-sebut akan disiksa di akhir hayat dan merupakan tingkatan terendah dalam shalat.

2. Muhasab

Muhasab berarti dihisab. Maksudnya adalah shalatnya diperhitungkan oleh Allah. Orang ini mampu menjaga waktu shalat, wudlu, syarat-syarat dan rukun-rukun shalat, tetapi masih terbatas pada aspek zhahiriyahnya saja. Sedangkan aspek ruhiyah (kekhusyuan) kurang diperhatikan sehingga ketika shalat dijalankan, pikirannya dipenuhi oleh lamunan-lamunan tak berarti.

3. Mukaffar ‘Anhu

Tingkatan ketiga dalam kualoitas shalat menurut Ibnul Qayyim adalah mukaaffar ‘anhu yang artinya diampuni (dihapus) dosa dan kesalahan. Yang menempati tingkatan ini adalah mereka yang mampu menjaga shalat dan segala ruang lingkupnya, kemudian ia bersungguh-sungguh untuk  melawan intervensi setan. Ia berusaha menghalau lamunan dan pikiran yang terlintas.

Baca Juga: Surat Rindu Buat Anak-Anakku, "Nak Idul Fitri Kali ini Pulanglah!"

4. Mutsabun

Tingkatan mutsabun atau yang diberi pahala memiliki ciri-ciri seperti tingkatan Mukaffar ‘Anhu. Lebihnya adalah ia benar-benar iqamah (mendirikan shalat). Ia hanyut dan tenggelam dalam shalat dan penghambaan kepada Allah SWT.

5. Muqarrab min Rabbihi

Yang terakhir adalah tingkatan yang paling hebat. Bisa dibilang ini hanya para shalat Nabi dan Rasul. Mereka yang menempati tingkatan ini adalah orang yang ketika shalat, hatinya langsung tertuju kepada Allah. Ia benar-benar merasakan kehadiran Allah sehingga ia merasa melihat Allah (ihsan). Tingkatan ini adalah Muqarrab min Rabbihi (didekatkan dari Allah).

Orang yang berada di tingkatan ini bukan hanya menadapat pahala dan ampunan tetapi ia pun dekat dengan Allah karena shalat ia jadikan sebagai penyejuk mata dan penentram jiwa.

Wah.... jika kita bermuhasabah, berada di tingkatan yang manakah kualitas shalat kita? Hm, minimal semoga kita termasuk kelompok Mukaffar ‘Anhu. Maksimal, ya menempati tingkatan Muqarrab min Rabbihi. So, mari kita berusaha terus menjaga shalat kita di setiap waktu. Ingat, shalat itu merupakan rukun Islam yang kedua. Jika lalai dari shalat, berarti kita telah menggugurkan rukun islam yang kedua ini.

Shalat itu tiang agama. Jika shalat ditinggalkan, maka kita meruntuhkan bangunan agama. Oleh karena itu, mari menjaga shalat sebagaimana perintah Allah swt.:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua shalat(mu) dan (peliharalah pula) shalat wustha[1]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan qanit[2]!” (Q.S. al-Baqarah [2]: 238).
Top