Ternyata Islam Memperbolehkan Bicara Ketika Makan! Bukankah Tidak Sopan?


Siapa yang tak suka makan? Sebagai salah satu bentuk kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi, makan menjadi hal yang sangat penting bagi kehidupan. Lantas apa yang bisa diambil hikmahnya dari kegiatan makan tersebut? Ternyata hal-hal yang kita kira selama ini tabu dalam hal makan, Islam malah menjawab sebaliknya lho.

Benar, makan memang menjadi suatu hal penting bagi setiap orang. Karena makan ini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Ketika makan bersama orang lain, seseorang disadari atau tidak akan adanya pembicaraan. Bagi sebagian orang mungkin menganggap makan sambil berbicara adalah suatu hal yang tak sopan. Lalu, bagaimana hukum makan sambil bicara dalam Islam?

Baca juga : Tak Banyak yang Tahu, Ini Waktu untuk Wanita Shalat Dzuhur di Hari Jum'at

Sahabat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta istrinya untuk diambilkan lauk. Namun kata mereka, ‘Kami tidak punya lauk apapun selain cuka.’

Beliau tetap minta diambilkan cuka, dan makan dengan lauk cuka dan mengatakan,

نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ ، نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ

Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka,” (HR. Muslim 2052).

Dari hadits di atas, An-Nawawi menjelaskan bahwa, “Dalam hadis ini terdapat anjuran untuk berbicara ketika makan, untuk membuat suasana akrab bagi orang-orang yang ikut makan,” (Syarh Shahih Muslim, 7/14).

Berdasarkan hadis ini, para ulama menganjurkan untuk berbicara ketika makan. Terutama pembicaraan yang isinya pujian terhadap makanan dan pujian kepada Allah yang memberi makan.

Ibnul Muflih menyebutkan keterangan Ishaq bin Ibrahim, “Suatu ketika aku makan malam bersama Abu Abdillah yaitu Imam Ahmad bin Hanbal ditambah satu kerabat beliau. Ketika makan kami sedikit pun tidak berbicara sedangkan Imam Ahmad makan sambil mengatakan alhamdulillah dan bismillah setelah itu beliau mengatakan, “Makan sambil memuji Allah itu lebih baik daripada makan sambil diam.

Tidak aku dapatkan pendapat lain dari Imam Ahmad yang secara tegas menyelisihi nukilan ini. Demikian juga tidak aku temukan dalam pendapat mayoritas ulama pengikut Imam Ahmad yang menyelisihi pendapat beliau di atas.

Kemungkinan besar Imam Ahmad berbuat demikian karena mengikuti dalil, sebab di antara kebiasaan beliau adalah berupaya semaksimal mungkin untuk sesuai dengan dalil.” (Adab Syariyyah, 3/177).


Baca juga : Rezeki Cuma Tentang Harta dan Tahta? Ternyata dalam Islam Lebih dari Itu!

Keterangan yang lain disampaikan Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar, “Dianjurkan berbicara ketika makan. Berkenaan dengan ini terdapat sebuah hadits yang dibawakan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam sub “Bab memuji makanan”.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab al-Ihya mengatakan bahwa "termasuk etika makan ialah membicarakan hal-hal yang baik sambil makan, membicarakan kisah orang-orang yang shalih dalam makanan.”" (al-Adzkar, hlm. 234).

Jadi kesimpulan yang bisa diambil dari hal ini adalah berbicara ketika makan itu boleh saja, asal seperlunya dan hanya untuk memuji rasa masakan ataupun memuji makanan sebagai bentuk rezeki dari Allah SWT sebagai bentuk rasa syukur dan bisa saja bernilai ibadah, serta jangan sampai berteriak ataupun berbicara keras ketika makan untuk menghindari tersedak ataupun kemungkinan lain.
Top