Sering Diabaikan, Ini Alasan Mengapa Seseorang Tak Boleh Mencela Makanan!

Komentar

Mungkin pernah kita sendiri ataupun tak sengaja mendengar seseorang yang sangat tak suka dengan makanan tertentu, kemudian merepresentasikan rasa benci itu hingga akhirnya menjadi celaan. Bisa saja terjadi karena memang kita sebagai manusia tak pernah ada rasa puas dalam hati dan ingin sekali semuanya berjalan pada porosnya.

Akan tetapi, satu hal yang bisa dipelajari adalah, sebenci-bencinya kita terhadap suatu makanan yang dihidangkan, jangan sampai mencelanya dan berbicara terang-terangan kalau tak suka di depan makanan tersebut. Terlebih lagi jika makanan tersebut yang memasak ialah orang yang kita sayangi.

Baca juga : Jangan Asal Berharap, Memangnya Boleh Ikut Undian Berhadiah dalam Islam?

Lantas mengapa bisa begitu? Inilah alasan mengapa seseorang sangat tidak diperbolehkan mencela makanan.

Dari Abu Hurairah r.a beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai satu makanan, maka beliau memakannya. Jika beliau tidak suka, maka beliau meninggalkannya,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sudah sepatutnya sebagai umat Muslim, kita mencontoh perilaku Nabi Muhammad SAW. Termasuk soal makanan.  Mencela makanan adalah perbuatan yang tidak baik, karena Rasulullah pun tidak menganjurkannya. Mencela makanan berarti ketika seseorang menikmati hidangan yang disajikan lalu ia mengomentari makanan tersebut dengan mengucapkan terlalu asin, kurang asin, lembek, terlalu keras, tidak matang dan lain sebagainya.

Makanan adalah ciptaan Allah sehingga tidak boleh dicela. Disamping itu, mencela makanan menyebabkan orang yang membuat dan menyajikannya menjadi kecil hati , atau tersinggung . Ia sudah berusaha menyiapkan hidangan dengan sebaik mungkin, namun ternyata hanya mendapatkan celaan.

Syekh Muhammad Sholeh al-Utsaimin mengatakan, “Tha’am (yang sering diartikan dengan makanan) adalah segala sesuatu yang dinikmati rasanya, baik berupa makanan ataupun minuman. Sepantasnya jika kita diberi suguhan berupa makanan hendaknya kita menyadari betapa besar nikmat yang telah Allah berikan dengan mempermudah kita untuk mendapatkannya, bersyukur kepada Allah karena mendapatkan nikmat tersebut dan tidak mencelanya. Jika makanan tersebut enak dan terasa menggiurkan, maka hendaklah kita makan.

Namun jika tidak demikian, maka tidak perlu kita makan dan kita tidak perlu mencelanya. Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukainya, maka beliau memakannya.


Baca juga : Tak Perlu Minta Izin Suami untuk Bekerja, Ternyata Istri Hanya Perlu Lakukan Ini!

Jika beliau tidak menyukainya, maka beliau meninggalkannya dan tidak mencela makanan tersebut. Misalnya ada orang yang diberi kurma dan kurma yang disuguhkan adalah kurma yang jelek, orang tersebut tidak boleh mengatakan kurma ini jelek. Bahkan kita katakan pada orang tersebut jika engkau suka silakan dimakan dan jika tidak suka, maka janganlah dimakan.

Oleh karena itulah, kesimpulan yang bisa ditelaah dari sebagaimana seseorang sangat diharamkan untuk mencela makanan, yakni agar setiap manusia yang ada selalu bersyukur dengan apa yang telah dianugerahkan kepadanya. Pahami kembali dan hadirkan rasa lega karena hari ini bisa memakan makanan tersebut.

Semoga saja kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa tidak semua yang disenangi jiwa mesti dituruti, kadangkala keinginan semacam itu ditahan seperti diajarkan oleh Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Top