Manfaat Diam, Saat Bertengkar dengan Pasangan

Komentar

Nasehat Islami

Mengalami pertengkaran dengan pasangan adalah hal yang melelahkan. Selain menguras emosi juga mengganggu aktifitas keseharian.

Namun, tidak ada rumah tangga tanpa masalah. Dan terkadang masalah itu berujung pada pertengkaran. Hal tersebut wajar.

Dan bagaimana suami-istri menghadapi pertengkaran tersebut akan menjadi indikasi kedewasan dalam berumah tangga.

Mengambil sikap diam sejenak merupakan alternatif  terbaik. Dikutip dari ummi-online, berikut alasannya.

Petama,
Diam memberikan waktu untuk mengurai emosi. Saat akan marah, tentu emosi tidak terkendali. Ingin rasanya mengeluarkan semua kekesalan baik melalui ucapan maupun tindakan.

Diam artinya menahan mulut dan anggota badan agar tidak melakukan hal-hal yang justru merugikan diri maupun orang lain.

Semisal saat bertengkar  menyakiti badan atau melempar barang-barang. Dengan diam, emosi akan perlahan reda. Perbanyak istigfar agar dijauhkan dari bisikan syetan.

Kedua,
Dengan diam ada kesempatan untuk  mengevaluasi diri. Jangan egois menganggap bahwa permasalah hanya disebabkan oleh orang lain atau pasangan. Boleh jadi sifat dan sikap kita juga menjadi penyebab permasalahan hadir.

Ketiga,
Saat diam gunakan untuk memohon ampun pada Allah atas doa yang sadar atau tidak kita dan pasangan lakukan. Dalam Islam manakala sedang emosi sangat dianjurkan untuk berwudhu dan sholat. Ini terapi jiwa yang sangat baik bagi siapapun termasuk suami-istri yang sedang bertengkar.

Keempat,
Diam juga berarti tidak terburu-buru mengadukan masalah kepada orang lain semisal keluarga besar. Sebisa mungkin selesaikan berdua dengan pasangan. Jika masalah sudah sampai ke pihak keluarga mungkin ada aib pasangan yang ikut terbuka. Juga akan berpotensi menyebabkan ghibah.

Kelima,
Tetaplah diam meski salah seorang baik istri atau suami meluapkan emosi  semisal dengan marah. Selama tidak melakukan hal yang berbahaya, dengarkan saja semua kekesalan pasangan karena sejatinya ia sedang ingin didengar.

Kisah Khalifah Umar bin Khattab yang tetap sabar bahkan menceritakan kebaikan-kebaikan istrinya saat ditanya tentang bagaimana ia diam saja saat dimarahi istrinya adalah salah satu contoh sikap diam yang mulia.

Baca Juga: Kisah Kematian Terindah Sepanjang Sejarah Manusia di Bumi

Keenam,
Diam adalah bentuk pertengkaran yang relatif lebih aman bagi anak-anak. Walaupun sedang bertengkar dengan pasangan tentu saja sikap kita terhadap anak harus sebisa mungkin seperti biasa.

Untuk anak yang belum baligh, lebih baik mereka tidak mengetahui kalau orang tuanya sedang memiliki permasalahan. Sementara untuk anak yang sudah baliqh, berikan pengertian bahwa ayah dan ibunya sedang berusaha menyelesaikan permasalahan. Dan yakinkan bahwa semua akan berakhir dengan baik.

Ketujuh,
Sembari diam, pikirkan solusi yang bisa ditawarkan pada pasangan. Solusi ini tentu saja harus sesuai dengan aturan Islam. Bisa coba baca referensi  atau bertanya langsung dengan ahlinya sesuai permasalahan yang dihadapi.

Kedelapan,
Diam harus diakhiri dengan berbicara secara terbuka kepada pasangan. Apa masalah sebenarnya yang menyebabkan pertengkaran? Apa pilihan solusinya?

Apa langkah terbaik menyelesaikannya? Dan pastinya, buatlah komitmen bersama agar tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama.

Memilih diam sejenak bukan perkara mudah saat bertengkar dengan suami/istri. Jangan sampai pertengkaran membuat permasalahan yang sebenarnya kecil menjadi tidak terselesaikan. Jadikan pertengkaran sebagai bumbu perekat cinta dalam rumah tangga.
Top