Kita Laksana Lampu Minyak, Banyak Gelap Namun Berusaha Tetap Terang


Setiap manusia pasti ingin hidup bebas dan tak menggantungkan diri dengan yang lain. Akan tetapi harapan tersebut sepertinya sungguh mustahil untuk diwujudkan, karena memang nyatanya setiap manusia yang berarti adalah makhluk sosial, maka mau tak mau kita semua harus bergantung kepada yang lain, terlebih lagi kepada Allah SWT yang berhak untuk digantungkan semua harapan kita hanya kepada-Nya.

Also read : Jangan Sampai Jadi Suap! Bagaimana Hukum Hadiah dalam Islam?

Maka dari itu, bila kita mengetahui yang hak mengenai kehidupan di dunia, tentulah tak ada yang akan diperjuangkan sampai merusak hubungannya dengan Sang Pencipta. Hidup itu ibarat lampu minyak, minyak habis –kita pun habis (mati).

Makanan bukan minyak kita untuk hidup, minuman bukan minyak kita untuk menyiram dahaga kehidupan. Yang ada hanyalah pelumas saja, agar minyak mengalir dengan lancar dan meresap dengan taka da hambatan.

Sehingga pelumas tersebut menjadikan tujuan dan api semangat kita berkobar dengan indah, apakah itu?

Itulah yang namanya “berhubungan dengan Sang Pencipta” kita semua, menenangkan hati dan mendinginkan akal. Mengingat kapan dan bagaimana kita nanti mejadi lampu minyak yang mati, tampaknya akan membuat kita sejuk. Selalu mengingat mati akan membuat kita seolah pengembara saja yang berteduh di bawah pohon untuk mengistirahatkan diri.


Also read : Sering Geregetan, Ternyata Orang Bodoh Itu Harus Dibenarkan Bukan Dihakimi!

Jangan sampai waktu yang telah dianugerahkan kepada kita ini, malah menjadi boomerang yang sungguh sangat menyakitkan sekali. Semoga saja kita lekas sadar akan apa makna dari sebuah hidup, sehingga kita mampu menjadi orang yang lebih baik lagi dari kemarin, esok, dan seterusnya.

Terlebih lagi sebuah kerugian, apabila ia tak tahu menahu dan semakin mnejadikan hidup hanya sebagai ajang kepuasan diri sehingga tak mampu mengenal danb mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Naudzubillah.
Top