Kata Siapa Pujian Itu Baik? Salah-salah Bisa Jadi Sumber Penyakit Lho!


Untuk seorang manusia yang merupakan mahkluk sosial dimana tak bisa hidup sendiri, maka dalam hidup berdampingan dengan yang lain pastilah ada saja hal-hal unik yang terjadi dalam kehidupan tersebut. Mungkin diantaranya adalah ketika melakukan perdebatan, cek cok, meminta maaf, bercanda, hingga saling memuji.

Berbicara mengenai memjui, berhati-hatilah karena tak selamanya memuji dan dipuji itu baik. Bisa jadi itu merupakan sumber penyakit yang bisa saja menjerumuskan seseorang kepada hal yang salah. Bagaimana bisa?

Ulasan terkait : Karena Waktu Tak Berdiam Diri, Apa yang Bisa Kita Banggakan di Kehidupan Ini?

Wah, sungguh cantik sekali engkau memakai gaun berwarna jingga itu.”

Masakanmu memang enak. Rasanya juara.”

Karya senimu memang yang terbaik.

Lo emang keren bro!

Pujian, dalam interaksinya manusia kadang saling melontarkan pujian antara satu dan lainnya. Pujian itu seperti dua mata pisau, jika salah mengartikannya maka pemegangnya akan melukai tangannya sendiri.

Dalam ceramahnya, Abdullah Gymnastiar–Aa Gym–pernah berkata bahwa, “Bersabar dalam kemudahan, kesuksesan, dan pujian itu lebih berat dibandingkan sabar dalam kesempitan.

Sebuah pujian biasanya dikatakan seseorang saat kagum ataupun untuk membuat bahagia lawan bicaranya. Lalu, bagaimanakah Islam memandang pujian itu?

Dari Abu Bakar, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah SAW, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah ﷺ lalu bersabda, “Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Berdasarkan hadits tersebut, jelaslah bahwa segala kebaikan dan kelebihan yang ada pada seorang makhluk lebih baik untuk memuji penciptanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Imam Ghazali juga berkata pujian itu bisa mendatangkan enam penyakit, dan keenam penyakit ini timbul karena pujian itu adalah:

1. Orang yang memberi pujian cenderung berlebihan dalam memuji, hingga berbohong. Apalagi jika ada maunya.

2. Sering terjadi, orang yang memuji tidak tahu betul tentang orang orang yang dipujinya sehingga timbul pujian pujian semu.

3. Orang yang memuji belum tentu menyenangi orang yang dipujinya. Dia hanya menunjukkan senang sesaat dan ada maksud atau harapan tertentu. Akibatnya bisa jatuh pada kemunafikan.

4. Bisa jadi yang dipuji itu sebenarnya adalah orang zhalim atau orang fasik dan ini dilarang. Sebab jika orang zhalim atau orang fasik dipuji maka yang memuji telah ikut mendorongnya untuk meneruskan kezhaliman dan kefasikannya.

5. Bisa mendatangkan ujub dan sombong bagi yang dipuji.

6. Bisa menimbulkan sikap lemah.


Ulasan terkait : Apa Salahnya Waspada? Daripada Kena Ludah Setan di Warung Sebelah? Hii..

Dari Amir bin Rabi’ah Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena sesungguhnya penyakit ain itu benar (adanya)”. (HR. Ahmad).

Maka dari itu, bagi seseorang yang ternyata sering mendapat pujian maka jangan sampai tinggi hati dan merasa bahwa mereka memang menunjukkan apa yang dilihat tanpa memikirkan hal lain jika memuji secara berlebihan. Tetap teguhkan hati dan jaga iman agar tak terjerumus ke dalam kesombongan.

Begitu pula dengan orang-orang yang terbiasa memuji entah itu memang benar atau hanya ada maunya saja. Ingat bahwa Allah SWT tak menyukai orang-orang yang hanya baik di depan dan hanya mengambil kesempatan dari seorang teman. Sehingga, kita semua sebagai manusia diharuskan untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT agar terlindung dari sifat-sifat yang tercela semacam itu.
Top