Karena Perjalanan Nabi Saat Melihat Neraka, Bagaimana Mungkin Kita Masih Berleha-leha?

Komentar

Diperingatinya satu hari dalam setiap tahun, dimana untuk kembali mengingat bahwa Nabi Muhammad SAW yang menjadi Rasul sekaligus Nabi bagi para umat Muslim, pernah mendapatkan perintah oleh Allah SWT untuk naik ke langit dan melihat bagaimana surga dan neraka itu, serta mendapatkan hal yang sungguh sangat luar biasa bagi semua manusia yang ada di bumi. Yakni perintah menunaikan shalat.

Peristiwa Isra Mi’raj terjadi dengan jasmani dan rohani Rasulullah SAW, bukan melalui mimpi dalam tidur. Bagi orang yang beriman, peristiwa yang dialami Rasulullah ini adalah dalam keadaan sadar dan terjaga. Namun terjadi perdebatan sengit di antara para sahabat, bahkan tak sedikit yang murtad.

Ulasan terkait : Tanpa Kamu Tahu, Hal Ini Buatmu Berpikir Lebih Jauh untuk Sekedar Ikut Arisan!

Kaum Barat kemudian melontarkan sejumlah pertanyaan sinis seperti ini:  Kenapa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi di malam hari, bukan di siang hari agar bisa dilihat dan diyakini orang? Kalau memang mu’jizat itu terjadi dengan kekuatan Allah, kenapa terjadi dalam semalam, bukan dalam sekejap mata?

Ketika orang lain meragukan dan mengingkari kisa perjalanan ghaib Rasulullah ke Sidratul Muntaha, sahabat Abu Bakar lah yang membenarkan kabar tersebut. Sehingga ia diberi gelar ‘Ash-Shiddiq.’

Dalam perjalanan mi’rajnya, Rasulullah SAW melewati suatu kaum yang tengah bercocok tanam dan sedang menuai pada hari itu juga. Setiap kali mereka tuai, setiap itu pula tanaman tersebut tumbuh kembali, seperti sebelum menuai. Lalu Rasulullah bertanya kepada Jibril. “Siapa mereka itu ya Jibril? Jibril menjawab, “Mereka adalah kaum mujahidin fi sabilillah. Pahala yang diberikan kepada mereka berlipat ganda hingga 700 kali lipat.”

Kemudian, Rasulullah juga melihat seorang wanita tua. Pada kedua lengannya berderet perhiasan yang memesona. Rasulullah bertanya lagi kepada Jibril, lalu Jibril menjawab, “Ia adalah dunia dengan berbagai perhiasan yang ada padanya.”

Selanjutnya, Rasulullah melihat orang yang sedang memukul kepala dengan batu hingga pecah. Dari pecahan kepala itu mengucur banyak darah. Lalu kepada itu kembali sediakala, setelah itu kembali memukul kepalanya dengan batu hingga berdarah dan seterusnya hingga berkali-kali. Rasulullah bertanya kepada Jibril. “Siapa mereka ya Jibril?” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang yang bermalas-malasan dalam menunaikan shalat wajibnya.

Dalam Mi’rajnya, Rasulullah juga melihat suatu kaum yang memotong-motong lidah dan bibirnya sendiri dengan menggunakan gunting. Setiap kali lidah dan bibirnya terpotong, setiapkali itu pula  bibir dan lidahnya kembali semula, lalu dipotong lagi dan seterusnya. Rasulullah bertanya kepada Jibril, siapa mereka? Jibril menjawab, mereka adalah penceramah dan ahli pidato fitnah yang kerjanya menyuruh orang mengerjakn sesuatu, tapi mereka tidak melakukannya. Mereka orang yang suka ceramah, tapi tidak sesuai dengan kata dan perbuatannya.

Kemudian, Rasulullah melihat seekor banteng besar keluar dari dalam perut yang besar, lalu banteng itu ingin masuk lagi, tapi tak bisa, Rasulullah terheran-heran. Maka beliau bertanya kepada Jibril dan dijawab, “Ia adalah perumpaan seorang yang berjanji dan bersumpah, tapi tak mampu ditunaikan.

Rasulullah juga melihat suatu kaum berenang di lautan darah. Mereka berenang di sana dan memakan batu-batuan. Nabi SAW bertanya kepada Jibril tentang mereka, lalu dijawab, “Mereka adalah pemakan uang riba.”


Ulasan terkait : Saat Iblis Hendak Berdakwah dan Allah Pun Mengizinkannya

Lanjut, Rasulullah melihat orang-orang yang meninggalkan daging segar dan mengerumuni daging busuk. Rasulullah bertanya kepada Jibril, siapa mereka? Jibril menjawab, “Mereka adalah para pezina. Lelaki yang mempunyai istri halal dan sehat, tetapi ditinggalkan dan mencari perempuan haram yang berpenyakit. Begitu pula sebaliknya, perempuan yang mempunyai suami yang  halal dan sehat, tapi dia mencari lelaki yang haram di jalan.

Tak lama kemudian, Rasulullah melihat seorang lelaki sedang memikul barang yang tidak kuat dipikulnya, namun ia masih menambah pikulannya itu dengan memasukkan barang-barang lain. Rasulullah bertanya tentang orang itu, dan Jibril menjawab, “Ia adalah orang yang sedang membawa amanat meskipun tidak sanggup ditunaikan. Bebannya sudah berat, ia tambah lagi dengan amanat yang baru.

Lantas dari sekelumit pembahasan tersebut, masihkah kita semua hanya berdiam diri dan tak ingin untuk memperbaiki hati? Semoga saja setelah memahami apa yang telah disampaikan, kita semua bisa saling mengingatkan satu sama lain agar kembali berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, hari ini, esok, dan seterusnya.
Top