Jangan Sampai Jadi Suap! Bagaimana Hukum Hadiah dalam Islam?

Komentar

Sungguh, dalam kehidupan manusia, hadiah memiliki pengaruh positif dalam memperkuat ikatan dan hubungan sosial. Dengan hadiah, rasa cinta akan tumbuh, kasih sayang akan langgeng, kedengkian akan sirna, dan hati akan saling terpaut. Hadiah merupakan tanda cinta dan ketulusan hati. Ia merupakan lambang pemuliaan dan penghargaan.

Sering kali seseorang mendapatkan hadiah dari orang lain. Umumnya hadiah ini diberikan bisa sebagai tanda ucapan terima kasih atau untuk membalas kebaikan orang lain. Selain itu juga banyak alasan seseorang memberikan hadiah.

Ulasan terkait : Sering Geregetan, Ternyata Orang Bodoh Itu Harus Dibenarkan Bukan Dihakimi!

Dalam Islam sendiri telah mengatur beberapa perkara untuk umatnya. Hadiah dalam Islam pun memberikan tuntunan terhadap hal ini. Lalu bagaimana Islam memandang mengenai hadiah ini? Ada beberapa hal yang harus diperhatikan bagi seorang Muslim tentang hadiah ini. Berikut beberapa hal tersebut, di antaranya:

1. Terima hadiah dan berusahalah untuk membalasnya


Aisyah radhiyallahu ‘anha menyatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا

Rasulullah ﷺ biasa menerima hadiah dan biasa pula membalasnya,” (HR. Bukhari, no. 2585).

2. Rasulullah ﷺ sendiri menerima hadiah, namun tidak menerima sedekah


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ ketika disodorkan makanan, beliau bertanya dahulu apakah makanan tersebut berasal dari hadiah ataukah sedekah. Kalau itu sedekah, beliau berkata, “Kalian makan saja makanan tersebut.” Namun kalau makanan tersebut adalah hadiah, maka beliau menyantapnya. (HR. Bukhari, no. 2576 dan Muslim, no. 1077)

Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Rasulullah ﷺ menerima hadiah dan tidak menerima sedekah.” (HR. Ahmad, 4: 189, sanadnya hasan kata Syaikh Musthofa Al-‘Adawi dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 67)

3. Tetap memberi hadiah walau jumlahnya sedikit


Nabi ﷺ bersabda,

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

Wahai para wanita muslimah, tetaplah memberi hadiah pada tetangga walau hanya kaki kambing yang diberi,” (HR. Bukhari, no. 2566 dan Muslim, no. 1030).

4. Hendaknya hadiah itu diterima, jangan ditolak


Dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,

أَجِيبُوا الدَّاعِىَ وَلاَ تَرُدُّوا الْهَدِيَّةَ وَلاَ تَضْرِبُوا الْمُسْلِمِينَ

Terimalah hadiah, janganlah menolaknya. Janganlah memukul kaum muslimin.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 157; Ahmad, 1: 404; Abu Ya’la, 9: 284, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya, 6: 555. Syaikh Musthofa Al-‘Adawi mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dalam Fiqh Al-Akhlaq, hlm. 69. Hadits ini juga dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, no. 1616)

5. Boleh saja hadiah itu ditolak atau dikembalikan


Jika memberikan hadiah pada orang lain namun dikembalikan, maka kita tidak bersedih dan menyimpan uzur padanya. Karena selama alasan yang disebutkan orang tersebut jelas.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ shalat mengenakan pakaian yang bergaris-garis, lalu beliau memandang kepada garis-garisnya sepintas. Maka, tatkala beliau selesai dari shalatnya, beliau bersabda,


Ulasan terkait : Keluar Darah Saat Wudhu Bisa Membatalkan, Lantas Bagaimana dengan Gusi Berdarah?

اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلاَتِي.

Bawalah pakaianku ini kepada Abu Jahm dan bawalah untukku ambijaaniyahnya Abu Jahm, sesungguhnya pakaian ini telah melalaikan aku dari shalatku.”

Dari Ash-Sha’b bin Juttsamah Al-Laitsi -ia termasuk sahabat Nabi ﷺ, bahwa ia pernah memberi hadiah kepada Rasulullah ﷺ berupa keledai liar saat beliau berada di Abwa -atau di Waddan- dan beliau sedang ihram, maka beliau pun menolaknya. Sha’b berkata, “Tatkala beliau melihat perubahan raut wajahku karena penolakannya terhadap hadiahku. Beliau bersabda,

لَيْسَ بِنَا رَدٌّ عَلَيْكَ وَلَكِنَّا حُرُمٌ

Kami tidak menolak (karena ada sesuatu) atas dirimu, akan tetapi (karena) kami sedang dalam keadaan ihram,” (HR. Bukhari, no. 2596).

Kesimpulannya, hukum mengenai hadiah adalah wajib menerima hadiah dan tidak boleh menolaknya kecuali apabila didapati larangan syar’i atau udzur maka boleh menolaknya. Begitu pula dengan si pemberi hadiah, haruslah ikhlas tanpa ada niat apapun yang terselubung apalagi niat tak baik di dalamnya.
Top