Jangan Baper Saat Hadiri Undangan Pernikahan Teman, Ini Solusinya A la Islam!


Seperti yang kita ketahui bersama, pernikahan adalah peristiwa agung bagi setiap individu. Dalam kacamata agama Islam, pernikahan juga mendapat perhatian yang cukup serius. Siapapun yang hendak menikah pasti menggunakan tata acara agama. Maka tidak salah jika peristiwa istimewa ini dirayakan sedemikian rupa oleh para pelakunya salah satunya adalah menggelar resepsi.

Bagi para jomblo, menghadiri resepsi pernikahan adalah salah satu hal yang membuat baper atau bawa perasaan terlihat nyata. Terlebih saat resepsi pernikahan yang kita hadiri adalah teman dekat. Pastilah perasaan bahagia dan juga baper bertumpuk menjadi satu. Apalagi pertanyaan ‘kapan menyusul’ dan ‘kapan nikah’ yang menjadi langganan pertanyaan galau saat seseorang masih sendiri menghadiri pelaminan kawan dekat.

Ulasan terkait : Tahunya Cuma Orang Jahat Saja yang Dapat? Eits, Kenali Dulu Macam Hidayah dari Allah SWT Ini!

Manusiawi jika seseorang baper saat hadiri pernikahan teman, hanya saja perasaan baper tersebut haruslah dalam luang lingkup yang pas. Tidak berlangsung lama hingga mengganggu kondisi psikis. Melansir detik, seorang psikolog klinis dewasa, Sri Juwita Kusumawardhani M.Psi., memberikan cara jitu agar seseorang bisa menepis rasa baper saat hadiri pernikahan teman. Menurutnya, cara-cara berikut ini dapat menjadi alternatif seorang single dalam mengurasi rasa bapernya.

1. Pahami urgensi menikah, bukan karena ‘paksaan’ lingkungan. Menikah adalah proses sakral kehidupan.


Alasan menikah misalnya karena baper, disuruh orang tua, atau sudah umurnya nih menikah, itu bukan alasan untuk menikah. Menikah itu komitmen. Kadang orang mikirin wedding day-nya aja, bukan marriage-nya. Karena menikah sebetulnya permulaan, bukan akhir cerita hidup kita,” pungkas JuWita.

Pada dasarnya, kehidupan setelah menikah itu tidak semudah yang dibayangkan. Terkadang di tengah-tengah pernikahan ada permasalahan dan pertengkaran yang datang silih berganti. Hal semacam itu wajar, namun bila tidak cepat diselesaikan bisa membahayakan keutuhan rumah tangga.

2. Mencari sesuatu yang membahagiakan diri sendiri


Menurut Juwita, jodoh sulit diprediksi, tapi jika memesan tiket untuk bepergian ke suatu tempat, itu bisa dilakukan.

Istilahnya lakukan yang bisa kamu kontrol lah. Fokusnya memperluas network. Kalau kamu cuma meratapi diri kamu sendirian di kamar, gimana mau dapat jodoh kan. Kita bisa ikut komunitas, ya membuka diri lah. Memang sih baper mudah banget timbul apalagi kalau kebanyakan orang di sekitar sudah pada nikah,


Ulasan terkait : Diminta Rasul Beri Salam Saat ke Kuburan, Benarkah Mayit Bisa Menjawabnya?

3. Penyebab baper salah satunya muncul ketika melihat orang sekitar bermesraan di sosial media.


Baper juga bisa muncul ketika melihat kemesraan orang di sekitar. Contoh mudahnya, melihat foto tunangan atau bulan madu teman di sosial media saja bisa membuat seseorang baper. Maka dari itu, Wita menyarankan bagi yang memang merasa sangat tidak kuat melihat situasi seperti itu, ‘puasa’ membuka sosial media bisa dilakukan.

Saudaraku, jika seseorang mengundangmu ke rumahnya untuk makan bersama atau engkau diajak untuk membantunya dalam suatu perkara, maka penuhilah. Karena hal ini akan membuat senang orang yang mengundang dan akan lebih mempererat ukhuwah dan kasih sayang sesama muslim. Jauhkan baper terlebih dahulu dan minta saja doa darinya agar kelak bisa mengundangnya kembali ketika sudah mantap untuk memulai sebuah biduk rumah tangga.
Top