Ini Alasan, Nabi Muhammad yang Begitu Mulia-pun Masih Merasakan Pedihnya Sakaratul Maut


jalur9.com

Nabi Muhammad shalallahu'alaihi wasallam adalah penutup para nabi terdahulu. Ajaran beliau menyempurnakan ajaran para nabi dan rasul sebelumnya. Tidak diragukan lagi rasulullah salallahu'alaihi wa sallam adalah suri tauladan terbaik ummat manusia. Dimana Allah azza wa jalla sendiri yang memuji akhlaknya.

Hidupnya beliau dihabiskan untuk berdakwah dan menyebarkan islam ke seluruh penjuru dunia dan berjuang untuk ummatnya. Hingga tak heran sampai 14 abad pasca kematian rasulullah salallahu'alaihi wa sallam beliau begitu dikenang dan sangat dicintai oleh ummatnya.

Baiklah, sebelum melanjutkan artikel ini ada baiknya mari kita mengirimkan sholawat kepada beliau shallahu'alaihi wa sallam. Semoga dengan banyak-banyak bersalawat untuknya kita diberi syafa'at di akhirat kelak. Aamin ya robbal 'alamin.

Nabi Muhammad shalallahu'alaihi wa sallam adalah sebaik-baik manusia yang Allah azza wa jalla ciptakan. Tidak diragukan lagi beliau adalah orang yang pasti masuk syurga. Lalu bagaimanakah kisah kematian dan sakaratul maut beliau shalallahu 'alaihi wasallam? Berikut ini pemaparannya.

Seperti dikutip dari almanhaj.or.id, kondisi umum proses pencabutan nyawa seorang mukmin mudah lagi ringan. Namun kadang-kadang derita sakarul maut juga mendera sebagian orang sholeh. Tujuannya untuk menghapus dosa-dosa dan juga mengangkat kedudukannya. Sebagaimana yang dialami Rasulullah. Beliau Shallallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan pedihnya sakaratul maut seperti diungkapkan Bukhari dalam hadits ‘Aisyah dan lainnya dibawah ini:

Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma, ia bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ أَوْ عُلْبَةٌ فِيهَا مَاءٌ فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَيَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ فِي أخرجه البخاري ك الرقاق باب سكرات الموت و في المغازي باب مرض النبي ووفاته. الرَّفِيقِ الْأَعْلَى حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ

“Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut”. Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas”[1]

Dari Anas Radhiyallahu anhu, berkata:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَعَلَ يَتَغَشَّاهُ فَقَالَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَام وَا أخرجه البخاري في المغازي باب مرض النبي ووفاته.اليَوْمِ َرْبَ أَبَاهُ فَقَالَ لَهَا لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ

“Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu ayahku”. Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini…[al hadits]” [3]

Menurut Al Qurthubi dahsyatnya kematian dan sakaratul maut yang menimpa para nabi, maka mengandung manfaat :

1. Supaya orang-orang mengetahui kadar sakitnya kematian dan ia (sakaratul maut) tidak kasat mata. Kadang ada seseorang melihat orang lain yang akan meninggal. Tidak ada gerakan atau keguncangan. Terlihat ruh keluar dengan mudah. Sehingga ia berfikir, perkara ini (sakaratul maut) ringan. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi pada mayat (sebenarnya).

Tatkala para nabi, mengabarkan tentang dahsyatnya penderitaan dalam kematian, kendati mereka mulia di sisi Allah, dan kemudahannya untuk sebagian mereka, maka orang akan yakin dengan kepedihan kematian yang akan ia rasakan dan dihadapi mayit secara mutlak, berdasarkan kabar dari para nabi yang jujur kecuali orang yang mati syahid.

2. Mungkin akan terbetik di benak sebagian orang, mereka adalah para kekasih Allah dan para nabi dan rasul-Nya, mengapa mengalami kesengsaraan yang berat ini?
Padahal Allah mampu meringankannya bagi mereka?
Jawabnya, bahwa orang yang paling berat ujiannya di dunia adalah para nabi kemudian orang yang menyerupai mereka dan orang yang semakin mirip dengan mereka seperti dikatakan Nabi kita. Hadits ini dikeluarkan Bukhari dan lainnya. Allah ingin menguji mereka untuk melengkapi keutamaan dan peningkatan derajat mereka di sisi-Nya.

Ini bukan sebuah aib bagi mereka juga bukan bentuk siksaan.
Allah menginginkan menutup hidup mereka dengan penderitaan ini meski mampu meringankan dan mengurangi (kadar penderitaan) mereka dengan tujuan mengangkat kedudukan mereka dan memperbesar pahala-pahala mereka sebelum meninggal.

Tapi bukan berarti Allah mempersulit proses kematian mereka melebihi kepedihan orang-orang yang bermaksiat. Sebab (kepedihan) ini adalah hukuman bagi mereka dan sanksi untuk kejahatan mereka. Maka tidak bisa disamakan”.[3]

Setelah kita mengetahui bahwa rasulullah shalallahu'alaihi wasallam saja manusia terbaik yang Allah sayangi dan ciptakan juga merasakan pedihnya sakaratul maut sepantasnyalah kita juga merenungi nasib sakaratul maut kita masih-masing kelak. apa yang sudah kita persiapkan dan sudah siapkah kita untuk hari kedatangan sakaratul maut? Hanya diri kita sendiri yang bisa menjawab.

Footnote
[1]. HR. Bukhari kitab Riqaq bab sakaratul maut (6510) dan kitab Maghazi bab sakit dan wafatnya Nabi (4446).
[2]. HR. Bukhari kitab Maghazi bab sakit dan wafatnya Nabi (4446).
[3]. At Tadzkirah Fi Ahwali Al Mauta Wa umuri Al Akhirah (1/48-50) dengan diringkas.
Top