Cara Sederhana Agar Tetap Bahagia Menanti Datangnya Jodoh

Komentar



Sahabat, setelah menjalani segala ikhtiar dan doa, penantian menunggu jodoh yang telah Allah tetapkan adalah ujian lain yang mesti dijalani si single. Namun, mau menjalani masa penantian dengan kebahagiaan (atau justru galau), sepenuhnya pilihan masing-masing.

Bagaimana untuk bisa bahagia di masa menanti jodoh? Aktivitasnya bisa sangat beragam. Yang penting pas di hati dan bermanfaat untuk hari ini dan masa depan. Lebih utama lagi jika kegiatan yang dipilih bukan cuma membahagiakan diri sendiri, tapi juga membahagiakan orang di sekitar. Apa saja pilihannya?

Membahagiakan Orangtua

Masih single atau tak single lagi, berbakti kepada orangtua tetaplah kewajiban dari Allah, sebagaimana firman-Nya, “Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya…” (QS Al-Ankabut: 8). Mesti diakui, si single punya lebih banyak waktu untuk membersamai orangtua dibanding mereka yang sudah menikah dan mesti mengurus suami dan anak-anak.

Sayangnya, konflik justru sering terjadi antara keduanya. Biasanya karena teguran dan pertanyaan yang sering dilontarkan orangtua soal jodoh juga.

Sebagaimana orangtua sabar dan telaten merawat kita sejak dilahirkan, sudah seharusnya kesabaran jugalah yang dikedepankan untuk menghadapi mereka. Bicara dari hati ke hati dengan mengutamakan akhlak mulia pasti akan membuat orangtua memahami kondisi kita.

Selanjutnya, berusahalah menyenangkan orangtua. Bila si single punya penghasilan, adalah sangat utama untuk memberi sebagian penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan orangtua.

Sedekah terbaik adalah untuk keluarga, bukan? Apalagi untuk orangtua tercinta. Mengajak mereka berwisata atau sekadar makan bersama pasti menyenangkan. Ingat, ridha orangtua adalah ridha Allah.

Mempelajari Al-Qur’an

Sekadar baca tulis Al-Qur’an, kita mungkin sudah bisa. Namun banyak yang tak sadar bahwa bacaan Qur’an mereka jauh dari sempurna. Hukum tajwid belum lagi dikuasai. Kama, selagi belum sibuk mengurus keluarga, mempelajari Al-Qur’an adalah pilihan yang penuh berkah.

Berbagai lembaga tahsin tersebar di banyak tempat. Biayanya pun sangat terjangkau. Hanya tinggal menyiapkan kemauan untuk serius mengikutinya. Syukur bila bisa terus melanjutkan ke program tahfizh atau menghafal Al-Qur’an.

Langkah ini sekaligus juga menyiapkan diri untuk membentuk rumah tangga Qur’ani. Bila kelak berjodoh dan anak-anak lahir, kita sendirilah yang akan mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka.

Menyantuni Anak Yatim

Berbagi pasti membahagiakan. Salah satunya dengan menyantuni anak yatim. Rasulullah bersabda, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim, di surga seperti ini,” seraya beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah sambil merenggangkannya (HR Bukhari).

BACA JUGA : Istri tidak Cantik, Bolehkah Saya Menikah Lagi?

Teknisnya bisa diatur sesuai keinginan dan keadaan. Misal, apakah secara rutin membiayai anak yatim yang kita kenal atau bahkan mengajaknya tinggal di rumah kita. Kita tak pernah tahu doa dari siapa yang dikabulkan Allah. Bisa jadi doa dari anak yatim yang kita santuni itulah yang menjadi penyebab terbukanya jalan bagi segala kesulitan kita.

Melanjutkan Pendidikan

Tak pernah ada kata cukup untuk ilmu. Pun tak ada batasan usia untuk menguasai ilmu. Bila memang memungkinkan, tak ada salahnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Bila si single bekerja, maka perlu dirancang baik-baik soal waktu antara bekerja dan kuliah. Strategi yang bisa diambil, misalnya, mengambil jurusan yang tidak sampai menyita waktu dan tenaga, serta mencari kampus yang dekat tempat kerja. Perhitungkan pula biaya pendidikan yang sesuai dengan penghasilan.

Mempelajari Keterampilan Tertentu

Keterampilan yang akan kita pelajari bisa berkaitan dengan hobi, kebutuhan, atau keingintahuan akan hal-hal yang baru. Keterampilan menjahit atau memasak, misalnya, bisa berkait dengan hobi dan kebutuhan, bahkan berkait dengan bisnis. Yang pasti keterampilan ini bermanfaat untuk saat ini dan saat berkeluarga kelak.

Kita bisa mempelajari macam-macam keterampilan ini di lembaga tertentu atau secara privat pada ahlinya. Sesuaikan saja dengan keadaan dan keuangan yang kita miliki. Namun, pastikan kita senang menjalaninya. Rasa senang akan mempermudah kita dalam belajar. Lagi pula tujuan kita untuk mencari kebahagiaan, bukan?

Merintis Bisnis

Walau sudah memiliki pekerjaan tetap, mencoba berbisnis tentu tak ada salahnya. Apalagi bila sejak awal sisingle sudah merencanakan bahwa setelah menikah nanti dia ingin fokus di rumah. Maka pilihan untuk memulai bisnis—terutama bisnis rumahan—patut dicoba. Produk bisnisnya bisa berupa barang atau jasa yang bisa dijalankan langsung atau melalui online.

Awalnya bisnis yang akan dijalankan ini mungkin hanya bisnis sampingan. Tapi lambat laun, dengan kerja keras dan proses jatuh bangun, bisa menjadi bisnis utama yang lebih menguntungkan daripada penghasilan yang didapat dari pekerjaan tetap. Saat berkeluarga kelak, bisnis ini bisa menyokong ekonomi keluarga.

Travelling

Betapa luasnya dunia di luar sana. Betapa banyak tempat yang bisa kita datangi hingga terbuka cakrawala dalam diri kita, sekaligus mempelajari tanda-tanda kekuasaan Allah di atas muka Bumi. Bahkan di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa perintah Allah untuk melakukan perjalanan.

Salah satunya di surat Ar-Rum: 42, “… adakanlah perjalanan di muka Bumi dan perhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu…”

Setelah menikah biasanya kesempatan untuk melakukan travelling lebih terbatas. Maka manfaatkan waktu sebelum menikah untuk melakukan travelling yang kini bahkan bisa dilakukan dengan biaya murah. Tentu dengan strategi tertentu. Jangan abaikan keamanan saat bepergian, juga aturan syariat bagi Muslimah yang melakukan perjalanan.
Top