Bersabar, Kunci Kesuksesan Dalam Mendidik Buah Hati




Sahabat, sebagai orangtua kita tentu berkeinginan untuk mendidik dan memperlakukan anak kita dengan sama. Tapi, kenyataannya masih juga kita mendengar anak-anak mengeluh karena merasa kurang diperhatikan dibandingkan dengan saudaranya.

Atau ketika kita memberlakukan kebijakan A pada anak ke-1, ternyata kebijakan itu tidak tepat digunakan untuk anak ke-2. Yah, begitulah seni mendidik anak. Selain terus belajar tentunya pengalaman sangat mempengaruhi sikap kita terhadap anak.

Walaupun baru memiliki 3 anak, saya dan suami selalu dikejutkan dengan perubahan-perubahan mereka karena karakter mereka yang sangat berbeda. Hal ini tentunya juga menuntut perlakuan dan pendekatan yang berbeda pada tiap anak.

Anak pertama saya cenderung introvert dan cerdas serta mempunyai disiplin yang tinggi, namun kurang perhatian terhadap sesama. Untuknya saya bersikap tegas karena dia anak laki-laki dan juga paling besar.

Ternyata jurus ini tidak pas ketika diterapkan untuk anak saya yang kedua. Anak saya ini sangat sensitif, sehingga akhirnya saya banting setir menghadapinya dengan lemah lembut. Lain lagi dengan si bungsu yang periang dan penyayang, namun pembosan. Untuk yang satu ini saya harus tarik ulur, kadang saya perlakukan lembut dan pada waktunya saya juga harus tegas.

Saya sudah sering mendengar dan mengikuti pelatihan tentang mendidik anak, membaca buku, dan meminta pendapat dari psikolog. Tapi kadang rasa putus asa menghadapi tingkah laku mereka tetap muncul.

BACA JUGA : Nasehat Sering Diabaikan Anak?? Jangan Cemas, Lakukan Cara Ini

Namun, satu kata kunci dari semuanya adalah “sabar”. Ketergesa-gesaan  akan membuat kita frustasi dan anak-anak jadi menderita. Cobalah untuk terus berempati, memberikan mereka kesempatan, dan membuka dialog-dialog yang sehat.

Suami saya pernah sampai lepas tangan menghadapi si sulung. Namun, saat itu saya mencoba menjadi penengah di antara keduanya. Saya katakan pada suami, “Anggaplah dia sakit. Jiwanya butuh pertolongan. Apakah mungkin kita sebagai orangtua akan lepas tangan?” Alhamdulillah, suami tersentuh.

Dalam mendidik anak, saya tidak setuju apabila dikatakan pendidikan anak adalah tanggung jawab ibu karena ayah sudah mencari nafkah. Kerja sama ibu dan ayah justru akan membuat pendidikan di rumah berjalan dengan baik.

Misalnya saja soal aturan membereskan kamar sebelum berangkat sekolah. Hal itu saya sampaikan kepada anak-anak dengan lemah lembut, juga dengan nasehat dan ketegasan. Namun ada saja alasan anak-anak, buru-buru, lupa, nanti.

Saya dan suami kemudian berembuk untuk memberikan reward (hadiah), pujian, dan akan terus mengontrol dan memberi semangat kepada anak-anak untuk masalah ini. Kami bersepakat kalau hal-hal itu akan kami lakukan terus-menerus. Kalau saya tidak sempat, suami yang melakukannya. Akhirnya apa yang kami harapkan tercapai. Sekarang semua kamar tertata rapi dan bersih sebelum anak-anak pergi sekolah.

Banyak juga kebijakan lain yang pada awalnya dilakukan sepihak sehingga akhirnya malah jadi tumpul. Namun ketika kebijakan itu didukung oleh saya dan suami secara bersamaan, maka akan berhasil dengan sukses.

Hal ini memberikan pelajaran bagi saya bahwa dalam hal kerja sama mendidik anak, seorang ibu lebih banyak terjun di bidang operasional, pengawasan, dan penemu ide-ide baru bagi kemajuan pendidikan anak. Sedangkan ayah adalah korektor dan motivator ulung yang memberikan ruh bagi setiap kegiatan dalam rumah tangga.

Kalau setiap kita menyadari hal tersebut, maka hari-hari yang kita lalui sebagai orangtua akan terasa lebih indah dan menyenangkan. Tentunya selama apa yang kita lakukan selalu diniatkan untuk mencari keridhaan Allah. Dan itulah yang saya rasakan sekarang.
Top