Amalan Kan Sendiri-sendiri, Memang Boleh Berniat Sedekah untuk Orang Lain?


Setiap manusia, terlebih lagi umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amal shaleh sebagai bekal untuk di akhirat kelak. Diantaranya yang mendapatkan pahala yang melimpah ialah tak melukai hati orang lain dan sebisa mungkin membantu mereka-mereka yang sedang membutuhkan. Selain berhubungan dengan Tuhan, berhubungan baik dengan manusia juga sama pentingnya.

Baca juga : Kata Siapa Pujian Itu Baik? Salah-salah Bisa Jadi Sumber Penyakit Lho!

Oleh karena itulah sedekah menjadi salah satu jalur yang tepat untuk menjalin hubungan silaturahim yang baik antar sesama manusia. Sedekah bisa dilakukan oleh siapa saja. Ketika seseorang bersedekah maka akan mendapatkan ganjaran dari apa yang telah disedekahkannya. Apalagi jika bersedekah hanya untuk mengharapkan ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan mengharapkan pujian manusia.

Tatkala seseorang bersedekah maka jelas pahala yang mengalir untuk dirinya. Namun bolehkah meniatkan pahala sedekah untuk orang lain? Jawabannya boleh. Seseorang bisa meniatkan sedekahnya untuk orang lain, baik itu orang tua atau yang lainnya.

Lantas, apakah orang lain tersebut harus yang masih hidup? Bagaimana jika meniatkannya untuk orang yang telah tiada? Apakah boleh?

Dalam hal ini, terdapat dalil tegas, bahwa orang yang hidup bisa menghadiahkan pahala sedekah untuk orang yang telah meninggal. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi ﷺ,

إِنَّ أُمِّيَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، أَفَلَهَا أَجْرٌ، إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا

Ibuku mati mendadak, sementara beliau belum berwasiat. Saya yakin, andaikan beliau sempat berbicara, beliau akan bersedekah. Apakah beliau akan mendapat aliran pahala, jika saya bersedekah atas nama beliau?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya. Bersedekahlah atas nama ibumu,” (HR. Bukhari 1388 dan Muslim 1004).

Selain itu juga terdapat dalam hadis yang lain, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwa ibunya Sa’d bin Ubadah meninggal dunia, ketika Sa’d tidak ada di rumah. Sa’d berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا، أَيَنْفَعُهَا شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ

“’Wahai Rasulullah, ibuku meninggal dan ketika itu aku tidak hadir. Apakah dia mendapat aliran pahala jika aku bersedekah harta atas nama beliau?’ Nabi ﷺ menjawab, ‘Ya’,” (HR. Bukhari 2756).

Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa pahala sedekah atas nama orang yang wafat bisa sampai kepada orang yang wafat tersebut. Bahkan Imam Nawawi mengungkapkan bahwa pahala sedekah ini bisa sampai kepada mayit dengan sepakat ulama. (Syarh Shahih Muslim, 7/90)

Nah, lalu apakah ini juga berlaku untuk yang hidup? Ya, hal ini juga berlaku bagi yang hidup. Misalnya si A bisa bersedekah atas nama orang tuanya, saudaranya atau siapapun.
Dalam matan al-Iqna’—kitab fiqh madzhab hambali—dinyatakan,

وكل قربة فعلها المسلم وجعل ثوابها أو بعضها كالنصف ونحوه، لمسلم حي أو ميت جاز، ونفعه، لحصول الثواب له.


Baca juga : Karena Setan Inilah yang Mendampingi Kita Seumur Hidup! Benarkah Demikian?

Semua ibadah yang dilakukan seorang muslim, kemudian dia pahalanya atau sebagian pahalanya, misalnya setengah pahalanya untuk muslim yang lain, baik masih hidup maupun sudah meninggal, hukumnya dibolehkan, dan bisa bermanfaat baginya. Karena dia telah mendapatkan pahala. (al-Iqna’, 1/236).

Bahkan sebagian ulama mengatakan, bahwa menghadiahkan pahala sedekah bisa diberikan kepada orang yang hidup dengan sepakat kaum muslimin. Berikut pernyataan Imam Ibnu Baz, “Untuk sedekah, bisa bermanfaat bagi yang hidup maupun yang mati dengan sepakat kaum muslimin. Demikian pula doa, bisa bermanfaat bagi orang yang hidup maupun yang mati dengan sepakat kaum muslimin,” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 4/348).
Top