Seperti Inikah Karakter Seorang Muslim Setiap Harinya?


Ibn Al-Jauzi dalam bukunya Shaid Al-Khatir menulis, “Setiap orang yang tidak memikirkan akibat dan tidak mempersiapkan diri menghadapi sesuatu yang mungkin terjadi adalah orang yang tidak punya akal yang sempurna.”

Ungkapan tersebut seperti menjelaskan bahwa tidak ada kecerdasan tanpa taqwa. Sebab Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang yang cerdas itu adalah yang mengendalikan hawa nafsu dan berbuat untuk kehidupan setelah mati.

Dan, inilah tugas utama setiap Muslim, yakni membuktikan keimanan dan ketaqwaan. Tidak ada gunanya pengetahuan, gelar dan pengakuan segenap umat manusia jika nihil dalam amalan.

Fudhail bin Iyadh berkata, “Seorang berilmu belumlah beranjak dari kebodohan atas apa yang diilmuinya, hingga dia mengamalkannya.”

Namun, manusia sekarang lebih sering galau hanya karena belum punya ini dan itu dan sama sekali tidak risau bahwa dirinya dalam sehari-hari meninggalkan sholat, tidak berinfak, suka memandang rendah sesama dan sama sekali tidak menyebut nama Allah baik dengan lisan maupun hati.

Dan ternyata, perkara hakiki yang dipandang terus-menerus oleh Allah adalah iman dan taqwa kita. Lantas bagaimana kita menghidupkan iman dan taqwa sehari-hari sepanjang hayat?

1. Menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai spirit dalam kehidupan
Al-Qur’an dan Sunnah bukan semata bacaan, melainkan juga manual perilaku yang harus diamalkan oleh setiap Muslim. Oleh karena itu, sebuah keniscayaan untuk menjadikan keduanya sebagai basis dalam membangun spirit, dan merasuk di dalam diri kita melalui cara berpikir, bertindak dan berkata-kata.

وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ مُبَارَكٌ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (QS. Al-An’am [6]: 155).

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman.

وَٱتَّبِعُوٓا۟ أَحْسَنَ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ

ٱلْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya,” (QS. Az-Zumar [39]: 55).

2. Meletakkan segala sisi kebendaan sebagai kendaraan, bukan raja di dalam hati
Terkadang manusia terlena oleh adanya kepemilikan benda-benda, mulai dari kendaraan, rumah hingga aset berharga lainnya, sehingga setiap hari hati dan pikirannya habis memikirkan dan mencintai semua yang semu itu.

أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ

حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur” (QS. At-Takatstsur [102]: 1 -2).

3.Jelas menempatkan tujuanKendala tidak kalah sulit yang dihadapi oleh hati yang imannya kembang kempis adalah pemahamannya tentang tujuan dan sarana. Kadang terbalik, sarana jadi tujuan dan tujuan jadi sarana.

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. Al Qashshash [28] : 77).
loading...
Top
loading...