Karena Dalih Agamamu, Kau Khianati Aku dengan Menikah Lagi

Komentar

unsplash.com

Keyakinan adalah keyakinan, apapun itu bentuknya. Keyakinan kadang tak mempedulikan perasaan orang lain, siapapun orangnya. Keyakinan bisa jadi ‘pembunuh’ dengan segala jalan, bagaimanapun caranya. Apalagi keyakinan terhadap satu ajaran agama, yang di dunia ini terdapat banyak rupa, wujud dan ragamnya.

Bukan tentang silang sengkarut yang sedang terjadi di dalam negeri sekarang ini. Bukan kapasitasku untuk membahasnya. Sudah terlalu banyak orang bicara, menuliskannya lalu memperdebatkannya dalam selisih pendapat yang berbeda-beda. Ini tentang seorang perempuan yang dikhianati dengan sebuah alasan keyakinan pada ajaran agama.

Agama yang konon memberikan kebebasan kepada laki–laki untuk menikah secara mudah, di bawah tangan, dengan perempuan sekeyakinan dan kapan pun saja maunya. Dengan berbagai cara, ajaran agama yang seharusnya mulai itu justru jadi siksa tatkala dijalankan tanpa persetujuan istri yang terdahulu.

Nikah siri atau nikah mut’ah adalah prosesi pernikahan yang dilakukan oleh para laki-laki yang meyakini ajaran yang dianutnya. Ajaran ini memang tertuang dalam Al Qur'an, namun diiringi dengan 'terms and condition' yang tak sembarang dijalankan. Namun pada prakteknya, masih banyak perempuan tetap merasa dikhianati oleh lelakinya, suaminya dan ayah dari anak-anaknya.

Awalnya si lelaki menyatakan diri berjanji dan bersumpah untuk tak akan menduakan istri terdahulunya, demi memperoleh cinta perempuan yang dipinangnya. Namun ‘memang lidah tak bertulang, tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati’ demikian kutipan dari sebuah lagu jaman dahulu yang sepertinya cocok untuk mengilustrasikan peristiwa seperti ini. Peristiwa yang terus terjadi dan frekuensinya semakin hari semakin meninggi.

Ini tentang komitmen. Komitmen yang sebenarnya wajib menjadi landasan berpijak setiap perkawinan antara sepasang anak manusia. Baik berbentuk komitmen yang tersirat maupun yang tersurat, yang menyangkut hal-hal yang umum maupun yang khusus dan rahasia untuk mereka berdua.

Cukup bagi keduanya dengan berpegang dengan komitmen ini, maka perkawinan keduanya dijamin selamat. Namun apalah daya, terkadang hati manusia bisa berbalik 180 derajat demi menuruti keinginan, ambisi bahkan rongrongan syahwat. Menjadikan manusia bisa dengan mudah untuk berpaling dari komitmen lalu mengambil jalan khianat.

Yang kali ini dilakukan dengan dalih serta alasan pembenaran untuk menuruti ajaran keyakinan dan tuntunan agamanya yang dianutnya. Lalu kemana janji manis serta komitmen mantap yang dulu dinyatakan itu?

Janji adalah hutang dan komitmen adalah sebentuk jaminan yang diberikan. Sekalipun ‘hanya’ berjanji kepada istri, namun pertanggungjawaban tetap harus dilakukan di depan Tuhan.

Apapun ajaran keyakinannya, apapun anutan agamanya.

Janji, biasanya diucapkan oleh mereka yang berniat baik, namun hanya segelintir orang yang berkarakter yang bisa menepatinya. Janji terkadang bisa berarti segalanya bagi seseorang. Namun saat janji tak ditepati, segalanya tak akan berarti lagi. Maka janji bisa jadi merupakan tindakan yang lebih buruk dari bohong, karena janji membuat seseorang berharap.

Berharap akan sesuatu yang terjadinya ternyata tak pasti. Berharap sekian lama, namun terluka di akhirnya.


unsplash.com

Sang perempuan, tokoh yang menginspirasi tulisan ini, kini meratapi nasibnya, sembari tetap terseok-seok menapaki jalan terjalnya. Meninggalkan lelakinya yang selama ini dicintai, disegani dan dihormati karena alim dan janjinya. Pernah sekali dia berniat untuk bunuh diri, namun melihat anak-anak kecilnya, kematian tidak lagi menjadi keinginan. Dan kini ia pun harus terus hidup dan berjalan meninggalkan janji dan komitmen yang tak ditepati, demi anak-anaknya.

Dalam hidup, ada tiga hal yang tidak boleh disepelekan dam harus dipegang dengan kesungguhan. Dan ketiganya saling berhubungan adalah: janji, kepercayaan seseorang dan hatinya.

Sumber: Dikutip dari vemale.com, ditulis oleh Yasin bin Malenggang.
Top