Inilah Berprasangka Buruk yang Dibolehkan, Cermati Sebelum Menghakimi!


Siapa yang ingin dinilai buruk oleh orang lain? Begitu pula dengan si penilai yang mencap orang lain melakukan sesuatu yang buruk tanpa diketahui oleh orang lain. Itulah yang dinamakan prasangka buruk. Benar atau tidaknya seseorang telag melakukan hal yang tidak baik, orang lain pastilah ada yang berpikiran tak sejalan dan cenderung menghakimi.

Ketahui bahwa berprasangka buruk terhadap orang lain adalah suatu akhlak yang tidak terpuji. Hal ini pun sangat dilarang oleh agama Islam. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

اِجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Jauhilah kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa,” (QS. Al-Hujuraat: 12).

Baca juga : Tepis dan Buang Jauh-jauh Bisikan Setan, Begini Caranya!

Nabi SAW juga bersabda:

إياكم والظنَّ، فإنَّ الظنَّ أكذب الحديث

Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta,” (HR. Bukhari-Muslim).

Kedua hal tersebut menandakan bahwa berprasangka buruk terhadap sesama Muslim yakni suatu yang terlarang. Kenapa? Karena pada dasarnya kehormatan seorang Muslim itu terjaga dan mulia.

Namun, ada prasangka buruk yang ternyata dibolehkan. Syaikh As Sa’di menjelaskan surat Al Hujurat ayat 12: “Allah Ta’ala melarang sebagian besar prasangka terhadap sesama Mukmin, karena ‘sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa’. Yaitu prasangka yang tidak sesuai dengan fakta dan bukti-bukti,” (Taisir Karimirrahman).

Maknanya, jika suatu prasangka didasari bukti atau fakta, maka tidak termasuk ‘sebagian prasangka‘ yang dilarang. Sebagaimana Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga mengatakan:

فالواجب على المسلم أن لا يسيء الظن بأخيه المسلم إلا بدليل، فلا يجوز له أن يتشكك في أخيه و يسيء به الظن إلا إذا رأى على أمارات تدل على سوء الظن فلا حرج

Maka yang menjadi kewajiban seorang Muslim adalah hendaknya tidak berprasangka buruk kepada saudaranya sesama Muslim kecuali dengan bukti. Tidak boleh meragukan kebaikan saudaranya atau berprasangka buruk kepada saudaranya kecuali jika ia melihat pertanda-pertanda yang menguatkan prasangka buruk tersebut, jika demikian maka tidak mengapa.

Beliau juga mengatakan:

فالواجب على كل مسلم، رجل أو امرأة، الواجب الحذر من سوء الظن، إلا بأسباب واضحة، وإلا فالواجب ترك الظن السيئ، لا بالمرأة ولا بالزوج ولا بالأولاد، ولا بأخي الزوج ولا بأبيه، ولا بغير ذلك، الواجب حسن الظن بالله، وحسن الظن بأخيك المسلم، أو بأختك المسلمة، وألا تسيء الظن، إلا بأسباب واضحة توجب التهمة، وإلا فالأصل البراءة والسلامة


Baca juga : Dianggap Sepele, Apakah Boleh Makan Bareng dengan Orang Kafir?

Maka yang menjadi kewajiban seorang Muslim, baik lelaki atau perempuan, wajib untuk menjauhi prasangka buruk. Kecuali ada sebab-sebab yang jelas (yang menunjukkan keburukan tersebut). Jika tidak ada, maka wajib meninggalkan prasangka buruk. Tidak boleh berprasangka buruk kepada istri, kepada suami, kepada anak, kepada saudara suami, kepada ayahnya atau kepada saudara Muslim yang lain. Dan wajib berprasangka baik kepada Allah, serta kepada sesama saudara dan saudari semuslim. Kecuali jika ada sebab-sebab yang jelas yang membuktikan tuduhannya. Jika tidak ada, maka hukum asalanya adalah bara’ah (tidak ada tuntutan) dan salamah (tidak memiliki kesalahan),” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 21/147-148).

Maka, prasangka yang didasari oleh bukti-bukti, atau pertanda, atau sebab-sebab yang menguatkan tuduhan itu dibolehkan. Semisal, jika kita melihat seorang yang datang ke parkiran motor lalu membuka paksa kunci salah satu motor dengan terburu-buru, kita boleh berprasangka bahwa ia ingin mencuri. Atau kita melihat orang-orang berkumpul di pinggir jalan disertai botol-botol khamr dengan wajah kuyu dan mata sayu, kita boleh berprasangka bahwa mereka sedang mabuk-mabukan.

Jelasnya ketahui dulu sebelum men-judge orang lain melakukan hal yang tidak baik atau tidak. Serta ingatkan untuk kembali kepada jalan yang benar jika memang ketahuan melakukan hal buruk. Siapa tahu Allah SWT memberikan hidayah dan membuat orang tersebut semakin baik dari hari ke hari.
loading...
Top