Ini Pria yang Berani Menutup Mulut Rasulullah! Memangnya Ada Apa?


Rasulullah sebagai seorang Nabi yang diutus oleh Allah SWT untuk mengembalikan manusia kepada jalan yang benar, sehingga membuat semua umat muslim di dunia sangat ragu untuk berhadapan atau bahkan menyentuhnya. Bukan karena takut, namun umat Islam sangat mencintai Rasul Allah tersebut hingga apalah manusia biasa yang ingin menyentuh Rasulullah.

Akan tetapi ada seseorang yang berani menutup mulut Rasulullah karena takut dengan apa yang Nabi Muhammad SAW ucapkan sehingga dengan terpaksa ia melakukan hal tersebut agar tak terulang kembali kejadian lampau yang mengerikan itu.

Baca juga : 3 Alasan Mengapa Olahan Babi Begitu Menggiurkan!

Dalam sebuah kisah yang terjadi sesaat setelah dua orang pahlawan Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma masuk Islam. Kaum musyrikin mulai kebingungan dan akan mengajukan negosiasi. Mereka berniat memenuhi semua tuntutan yang diinginkan Rasulullah SAW, asalkan beliau mau menghentikan dakwahnya.

Ibnu Ishaq berkata, “Yazid bin Ziyad berkata kepadaku, dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhiy, dia berkata, “Suatu hari ‘Utbah bin Rabi’ah -yang merupakan seorang kepala suku- berbicara di perkumpulan Quraisy saat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam duduk-duduk seorang diri di masjid.

Wahai kaum Quraisy! Bagaimana pendapat kamu bila aku menyongsong Muhammad dan berbicara dengannya lalu menawarkan kepadanya beberapa hal yang aku berharap semoga saja sebagiannya dia terima lalu setelah itu kita berikan kepadanya apa yang dia mau sehingga dia tidak lagi mengganggu kita?

Mereka berkata kepadanya, “Tentu saja bagus, wahai Abu al-Walid! Pergilah menyongsongnya dan berbicaralah dengannya!

‘Utbah segera menyongsong beliau SAW dan duduk di sampingnya seraya berkata, “Wahai anak saudaraku! Sesungguhnya engkau telah datang kepada orang-orang dengan sesuatu hal yang amat besar sehingga membuat mereka bercerai berai, angan-angan mereka engkau kerdilkan, Tuhan-Tuhan serta agama mereka engkau cela dan nenek-nenek moyang mereka engkau kafirkan. Dengarlah! Aku ingin menawarkan beberapa hal kepadamu lantas bagaimana pendapatmu tentangnya? Semoga saja sebagiannya dapat engkau terima.

Wahai Abu al-Walid! Katakanlah, aku akan mendengarkannya!” jawab Rasulullah SAW.

Wahai anak saudaraku! Jika apa yang engkau bawa itu semata hanya menginginkan harta, kami akan mengumpulkan harta-harta kami untukmu sehingga engkau menjadi orang yang paling banyak hartanya diantara kami. Jika apa yang engkau bawa itu semata hanya menginginkan kedudukan, maka kami akan mengangkatmu menjadi tuan kami hingga kami tidak akan melakukan sesuatu pun sebelum engkau perintahkan. Jika apa yang engkau bawa itu semata hanya menginginkan kerajaan, maka kami akan mengangkatmu menjadi raja. Dan jika apa yang datang kepadamu adalah jin yang engkau lihat dan tidak dapat engkau mengusirnya dari dirimu, kami akan memanggilkan tabib untukmu serta akan kami infakkan harta kami demi kesembuhanmu, sebab orang terkadang terkena oleh jin sehingga perlu diobati,” katanya –atau sebagaimana yang dia katakan- hingga akhirnya ‘Utbah selesai dan Rasulullah mendengarkannya.

Lalu beliau berkata, “Wahai ‘Utbah! Sudah selesaikah engkau?

Dia menjawab, “Ya.”

Beliau berkata, “Nah, sekarang dengarkanlah dariku!

Beliau membacakan firman-Nya surat Fushshilat dari ayat 1-5 yang artinya, ”Hâ mîm. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam Bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya). Maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata, ‘Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya.

Kala ‘Utbah mendengar bacaan Rasulullah SAW sampai pada ayat 13, “Jika mereka berpaling maka katakanlah, ‘Aku telah memperingatkan kamu akan bencana petir seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan kaum Tsamud.


‘Utbah menutup mulut Rasulullah dengan tangannya sembari memohon supaya berhenti membaca karena takut ancaman yang terkandung di dalam ayat tersebut. ‘Utbah kemudian kembali kepada kaumnya yang sudah menantinya. Mereka bertanya, “Bagaimana hasilnya, wahai Abul Walid?

‘Utbah menjawab, “Aku mendengar suatu pekerjaan yang belum pernah aku dengar sama sekali. Demi Allah, perkataan itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan pula mantra dukun. Wahai kaum Quraisy, taatilah aku dan biarkanlah Muhammad dengan urusannya. Biarkanlah dia! Demi Allah, sungguh perkataan yang aku dengar darinya itu bukan menjadi berita yang menggemparkan.

Jika yang dikemukakan Muhammad terjadi pada bangsa Arab, hanya dia yang bisa membebaskan kamu. Jika Muhammad berkuasa (terhadap) bangsa Arab, kekuasaannya adalah kekuasaanmu, kemuliaannya adalah kemuliaanmu juga.

Baca juga : Sisi Lain Hidup, Pria Tampan Ini Rela Bantu Non Muslim Hingga Kucing Jalanan!

Kaum Quraisy menjawab, “Demi Allah, Muhammad telah menyihirmu dengan perkataannya, wahai Abul Walid.

‘Utbah berkata, “Demikianlah pendapatku tentang Muhammad. Kamu bebas berbuat sesukamu.”
Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa ‘Utbah mendengar dengan khusyuk hingga bacaan Rasulullah SAW sampai pada ayat 13 tersebut.

Seketika itu ‘Utbah langsung berdiri karena terperanjat dan cepat-cepat menutup mulut Rasulullah dengan tangannya seraya berkata, “Aku minta kepadamu atas nama Allah agar mengingat rahim (hubungan kekeluargaan di antara kita).

Hal itu ‘Utbah lakukan karena takut terhadap peringatan yang disebutkan Rasulullah SAW akan menimpa dirinya pula.

Subhanallah, sungguh dahsyat sekali apa yang Allah timpakan kepada mereka yang tak mau berada di jalan yang lurus. Semoga Allah SWT mengampuni dosa kita dan dosa kedua orang tua kita, serta dihindarkan dari azab serta selalu dalam lindungan Allah SWT, dan digolongkan dalam golongan orang-orang yang beriman.
loading...
Top