Menjadi Dewasa Tanpamu Itu Sungguh Sulit dan Bukanlah Hal yang Mudah, Ibu

Komentar

Ibu, kau tidak pernah mengajarkanku bagaimana caranya menjadi perempuan yang kuat. Tidak, bukan dengan mengajarkan. Kau membuatku belajar sendiri, dari caramu bertahan hidup, dari caramu menyembunyikan air mata, dari caramu berdiri saat sakit. Aku merekam segalanya dalam kepala kecilku, dan kau hanya diam tanpa pernah berkata 'Ibu tidak apa-apa dan kamu harus menjadi orang yang lebih kuat dari sekarang'. Aku menyimpan semuanya dan berangan-angan bisa menjadi sepertimu saat aku dewasa.

Baca juga : Jangan Pernah Sekalipun Melakukan Hal Ini Jika Orang Tua Sudah Meninggal!

Aku masih ingat betul, bagaimana Ibu berangkat pagi-pagi dan pulang selepas senja untuk menghidupiku. Bagaimana Ibu menempuh terik matahari dan dingin hujan, berkendara melewati batas-batas kota, tanpa pernah mengeluh kala rebah di sampingku. Aku hanya menatap Ibu dengan mataku yang sendu. Ibu tak pernah berkata Ibu lelah, tapi aku tahu, garis halus di bawah mata Ibu lebih dari sekedar kata lelah.

Ibu ingat, hari pertama aku meninggalkan rumah? Ibu menangis karena aku memutuskan hidup terpisah dengan Ibu. Aku beralasan ingin hidup sendiri selepas SMA, jauh dari kota kecil kita, dan berhenti bergantung pada Ibu. Saat itu, Ibu mengukir rasa takut paling besar di ambang pintu, sedangkan aku adalah anak paling angkuh. Kupikir, aku bisa hidup di luar sana tanpa tersesat.

Namun ternyata, yang lebih memalukan adalah, ya, aku gagal membuktikan bahwa aku bisa menjadi wanita tangguh seperti Ibu. Bahkan hal-hal kecil pun melumpuhkanku.

Baca juga : Kenapa Disenangi Manusia, Bisa Jadi Ujungnya Siksa Neraka?

Aku tak sekuat Ibu saat tubuhku kubanting keras mencari rupiah, bahkan untuk diriku sendiri. Aku bahkan lumpuh hanya karena cinta memporak-porandakan hatiku, jauh berbeda dengan Ibu yang begitu tegar saat Ayah meninggalkan kita. Aku juga menangis seperti bayi saat teman-temanku menjauh, tak seperti Ibu yang tabah saat tetangga memfitnah Ibu dengan tuduhan macam-macam. Kita ternyata jauh berbeda. Aku ternyata hanya pecundang, dan Ibu terlalu malaikat untuk kutandingi.

Masih pantaskah aku pulang dengan timbunan kesalahanku, dan noda-noda di tubuhku? Seandainya waktu bisa kuulang, aku ingin belajar lagi dari awal, di sampingmu. Karena ternyata, aku tak mampu dewasa tanpamu (narasi Tesa Darma)
Top