Membentak untuk Bikin Anak Patuh? Sekarang Lakukan Cara yang Lebih Mudah Seperti Ini!

Komentar

Setiap orang tua pastinya ingin mempunyai anak yang baik, penurut, serta bisa bertanggung jawab dengan apa yang dia kerjakan. Untuk itulah para orang tua berlomba untuk melatih agar anaknya menjadi disiplin dan mengerti tentang posisi orang yang lebih tua dalam hidupnya. Sehingga, ayah dan ibu berharap semua putra dan putrinya menjadi seorang yang penurut. Akan tetapi, masih banyak orang tua yang mendidik anak mereka dengan kekerasan dan bentakan dengan harapan agar anak menurut.

Baca juga : "Ketahuilah Bahwa Pendidikan Tinggiku Hanya Untukmu dan Anak-Anak Kita Nanti"

Tahukah bahwa agar anak menjadi seorang yang penurut sebaiknya hindari bentakan saat berbicara pada anak. Meski sulit, Anda tetap perlu mengendalikan diri saat berkomunikasi dengan anak. Lalu, bagaimana cara membuat anak Anda menjadi penurut tanpa bentakan? Berikut ini ada beberapa tips sederhana yang lebih mudah untuk para orang tua, dimana ingin menjadikan anak mereka menurut tanpa ada kekerasan dan bentakan.

1. Lakukan kontak mata


Dekati anak, usahakan posisi sejajar dengannya bisa menunduk atau berjongkok, lalu tatap matanya. Tapi jangan terlalu terlihat mengancam. Cara ini untuk memastikan bahwa orang tua menaruh perhatian sepenuhnya saat berkomunikasi dengan anak. Anak-anak pun akan lebih nyaman saat orang tua yang mengajaknya bicara berada dekat dengannya.

2. Sebutkan namanya dengan nada positif


Pikiran anak-anak sering tidak fokus. Banyak hal yang bisa dipikirkan, mulai dari soal teman-temannya, sekolah, dan hal-hal lainnya. Untuk mendapatkan perhatian anak, sebutkan dan panggil namanya dengan nada positif dan biasa. Akan butuh waktu beberapa saat sampai ayah dan ibu bisa mendapat perhatian anak sepenuhnya. Di sini orang tua memang harus bisa benar-benar bersabar. Saat perhatian anak sudah didapatkan, barulah sampaikan pesan yang ingin diberikan pada si kecil.

3. Gunakan bahasa yang positif


Sebisa mungkin hindari penggunaan kata jangan, tidak boleh, dan sejenisnya. Agar anak merasa percaya diri dan nyaman, Anda perlu menggunakan kata-kata yang positif. Jelaskan apa yang seharusnya dilakukan oleh anak. Misalnya, “Tolong bawa piring-piring kotor ini ke bak cucian, ya. Terima kasih.” Hindari menggunakan kata atau nama panggilan yang membuat anak tak nyaman.

Baca juga : "Apakah Aku Secantik Itu? Ah, Iya Seperti Kata Suamiku"

4. Bersikap Asertif


Asertivitas merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Ketika berkomunikasi dengan anak, orang tua perlu bersikap asertif. Gunakan kalimat dan nada yang jelas, positif, serta padat. Sebagai contoh, “Setelah selesai membereskan mainan, Adik boleh nonton TV atau main di luar.” Jelaskan pada anak soal apa yang harus mereka lakukan, apa alasan mereka, dan bagaimana mereka bisa menyelesaikannya.

Satu lagi yang harus diperhatikan saat berkomunikasi dengan anak, yakni tentang perasaan atau mood yang sedang ia rasa. Di sini memang harus lebih peka dan hati-hati. Apakah anak sedang lelah, marah, kecewa, cemas, atau mengkhawatirkan sesuatu, perhatikan raut wajahnya. Sebisa mungkin jangan menghakimi anak. Posisikan diri sebagai orang tua yang akan membantu mereka mengatasi masalahnya. Sehingga komunikasi bisa lebih diterima.

Cara berkomunikasi dengan anak memang perlu teknik dan metode khusus. Sehingga mampu membuat anak merasa diperhatikan dan menanggapi tumbuh kembang anak dengan cara yang mendidik dan penuh dengan kasih sayang.
Top