Kata Seram Ketika Mulai "Serius", Rumah Tangga Pasti Rumit, Kalau Sederhana Ya Rumah Makan!


Rumit. Ya, satu kata yang mampu menggambarkan bagaimana kondisi yang entah mampu dicari jalan keluarnya atau tidak. Bukan seperti masalah yang jelas ada lajunya, dan mungkin bisa diselesaikan. Jika berbicara tentang rumit dalam sebuah hubungan. Pastilah semua orang banyak yang ragu dan memilih untuk menunggu kepastian.

Dalam sebuah hubungan, apalagi yang ingin beranjak pada jenjang yang lebih serius, pastilah akan menemui sekian banyak masalah. Ada pula pepatah yang mengatakan bahwa rumah tangga tanpa konflik bagai sayur tanpa garam. Kurang sedap kurang bisa dirasa. Rumah tangga juga akan cenderung terasa hampa tanpa fiksi dan hal-hal rumit yang menghantui. Bukan seperti rumah makan yang sederhana, meskipun sama-sama harus melayani dan dilayani, memberi dan menerima, menunggu dan menyiapkan, hingga sejuta hiruk pikuk yang ada didalamnya. Namun, rumah tangga tetap saja rumah tangga yang pastilah memunculkan banyak suka dan duka yang harus dilewati bersama.

Baca juga : Wahai Para Suami, Ketahuilah Bagaimana Mesra A la Rasulullah! Karena Nabi Muhammad juga Punya Sisi Romantis

Sebuah kisah yang bisa dikutip hikmahnya tentang bagaimana hubungan dalam rumah tangga bisa saja rumit. Layaknya Khadijah ketika beliau mendapati Rasulullah SAW ketakutan dan gemetar saat wahyu datang kepadanya pertama kali dia tidak mengetahui bahwa yang datang kepadanya itu wahyu dari Allah.

“Aku takut pada diriku sendiri”, kata Rasulullah.

Khadijah menenangkannya dan menghiburnya sembari berkata, “Demi Allah, Dia tidak akan menyengsarakanmu, kamu selalu menyambung tali silaturahmi, menyantuni anak yatim, membantu fakir miskin, memuliakan tamu, membantu orang-orang yang tertimpa musibah” (Muttafaqun Alaih)

Khadijah menenangkannya dan menghiburnya sembari berkata, “Demi Allah, Dia tidak akan menyengsarakanmu, kamu selalu menyambung tali silaturahmi, menyantuni anak yatim, membantu fakir miskin, memuliakan tamu, membantu orang-orang yang tertimpa musibah” (Muttafaqun Alaih)

Jika Khadijah tak membantu suaminya untuk berbuat baik, niscaya Khadijah tak berucap apa yang dia katakan, Khadijah membekali suaminya makanan, juga minuman saat menyendiri di gua Hira.

Bagi Rasulullah usai diutus menjadi Nabi dalam menghadapi musuh-musuh beliau, Khadijah adalah “sesuatu”, sebaik-baik penolong, dan sebaik-baik orang yang membantu Rasulullah untuk tegar dalam memegang kebenaran.


Baca juga : Banyak Dianggap Belum Mampu, Siapa Bilang Anak-Anak Tidak Boleh Berjihad?

Khadijah memberikan hartanya ketika Rasulullah diboikot orang-orang Quraisy, setia mendampingi beliau ketika orang-orang meninggalkannya, dan membenarkannya saat orang-orang mendustakannya. Oleh sebab itu, Allah memberi woro gembira kepadanya dengan surga, Rasulullah bersabda, “Berilah kabar gembira kepada Khadijah dengan sebuah rumah di surga dari permata, tidak ada keributan dan kelelahan”. (Riwayat Turmudzi, dishahihkan oleh al Albani).

Dari contoh di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ya, rumah tangga itu rumit. Kalau sederhana ya itu rumah makan, bukan rumah tangga. Jadi, jangan pernah ragu ketika sudah waktunya untuk memulai membangun rumah tangga. Ketahui dan bersama-sama hadapai persoalan di dalamnya untuk menggapai ridha Allah SWT. Semoga keharmonisan rumah tangga nantinya bisa selalu terjaga.
Top