Dijauhi Para sahabat Nabi, Malah Dicari Orang di Zaman Ini! Waspadai Jangan Sampai Terjerumus

Komentar

Siapa yang tak mengenal kata hutang piutang? Dalam kamu akuntansi, hutang dan piutang adalah masalah yang wajar apalagi di kehidupan yang serba cepat sekarang ini. Orang-orang beranggapan bahwa melakukan kegiatan hutang adalah cara yang sederhana untuk mempunyai sesuatu tanpa harus menabung terlebih dahulu. Akan tetapi tahukah bahwa pada masa Nabi, kegiatan tersebut malah dihindari oleh para sahabat Rasulullah?

Pada salah satu kisah, ada seorang lelaki yang hendak berjumpa dengan Rasulullah SAW, ketika ia telah menghadap kepada beliau, ternyata masalah finansiallah penmeskipun laki-laki tersebut dalam kondisi terdesak, Rasulullah tidak menyarankannya berhutang. Rasulullah menyarankan untuk menjual aset dan sebagiannya dipakai untuk modal.

Baca juga : Ketahui Akibat Menzhalimi Orang Lain, "Pinta Halal Sebelum Kekurangan Dirham", Simak Alasannya!

Hutang. Dulu sangat ditakuti oleh para sahabat. Sebab mereka tahu resikonya di akhirat yang sangat mengerikan, maka mereka pun menjauhinya.

Ibnu Majah dalam Sunan-nya menuliskan salah satu judul “peringatan keras tentang hutang”. Terisyaratkan dalam salah satu hadits di bab itu bahwa untuk bisa mudah masuk surga, seorang mukmin harus terbebas dari hutang. Jangan sampai memasuki kehidupan akhirat masih memiliki sangkutan hutang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ

Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal maka ia masuk surga. Tiga hal itu adalah sombong, ghulul (khianat) dan hutang” (HR. Ibnu Majah)

Orang mukmin yang ketika meninggal ia masih memiliki hutang, jiwanya akan tergantung pada hutang tersebut.

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Jiwa seorang mukmin masih tergantung dengan hutangnya hingga ia melunasinya” (HR. Tirmidzi; shahih)


Baca juga : Bukan Cuma Kuota Internet, Ini Alasan Mengapa Pahala Sabar Itu Unlimited!

Hutang yang tidak bisa dilunasi di dunia tersebut akan dilunasi di akhirat nanti dengan cara membayarnya dengan kebaikan. Dengan kata lain, pahalanya akan dialihkan kepada orang yang memberinya hutang. Jika pahalanya tidak cukup, orang yang punya hutang tersebut bisa terseret ke neraka. Inilah makna jiwa tergantung dengan hutang.

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham” (HR. Ibnu Majah; shahih)

Namun, saat ini kondisinya berbalik. Apa yang dulu dijauhi oleh para sahabat itu, sekarang banyak dicari umat. Di dunia usaha, tidak sedikit calon pengusaha yang merasa tidak bisa memulai atau membesarkan usahanya jika belum memiliki modal besar yang sumbernya dari hutang. Bahkan, hutang demikian membudaya bukan hanya hutang produktif namun juga hutang konsumtif. Yang lebih parah, jika hutangnya kepada rentenir atau riba. Semoga kita selalu terhindar dari perbuatan tersebut agar bisa menjaga diri baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Top