Bila Jauh dari OrangTua, Jangan Biarkan 'Kesepian' Jadi Bom Waktu Mematikan

Komentar

Ingatlah pada orangtuamu, jenguklah dia, ajak dia tertawa.

Ada sebuah cerita sedih seorang ibu yang menanti kehadiran anaknya. Kisah ini entah nyata atau fiktif yang jelas sangat mengena kepada realita saat ini.

Suatu hari ada seorang ibu yang sedang duduk di sebuah kursi reyot dirumahnya pada malam takbiran hari raya idul fitri. Seolah sedang menunggu kedatangan seseorang. Mak Siti namanya (bukan nama sebenarnya), suaminya sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Ketiga anaknya pun sekarang ada di Bandung, Jakarta dan juga Medan.

"Mari mak" sapa tetangga yang sedang berangkat ke masjid. Mak Siti tersenyum menyambut sapaan itu. Tak berselang lama, ada anak saudaranya yang datang. "Mak...Mak...ada telpon dari Jakarta (anak pertamanya)", sambil memberikan telpon itu kepada Mak Siti. Mak Siti pun merekahkan senyumnya sambil bertanya kepada keponakanya itu, "dari siapa? Kak Adi ya?" Mak Siti memastikan. "Ia mak" jawab keponakanya.

"Halo, Assalamualaikum" Mak Siti.
"Waalaikum salam bu, Ibu sedang apa" tanya anak pertamanya.
"Duduk di teras rumah" jawab Mak Siti. Setelah berbincang agak lama, anaknya pun mengungkapkan maksudnya bahwa Hari Raya Idul Fitri kali ini ia tidak dapat datang karena saat liburan pimpinan mengundang dia beserta istri dan anaknya untuk kerumah pimpinanya sebagai penghargaan atas kontribusinya kepada perusahaan. Setelah itu bosnya memberikan tiket liburan gratis.

Dengan menghela nafas dalam Mak Siti pun menjawab, "Tidak apa-apa, asalkan kamu dan istri serta cucu-cucu ibu sehat disana". Mak Siti pun masih berharap kedua anaknya yang di Bandung dan Medan akan datang di hari besar besok. Namun tak berselang lama, tetangganya datang dengan membawa kabar dari anak keduanya yang di Bandung.

Anak keduanya juga sempat berbicara dengan Mak Siti melalui telpon, tetapi karena lebaran kali ini job diperusahaan tempatnya bekerja sedang ramai, maka liburanpun hanya 2 hari dan pimpinan mengharuskan mengawasi pekerja yang lembur saat liburan. Mak Siti pun tetap mendoakan kesehatan anaknya agar selamat dan mendapat kebahagian disana. Tak terasa tetesan air matapun jatuh kepangkuanya.

Harapanya hanya anaknya yang paling bungsu untuk menemaninya di hari yang fitri. Namun siapa sangka dengan alasan pekerjaan juga ia tak dapat berkunjung ke kampung halamanya untuk lebaran kali ini. Kali ini air mata Mak Sitipun tak tertahankan bercucuran. Meskipun begitu, ia tetap mendoakan ketiga anaknya agar diberi kesehatan dan keselamatan. Begitu ikhlas kasih sayang orangtua kepada anaknya.

Ya Allah..., untuk apakah sebenarnya harta benda yang kita kumpulkan apabila hanya untuk ditumpuk saja. Kebahagian mana yang dicari, hingga orang yang melahirkanya pun tak dipedulikan.

Allah swt, berfirman...... “Dan hendaklah  kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu sebaik-baikya. Jika salah seorang diantara keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali kamu jangan mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah!” dan janganlah maku membentak mereka dan ucapkanlah  kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra ayat 23).

Jika kita merasa seperti ketiga anak Mak Siti, mari perbaiki. Karena kesepian merupakan bom waktu yang mematikan perlahan-lahan. Kondisi ini acap kali terjadi pada pria dan wanita yang telah berusia kepala enam.

Anda yang memiliki ibu berusia 60-an atau lebih dan masih memiliki nenek, maka sering-seringlah mengunjungi mereka pada akhir pekan.

Lalu, apabila Anda tinggal serumah dengan ibu atau nenek, maka luangkan banyak waktu untuk mengobrol dan mendengarkan cerita mereka.

Baca Juga: Dibagikan Hingga 1.300 kali, Kisah Nyata Telat Nikah ini Begitu Mengharukan

Sebab, menurut penelitian University of California yang berlokasi di San Fransisco, kesepian merupakan pemicu depresi dan penurunan kesehatan kaum lanjut usia.

Para peneliti mempelajari dan mendokumentasikan kehidupan 1.600 responden berusia rata-rata 71 tahun.

Alih-alih faktor penuaan dan kesehatan, kebanyakan responden mengalami penurunan fisik karena kesepian.

Sebanyak 23 persen responden meninggal selama penelitian yang memakan waktu enam tahun. Lalu, lebih kurang 14 persen responen meninggal karena merasa sepi dan hidup sendiri.

“Setiap manusia butuh orang lain, orang-orang mengetahui kita, menghargai kita, memberikan kebahagiaan, dan hal-hal itu selalu menjadi penyemangat hidup,” terang Barbara Moscowitz, salah satu peneliti yang bekerja untuk Massachusetts General Hospital kepada The New York Times.

Para kaum lanjut usia sangat menghargai dan menilai tinggi hubungan pertemanan sama dengan hubungan dengan darah daging sendiri.

“Seiring usia, Anda semakin memiliki banyak pengalaman dalam lingkungan pertemanan, Anda bisa menilai siapa yang tulus dan tidak. Selain itu, Anda juga bisa menilai orang seperti apa yang patut diperjuangkan,” jelas Rosemary Blieszner, seorang profesor perkembangan humanis di Virginia Tech.

Blieszner pun menambahkan bahwa tawa dan merasa dibutuhkan menjadi unsur yang membuat ayah dan ibu lanjut usia hidup lebih lama.

Oleh karena itu, dia menyarankan agar para pria dan wanita dewasa yang masih memiliki orangtua untuk lebih sering menghabiskan waktu bersama-sama.

“Jangan lupa untuk tertawalah bersama mereka,” pungkasnya.
Top