Arti Mimpi Menurut Al Qur'an Dan Hadits


ilustrasi mimpi

Mimpi, kata orang adalah bunga tidur. Makna ini dipakai karena mimpi dianggap sebagai hiasan saja. Tapi bagaimana bila mimpi itu pada akhirnya benar-benar terjadi? Pernahkan anda mengalami hal yang seperti ini?

Dalam Surat Yunus ayat 64 Allah berfirman:

لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ (يونس: 64)

“Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat”.

At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa seorang penduduk Mesir bertanya kepada Abu Darda’ –radliyallahu ‘anhu- mengenai firman Allah ini. Abu Darda’ menjawab: “Tidak ada seorangpun bertanya tentang ayat ini semenjak aku bertanya kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan beliau menjawab: ‘Tidak seorangpun bertanya kepadaku tentang ayat ini selain engkau semenjak ayat ini diturunkan. Ayat ini menjelaskan mimpi baik, yang di alami seorang muslim,”. (HR. At-Tirmidzi)

Hadits ini meskipun ada rawi yang majhul, tetapi ada hadits lain sebagai syahid yang diriwayatkan Ahmad dari Ubadah bin Shamit, dan riwayat At-Thabari dalam tafsirnya dari Abu Hurairah.

Baca Juga: Suara Azan Misterius Selalu Terdengar saat Tengah Malam di Sragen

Dalam riwayat Al-Bukhari dari Abi Sa’id Al-Khudzriy, Rasulullah bersabda:

الرؤيا الصالحة جزء من ستة وأربعين جزءًا من النبوة

Artinya: “Mimpi yang baik adalah bagian dari 46 bagian kenabian”

(Lihat: al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah: 8/22)

Sayidah A’isyah –radliyallahu ‘anha- mengatakan bahwa wahyu yang diturunkan pada masa-masa awal kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam— adalah mimpi yang baik. Dan Rasulullah tidak memimpikannya kecuali seperti cahaya di waktu subuh.

Dalam al-Quran juga disebutkan bagaimana Allah memberikan keistimewaan untuk Nabi Yusuf –‘alaihis salam- berupa ilmu tafsir mimpi, dimana nabi dan rasul sebelum beliau tidak diberikan keistimewaan semacam ini.
(lihat : Ta’thir al-Anam fi Ta’bir al-Manam: 5)

Dari ayat dan hadits di atas dapat diketahui bagaimana kedudukan mimpi dalam al-Quran dan hadits.

Selanjutnya, yang dimaksud mimpi yang baik (ru’ya shalihah) adalah mimpi yang dialami oleh orang-orang yang shalih dan mimpi ini adalah mimpi yang benar, meskipun terkadang mimpi yang mereka alami hanya sebatas bunga tidur (adhghats). Mimpi yang dialami para nabi adalah mimpi yang benar, dan berstatus sebagai wahyu. Sedangkan mimpi yang dialami oleh selain nabi dan orang-orang yang shaleh kebanyakan hanya sebatas bunga tidur, karena ada peranan syetan di dalamnya. (Lihat: al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah: 8/23)

Ada tiga macam mimpi: (1) Mimpi sebagai kabar gembira dari Allah, yakni yang baik dan benar. (2) Mimpi permainan syetan. (3) Mimpi yang terjadi akibat angan-angan diri sendiri.

Mimpi hasil permainan syetan adalah mimpi yang tidak berarti sama sekali dan tidak perlu untuk di ta’wil. Dalam hadits shahih disebutkan bahwa ada seorang lelaki sowan kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan bertanya: “Ya Rasulallah!. Aku bermimpi seolah kepalaku terputus dan aku mengikutinya”. Rasulullah menjawab: “Jangan kau bicarakan apa yang menjadi permainan syetan terhadapmu dalam tidur”.

Mimpi yang terjadi akibat angan-angan diri sendiri seperti orang yang dalam keadaan lapar, lalu tertidur dan bermimpi makan. Mimpi semacam ini tidak mempunyai arti.

Mimpi yang juga tidak mempunyai arti adalah: ihtilam (mimpi yang mewajibkan mandi besar), mimpi pada saat pikiran kacau, dan mimpi tentang masa lalu. (lihat : Ta’thir al-Anam fi Ta’bir al-Manam: 5)
Top