Ribuan Anak - Anak Di Allepo Terancam Mati Kedinginan Karena Penundaan Evakuasi

Komentar


Ribuan anak-anak terancam mati kedinginan di jalanan kota Aleppo setelah evakuasi warga sipil dari kota itu tertunda karena perdebatan soal nasib dua desa di dekat Aleppo.

Ratusan keluarga hanya bisa saling memeluk dan meringkuk untuk mengurangi rasadingin di jalanan dan di puing-puing bangunan.

BACA JUGA : Setelah Allepo, Kini Militer Iran Ancam Lanjutkan Perang Hingga Bahrain

Di tengah suhu di bawah nol derajat Celcius, Sabtu (17/12/2016) malam, mereka harus menunggu digelarnya kembali proses evakuasi setelah sempat tertunda.

Para orangtua terpaksa membakar sampah atau apapun dan membungkus anak-anak mereka dengan menggunakan selimut.

Di tengah malam itu mereka dihadapkan pada dua pilihan sulit yaitu bertahan di tengah cuaca dingin untuk mempertahankan posisi antrean atau pergi mencari perlindungan tapi kehilangan posisi antrean.

"Mereka pada dasarnya harus mengambil satu keputusan yang sama-sama tragis," kata Melodie Schindler, juru bicara Komite Palang Merah Internasional (ICRC).

Suhu udara di Aleppo diperkirakan akan anjlok hingga -3 derajat Celcius dan ICRC serta organisasi kemanusiaan lainnya memperingatkan anak-anak dan korban luka berisiko tewas dalam kondisi ini.

"Musim dingin ini akan membunuh ribuan orang yang tak memiliki rumah untuk melindungi mereka," kata Dewan Pengungsi Norwegia (NRC).

"Ini merupakan perlombaan melawan waktu untuk memastikan evakuasi yang aman bagi orang-orang yang ingin pergi," tambah NRC.

Sekitar 10.000 orang berhasil dikeluarkan dari Aleppo pada Kamis dan Jumat lalu, tetapi evakuasi terhenti ketika rezim Suriah dan sekutunya Iran mengeluarkan tuntutan baru.

Mereka menginginkan agar warga di dua desa yang dikuasai dan dikepung pemberontak juga diizinkan untuk pergi.

Pasukan pemerintah Suriah mengatakan, mereka akan menghentikan siapa saja yang akan meninggalkan Aleppo hingga warga desa Kefraya dan Al-Foua dievakuasi.

Kedua desa yang mayoritas penduduknya adalah pemeluk Syiah, dikepung pasukan pemberontak sejak akhir tahun lalu.
Top