Miris! Kondisi Cuaca yang Dingin, Puluhan Ribu Orang di Allepo Menunggu Evakuasi

Komentar
Situasi saat ini di Aleppo makin memprihatinkan, dengan puluhan ribu orang dipaksa harus menunggu berjam-jam di cuaca yang sangat dingin saat evakuasi menggunakan bus.



Namun, bus-bus ini ditakutkan tidak akan bisa keluar dari kota, walau kesepakatan baru telah disepakati untuk membantu mereka untuk pergi.

Ratusan orang yang telah berkumpul dengan barang-barang mereka berharap untuk dibawa pergi dari Aleppo ke Idlib, harus menunggu lebih lama.



Seperti yang dilansir dari tribunnews.com "Kami meminta kebebasan kami," Modar Shekho dalam sebuah video, dengan latar belakang bangunan yang hancur karena di bom dan ribuan penduduk menunggu, "Ini yang kami dapatkan."
Shekho, perawat berusia 28 tahun, kehilangan saudarinya karena pengeboman oleh pemerintah pada awal perang terjadi.

Saudaranya terbunuh bulan lalu dan saat mereka mencari tempat untuk menguburkan saudaranya tersebut, ayahnya terkena serangan udara.

Namun, ia masih harus menunggu di kota tersebut selama yang dia bisa.



"Jiwaku tercabik di setiap langkah keluar dari Aleppo," ungkapnya dalam sebuah wawancara dengan AP.

Shekho adalah satu dari 6000 atau lebih yang telah dikeluarkan dari kota tersebut saat hari pertama evakuasi, dan sekarang tinggal di sebuah desa sebelah barat Aleppo.



Evakuasi tertunda pada Jumat (16/12/2016) - hari kedua - setelah pasukan pro pemerintah menginginkan orang yang terluka juga dibawa keluar dari al-Foua dan Kefraya dan orang yang memprotes menghalangi jalan keluar kota.

Saat operasi penyerangan terhenti, kebingungan terjadi apakah evakuasi ini telah selesai atau tidak.
Rusia mengklaim bahwa hampir 10 ribu orang telah keluar dari kota itu, sedangkan Turki menolak hal tersebut.

Pemberontak senior Suriah menyalahkan Iran dan pasukan Shi'iter karena menahan evakuasi di timur Aleppo.

Munir al Sayal, kepala politik sayap dari kelompok pemberontak Ahrar al Sham sedang menegosiasi atas kesepakaan, mengatakan Iran memaksa orang bisa keluar dari dua desa sebelum evakuasi di Aleppo berlangsung.

"Iran menggunakan situasi kemanusiaan dari terkepungnya orang di Aleppo dan mencegah penduduk keluar sampai evakuasi dari kelompok mereka di al-Foua dan Keyfra," ucap Sayal.

Ahmed, 21, satu diantara 10 ribu orang yang masih terjebak di dalam.

"Revolusi ini adalah yang paling gagal di seluruh dunia," ia mengatakan, menolak untuk memberi nama keluarga karena takut.

"Jika Tuhan menyelamatkanku dari sini, Aku akan pergi ke Turki dan memulai hidup baru, jauh dari rezim kriminal dan pemberontak pembohong."

Farida seorang gynaekologis yang menolak meninggalkan pasiennya, harus kabur ke daerah yang dikuasai pemerintah oleh suaminya.

Bagaimanapun, ia tidak bisa tinggal disitu bahkan hanya untuk dua hari dan melarikan diri lagi ke area pemberontak di pedesaan.

"Walau sangat berat di bawah kepungan dan bombardir, aku dalam damai dengan diriku," ucapnya.
Suami Farida yang juga dokter, mengikutinya pergi - walau Farida masih marah dengannya karena memaksanya untuk pergi.

"Aku tidak bisa meneruskan hidupku tanpanya."

Farida telah mengirim putrinya keluar dari Aleppo dengan ribuan orang yang telah dievakuasi.
Ia berharap suatu hari nanti ia akan bersama kembali.
Top