Ini Dia Inovasi Baru, Beras Dari Singkong Rasanya Lebih Lezat dan Bagus untuk Diet


Beras Siger Lampung pernah dibawa BJ Habibie ke Jerman

Seperti kita tahu, beras sudah menjadi kebutuhan poko saat ini karena kebiasaan makan orang Indonesia akan nasi ini seolah sulit tergantikan. Kali ini ada inovasi beras yang terbuat dari singkong. Keren bukan?

Pemerintah Provinsi Lampung menggenjot sosialisasi beras Siger untuk dikonsumsi masyarakat Bumi Ruwa Jurai. Beras yang terbuat dari singkong ini memiliki kandungan karbohidrat tinggi, seperti beras biasa lainnya. Gubernur Lampung M Ridho Ficardo mengapresiasi pengembangan pengolahan singkong menjadi beras. Produk yang disebut beras Siger ini sangat potensial dikembangkan menjadi komoditas unggulan asal Lampung.

Ridho menuturkan, Lampung memang dicanangkan pemerintah pusat sebagai penyangga ketahanan pangan DKI. Karena itu, pemerintah pusat menggulirkan program bidang pertanian, seperti pembangunan dua waduk sebagai sarana irigasi, di Lampung.

"Lampung dipilih sebagai penyangga pangan untuk DKI. Pemerintah pusat sudah memberi perhatian terhadap sektor petanian Lampung, antara lain pembangunan dua waduk," kata Ridho, Kamis (15/12) seperti diberitakan tribunnews.

Baca Juga: Mau Makan Durian Gratis Sepuasnya? Disini Tempatnya!

Menurut Ridho, di tengah kebutuhan pangan yang semakin besar, perlu satu inovasi baru untuk memenuhi kebutuhan utama masyarakat Indonesia ini. Lampung pun sudah mencoba melalui beras Siger yang terbuat dari singkong.

"Kebutuhan kita (beras) sangat besar. Dengan kondisi areal persawahan yang terus menyusut, perlu alternatif bahan lain, semacam beras siger dari singkong ini. Karena, kita bukan cuma memenuhi kebutuhan lokal, melainkan menyuplai juga untuk DKI," imbuh Ridho.

Untuk itu, Pemprov berharap ada sinergi dari pemerintah kabupaten/kota untuk menggenjot produksi sekaligus pemasaran beras Siger ini.
"Kita promosikan dulu dari hal terkecil. Masyarakat Lampung kenal dulu dengan produk kita, kemudian perlahan dikenalkan secara nasional," ucap Ridho.

Ridho mengatakan, rasa beras Siger sama seperti beras umumnya dari gabah. Bahkan secara kandungan gizi, sambung Ridho, beras Siger memiliki beberapa keunggulan, antara lain terhadap obesitas dan diabetes.

"Rasanya sama dengan beras biasa, bikin kenyang juga, malahan lebih sehat," ucapnya.

Ridho sendiri mengaku selama masa diet ketat beberapa bulan terakhir ini, ia mengonsumsi sehari-hari beras Siger.

"Ini bagus memang untuk diet, rasanya enak. Pak BJ Habibie (mantan Presiden RI) sudah pernah bawa beras Siger ke Jerman," kata Ridho.

Awal mula beras Siger


Lebih putih bersih dari beras 

Berbicara tentang beras Siger yang tengah dikembangkan sebagai alternatif pangan utama, tak bisa mengabaikan sosok Beni Hidayat. Pria ini dikenal sebagai pencipta beras yang menggunakan bahan baku dari singkong tersebut.

Beni Hidayat saat ini menjabat sebagai Kepala Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (UPPM) Politeknik Negeri Lampung.
Ia menuturkan, Lampung dikenal sebagai penghasil singkong nomor satu di Indonesia. Ironisnya, pemanfaatan singkong di Lampung "jalan di tempat" atau cuma dimanfaatkan sebagai bahan baku tepung tapioka.

Alhasil, harga singkong pun sering jatuh jika tiba musim panen. Bahkan, saking berlimpahnya hasil panen singkong, sempat dihargai Rp 500 per kilogram.

Kondisi memprihatinkan ini mengulik batin dosen Teknologi Pangan Politeknik Negeri Lampung ini. Ia pun mulai mencari literatur tentang cara membuat produk olahan dari singkong agar bisa memiliki nilai tambah.

"Sebenarnya sudah banyak produk olahan tradisional singkong yang dikenal masyarakat, seperti tiwul, combro, klanting. Tapi itu kan belum cukup meningkatkan nilai tambah singkong," ujarnya, Kamis (15/12).

Baca Juga: HATI-HATI! Ini Bentuk Pil Ekstasi Minion di Depok yang Dipasarkan untuk Anak Kecil

Apalagi, kenyataan di lapangan bahwa kebanyakan singkong yang ditanam petani adalah singkong dengan kadar HCN yang tinggi, atau disebut singkong racun. Sehingga pengolahannya hanya mentah untuk digunakan sebagai bahan baku tepung tapioka semata.

"Mulai 2010 saya otak-atik pemanfaatan singkong ber-HCN tinggi itu. Ternyata, HCN tinggi pada singkong mudah dihilangkan dengan cara direndam 2-3 hari. Bisa juga di-press dimana akan didapat onggok singkong dan air perasan yang diendapkan hingga menghasilkan pati," terangnya.

Pati ini kemudian dicampurkan dengan onggok sehingga kemudian dapat diolah seperti menjadi combro, klanting, dan lainnya. Seiring waktu, Beni mendapat dukungan dari Badan Ketahanan Pangan Provinsi Lampung. Ia pun diminta membuat beras sebagai bentuk pemanfaatan singkong tersebut. Beni melakukan serangkaian eksperimen. Awalnya, tekstur beras yang dihasilkan masih kenyal dan lengket, mirip dengan nasi dari beras ketan.
"Saya coba menyempurnakan olahan ini dengan menggunakan granulator untuk menghasilkan butiran beras," ujarnya.

Setelah jadi, ketika ditampilkan di Badan Ketahanan Pangan, beras buatan Beni dinilai sama dengan tiwul. Namun, memiliki warna lebih bersih, rasa berbeda, dan aroma singkong hilang sama sekali. Selain itu, bisa dimasak menggunakan rice cooker layaknya beras dari gabah, tanpa harus dilakukan perendaman terlebih dahulu.

"Akhirnya disepakati olahan itu diberi nama Beras Siger, untuk menunjukkan ciri khas Lampung," tuturnya.
Saat ini, setidaknya sudah ada 30 kelompok usaha masyarakat binaan yang tersebar merata di hampir seluruh kabupaten/kota di Lampung untuk pengolahan Beras Siger ini. Antara lain di Desa Margo Mulyo, Lampung Selatan; Abung Semulih, Kotabumi; dan Pagelaran Utara, Pringsewu.
loading...
Top