Demam Video 360 Di Prediksi Akan Melanda "Masyarakat Dunia" Pada Tahun 2017



Awal tahun ini, salah satu yang diantisipasi menjadi tren dalam teknologi adalah video 360 derajat. Video 360 derajat bersama dengan teknologi virtual reality menjadi bahasan hangat penikmat, produsen hingga pemangku kepentingan dalam dunia teknologi.

Dalam panggung Consumer Electronic Show pada Januari tahun ini, dua teknologi itu menjadi perhatian besar dari YouTube, Google, Oculus Rift, GoPro, Ricoh hingga startup 360fly. Semua satu suara, video 360 dan virtual reality akan menjadi sesuatu yang besar dan mewarnai pada tahun ini.

Insting para pihak tersebut nyatanya tak salah. Kini, penggunaan video 360 derajat berikut perangkatnya makin meluas pada era digital. Produk kamera yang mendukung untuk merekam video 360 derajat juga makin berderet.

Tren tersebut bukan tanpa sebab. Kemampuan video 360 derajat memungkinkan seseorang bisa melihat seluruh lingkungan dari posisi sang perekam hingga 360 derajat. Artinya, pengguna yang merekam video bisa menikmati rekaman dari berbagai sudut.

Bisa dari depan, belakang, kiri maupun kanan, hingga dari sisi atas dan bawah. Jadi bulat penuh, 360 derajat, segala sisi.

"Video 360 itu adalah seperti segala sesuatu, Anda ingin melihat semuanya, Anda ingin mendengar segala sesuatu," ujar Matt Sailor, Chief Executive Officer ICrealtech dikutip dari USA Today. ICrealtech diketahui turut merilis produk kamera 360 derajat.

YouTube juga tak mau menyia-nyiakan keunggulan yang disajikan dalam video 360 derajat. Platform video milik Google itu telah melihat video 360 derajat memberikan pengalaman yang lebih baik kepada pengguna mobile dibanding pengalaman melihat video di desktop atau televisi. Apalagi, Chief Business Officer YouTube, Robert Kyncl mengatakan, video mobile sudah meledak.

Facebook juga melihat ada peluang dari tren video 360 derajat. Pada Agustus lalu, situs media sosial itu menegaskan akan komitmen mengembangkan ekosistem video 360 derajat. Saat itu, yang menjadi problem adalah bagaimana pengambilan video 360 derajat bisa stabil.

Maka dari itu, Facebook menurunkan tim insinyurnya untuk memastikan pengambilan video 360 derajat bisa stabil.

Situs besutan Mark Zuckerberg itu nyatanya membuktikan keseriusannya. Pada Desember, Facebook mengumumkan siap merilis fitur live streaming video 360 derajat. Pada tahap awal, Facebook akan merilisnya fitur siaran langsung video 360 derajat kepada beberapa pemegang akun Facebook Page dan nantinya akan dilepas ke pengguna Facebook secara umum pada tahun depan.

Dikutip dari TechCrunch, Manajer Produk Facebook, Supratnik Lahiri mengakui perusahaannya memperhatikan potensi video siaran langsung. Sebab, dengan format tersebut, pengguna bisa melihat segala sesuatu yang terjadi secara real time.

Sementara itu, video 360 derajat menawarkan hal yang lebih dari sekadar video siaran langsung.

"Video 360 derajat akan memperlihatkan lebih banyak kesan pada penontonnya, membuat mereka seolah menjelajahi dan merasakan berdasarkan pengalaman sendiri. Sekarang kami mengombinasikan kedua format tersebut (live video dan video 360 derajat),” ujar Lahiri.

Menolong Twitter

Langkah Facebook terjun dalam video streaming 360 derajat diikuti oleh Twitter.

Mendekati penghujung 2016, Twitter mengenalkan video streaming 360 derajat. Kehadiran fitur terbaru ini diharapkan Twitter dapat memudahkan sekitar 317 juta penggunanya untuk menyiarkan video langsung dengan tampilan 360 derajat.

Sama halnya seperti Facebook, Twitter mengenalkan fitur video streaming 360 derajat itu secara bertahap. Fitur terbaru Twitter itu hanya baru bisa dinikmati oleh segelintir pengguna, misalnya para selebriti atau orang berpengaruh lainnya.

Twitter mengatakan, akan memperluas lagi penggunaan fitur video streaming 360 derajat ini ke para penggunanya dalam beberapa pekan ke depan. Harapannya, pengguna dapat segera merasakan fitur terbaru media sosial berlogo burung biru itu.

Untuk diketahui, fitur video streaming di Periscope ini berlaku untuk penggunaan di aplikasi Twitter saja. Itu artinya, pengguna Twitter dapat merekam situasi di lingkungan dengan mengandalkan smartphone. Pada Periscope nantinya akan muncul penanda Live 360, untuk memulai siaran video 360 derajat.

Dalam keterangannya di blog perusahaan, Periscope menjelaskan, video Live 360 tak hanya memungkinkan pengguna mengeksplorasi tempat-tempat favorit untuk siaran langsung. Namun, juga memberikan kesempatan kepada pengguna untuk terhubung dengan orang lain dan bersama-sama menikmati pengalaman baru.

"Dengan video tersebut, penyiar melibatkan pengalaman sehingga Anda bisa menyajikan kepada mereka apa yang bisa berbagi. Saat mereka senyum, Anda akan senyum, saat mereka tertawa, Anda juga bisa tertawa juga," ujar Periscope dalam keterangannya.

Langkah Twitter terjun ke siaran langsung 360 derajat itu bukan tanpa modal. Hal itu sejalan dengan visi situs mikroblog untuk fokus dalam video pada tahun depan. Berdasarkan laporan internal, dari 2015 ke 2016, terjadi peningkatan pertumbuhan konsumsi video di Twitter, yang mencapai 120 persen.

TechCrunch menuliskan, rilis fitur siaran langsung 360 derajat itu bisa menjadi 'mainan' baru Twitter untuk menarik pengguna internet. Sebab diketahui, pertumbuhan pengguna Twitter tergolong lambat, kalah dengan Facebook. Pengguna Twitter kini sekitar 317 juta, sedangkan Facebook sudah makin besar dengan 1,8 miliar pengguna.

Selain performa jumlah pengguna, beberapa waktu lalu Twitter digosipkan bakal dijual lantaran tak mampu berkembang penggunanya. Maka patut ditunggu apakah dengan fitur baru ini, nantinya mampu menggenjot pengguna Twitter.

Sejauh ini, respons pengguna Twitter menyambut positif rilis siaran langsung video 360 derajat. Rata-rata pengguna mengatakan tak sabar mencicipinya, dianggap keren dan nada memuji lainnya.

Video juga menjadi perhatian bagi WhatsApp. Layanan pesan instan populer tersebut belum lama ini merilis komunikasi berbasis video pada platform mereka. Lebih dari satu miliar pengguna WhatsApp kini sudah bisa melakukan panggilan video (video call) di WhatsApp.

Rilis video call itu merupakan kelanjutan dari layanan pesan instan, kemudian panggilan suara yang sebelumnya disediakan WhatsApp.

Layanan milik Facebook itu mengakui kebutuhan video sudah menjadi fakta pada era digital saat ini. WhatsApp mengaku dari tahun ke tahun, banyak menerima permintaan dari pengguna untuk merilis video call.

"Kami memperkenalkan fitur ini karena tahu bahwa kadang kala suara dan teks saja tidak cukup. Kami gembira karena akhirnya dapat menawarkan fitur ini (video call) kepada dunia," tulis WhatsApp dalam keterangan di blog perusahaan pada 14 November 2016.

Kue video digital

Kue video digital memang kian menggiurkan. Data riset terbaru 'Global Digital Video Content Market 2016-2020: Worldwide Market Size, Shares, Trends, Growth, Survey and Forecast' yang dirilis perusahaan riset pasar ResearchMoz menunjukkan, laju pertumbuhan majemuk tahunan pasar konten video digital global mencapai 25,7 persen selama periode 2016-2020.

Sementara itu, valuasi pasar konten video digital global menunjukkan makin berkembang. Pada 2015, ResearchMoz  mencatat, valuasi pasar video digital global mencapai US$38,71 miliar dan diperkirakan naik menjadi US$121,47 miliar pada 2020.

Perusahaan riset itu mencatat, peluang bertumbuhnya video global makin besar. Sebab, pada 2009, pasar konten video digital masih terbatas pada YouTube, video iklan Facebook dan video promosi pada website perusahaan. Tapi, sekarang tidak hanya didominasi oleh platform tersebut.
Top