Astaghfirullah.. Jangan Pernah Ragukan Rizki Yang Berikan Oleh Allah SWT



Dalam hal apapun sebenarnya kita tidak dibenarkan berprasangkka buruk terhadap apapun, terlebih lagi pada dzat Maha Penguasa Bumi, Allah SWT. Dasar dari orang yang berhasil atau tidak adalah dari awal ia memulai.

BACA JUGA : Ajarkan Sholat Dengan Menciptakan Mindset Sholat Adalah Kebutuhan Bagi Anak, Ini Dia Caranya..

Jika di awal saja sudah tidak percaya diri dan meragukan keberuntungan pada diri sendiri, itu saja sudah kalah dalam hal apapun. Entah itu mengikuti perlombaan, ikuti tes, memulai bisnis, ataupun baru mendirikan usaha. Kalau prasangka kita buruk, bisa jadi keburukanlah yang memang bakal terjadi.

Yang cukup penting adalah, saat pikiran dan hati kita sudah dipenuhi hal-hal negatif, maka kita tidak fokus melakukan sesuatu. Nah, kalau sudah tidak fokus, itu artinya kekalahan sudah kita pegang 80 persen. Yakin dan percaya diri ini selalu digigit kuat-kuat oleh kaum pemenang, bukan si pecundang.

Pernahkah Anda bilang pada orang lain, ketika diajak berbisnis atau berdagang, lantas dengan terburu-buru Anda bilang seperti ini: “Kalau nggak laku gimana?”

Husttt! Sungguh ini famali sekali keluar dari mulut seorang pebisnis atau pedagang, kenapa? Karena seolah-olah, kita sebagai manusia sudah melampui kekuasaan Tuhan, Allah SWT. Memangnya kita tahu darimana produk yang akan dijual itu tidak laku? Memang kita sehebat apa bisa tahu hari esok, meskipun itu dari urusan hal “sepele”, dalam urusan perdagangan?

Sungguh benar kita punya kecerdasan otak untuk menilai dan menimbang, namun urusan rezeki itu di luar batas manusia yang dhoif ini. Berdagang juga begitu, kita melihat produknya, menilai dan “menimbang-nimbang” produk di pangsa pasar. Ketika semua informasi dan secara detail kita paham produk tersebut, namun karena kita punya mental negatif, maka selalu terbayang-bayang produknya tidak laku.

Produk yang super laris di dunia ini pun kalau di-handle orang tipe seperti ini, ngeri-ngeri sedap, seperti apa yang dibilang alm Sutan Batoegana. Ya, jelas saja yang menjual produk tidak yakin, tidak serius, menganggap main-main, bagaimana bisa mempercayakan calon pembeli? Kan logika sekali seperti itu? Kita sendiri, saat ditawari oleh seorang sales, dengan bicara ragu-ragu, tidak paham secara detail produknya, dan menawarkan barang tersebut apa adanya, beli syukur, tidak beli, ya, tidak apa-apa. Otomatis kita sendiri ogah beli barang dari sales itu.

Sama halnya dengan kita sendiri saat di posisi berjualan. Kalau kita seperti sales di atas tadi, siapa juga yang mau beli produk kita? Masuk akal, kan? Sesekali kita harus memposisikan diri pada orang lain. Dengan begitu, kita akan mudah memahami suatu perkara, dan solusi pun bisa datang dari mana saja saat kita menilai dari segala sudut pandang.

Teori ini bisa dipraktikkan untuk berbisnis atau berjualan. Posisikan kita sebagai pembeli, dan posisikan juga kita sebagai penjual. Nanti kita tahu di mana kekuarangan cara berjualannya, di mana salahnya, dan kenapa produk yang kita tawarkan belum juga laku.

Baik, sudah sampai kita di pengujung poin paling penting, sekali kita ragu akan rezeki dari Tuhan, Allah SWT, selama itu pula kita tidak bisa mendapatkan rezeki dariNya. Silahkan dipercaya atau tidak?! Ini hak Anda untuk menyakini artikel singkat yang sudah kami tulis. Namun silahkan dibandingkan dengan teori ilmu agama dan teori ilmu bisnis!

Anda bisa belajar dari orang-orang yang berhasil dalam hidupnya, bisa membaca kisah-kisah orang sukses di Indonesia, maupun di dunia, dan jika Anda cukup jeli, pasti Anda menemukan satu karakter yang sama, yaitu memiliki prasangka yang baik dari Maha Pemberi Rezeki.

Ya, itulah kesamaan dari mereka, tidak mau, dan tidak pernah meragukan kekuasaan Tuhannya. Ia yakin, bahwa TuhanNya, sesuai apa yang ada di hati dan pikirannya.
Top