Ternyata Status PDKT Itu Jauh Lebih Asyik Loh daripada Status Pacaran, Kok Bisa?


Semakin kesini model setiap orang dalam menjalin hubungan sangatlah bermacam-macam, ada istilah hubungan tanpa status, teman tapi mesra, dan yang paling populer adalah pacaran. Banyak para pemuda atau bahkan dewasa (?) yang memilih untuk mengikat lawan jenis yang mereka sukai dengan sebutan Pacaran. Rata-rata menyebutkan bahwa dengan pacaran mereka bisa mengisi satu ruang di dalam hati yang memang tidak bisa diisi oleh siapapun selain lawan jenis yang mereka sukai.

Namun apakah dengan pacaran itu tidak akan menimbulkan hal-hal yang tidak-tidak? pastinya sesehat apapun model pacarannya jelas akan tercampur oleh pengaruh negatif, apapun itu.

BACA JUGA : Kenali 5 Jenis Motivasi Ini dan Jadilah Manusia Yang Beruntung di Masa Depan

Berangkat dari hal tersebut dalam mencapai status yang namanya Pacaran atau mungkin status yang lebih dekat lagi (Pernikahan) pasti kalian akan melewati proses yang disebut PDKT. Saat kamu masih menyandang status Jomblo, biasanya kamu akan menjalani proses pendekatan (PDKT) dengan si gebetan. Dilansir dari Popbela, masa-masa PDKT ini ternyata jauh lebih menyenangkan daripada pacaran. Yuk, langsung simak alasannya berikut ini.

1. Tidak ada tekanan atau beban


Belum ada tuntutan yang sebesar saat kamu sudah jadian di masa-masa pendekatan. Kamu tak harus selalu melapor padanya di mana pun keberadaanmu, kamu tidak harus menemaninya pergi ke acara keluarganya, kamu tak perlu memaksakan diri untuk bergaul dengan gengnya, dan tak perlu menjadi sosok pacar yang serba sempurna.

2. Masih bisa dekat dengan orang lain



Ini dia yang mustahil dilakukan saat kamu sudah menjadi pacar orang. Di fase PDKT, sah-sah saja jika kamu juga sedang dekat dengan cowok lain. Statusmu yang masih bebas membuatmu bisa menimbang-nimbang dan memilih mana yang paling cocok denganmu. Si dia pun tak berhak untuk merasa cemburu karena kalian belum resmi menjadi sepasang kekasih.

3. Yang ditunjukkan yang baik-baiknya saja



Tentu saja pada saat pendekatan kamu dan gebetan hanya mau menunjukkan sisi terbaik kalian. Sifat-sifat jelek kalian masih jauh terpendam dan tersimpan rapi untuk masa depan. Kamu pun merasakan indahnya jatuh cinta karena sepertinya dia adalah sosok yang sempurna dan baik hati banget!

4. Kamu lebih dibanjiri perhatian



Gebetanmu masih semangat-semangatnya mengejar cintamu. Sehingga kamu akan selalu dibanjiri perhatian seperti, "Sudah makan belum?", "Kok belum tidur jam segini? Besok kamu akan susah bangun, lho,", dan "Sudah sampai di rumah?". Saat sudah jadian, boro-boro menanyakan kabarmu, dia justru menghilang seharian dan sulit dihubungi!

5. Setiap hal kecil terasa sungguh berarti



Di masa pendekatan, hal-hal sekecil apa pun bisa menjadi sangat bermakna. Misalnya, si gebetan update lagu romantis di akun Path-nya. Kamu pun jadi berpikiran, jangan-jangan lagu tersebut ditujukan padamu? Atau dia mengantarkan kamu pulang. Wah, rasanya senang banget ada yang begitu peduli padamu, tanpa diminta dan tanpa disuruh. Coba kalau sudah pacaran, kita cenderung menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh pacar itu sudah semestinya sehingga artinya tidak sebesar dulu lagi.

6. Sensasi gugupnya bikin ketagihan



Kamu tentu ingin membuat dia terkesan dan jatuh hati semakin dalam lagi padamu. Kamu jadi salah tingkah dan lupa bagaimana caranya bersikap normal ketika berada di dekatnya. Saat menunggu-nunggu dia tiba ke rumahmu, rasanya jantungmu berdegup kencang. Seperti apa kencan kita nanti, ya? Aku harus ngomong apa padanya? Duh, apakah bajuku membuatku terlihat gemuk?

7. Benar-benar berusaha mengenal satu sama lain



Yang paling romantis pada saat pendekatan adalah betapa tulusnya kalian saat mendengarkan cerita masing-masing. Kalian benar-benar tertarik pada diri satu sama lain dan mau berusaha mengenal lebih dalam lagi. Ketika dia menunjukkan kepedulian ini, lebih mudah juga bagimu untuk membuka diri padanya serta mengenali sosoknya. Nah, biasanya ketertarikan ini akan memudar saat sudah pacaran. Kalian justru berebut perhatian dan ingin selalu didengarkan, bukan mendengarkan.
loading...
Top