Terlihat Lebih Efisien, Pemberian Hibah Dilakukan Setelah Infrastruktur Jadi


Pemerintah Australia mengakui Indonesia memiliki metodologi yang baik dalam menyediakan layanan sanitasi.

Namun, metode yang benar saja tidak cukup untuk memastikan akses sanitasi dapat mencapai 100 persen sesuai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

"Ini masih rentan terhadap isu-isu keberlanjutan. Karena aset bukan milik pemda (pemerintah daerah), maka sulit mengalokasikan anggaran untuk perawatan," ujar Minister Counsellor for Economic, Infrastructure anda Governance, Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), Steven Barrclough di Hotel Sultan, seperti yang wajibbaca.com rangkum dari laman kompas.com.

Melalui program Hibah Infrastruktur Australia-lndonesia untuk sanitasi (sAIIG), Australia mendukung Indonesia sejak 2013, untuk mencapai akses universal dalam pengelolaan air limbah. Mekanismenya dilakukan dengan membangun penataan air limbah secara kawasan.

Menurut Steven, hal ini merupakan model yang paling efisien, mengingat sebanyak 38 pemda berpartisipasi melalui program tersebut dengan pendekatan pendanaan berbasis kinerja.

Sampai saat ini, menurut statistik, program tersebut telah menyambungkan 28.578 rumah dengan instalasi pengelolaan air limbah (IPAL).

Untuk capaian ini, Steven mengakui kerja sama dan kerja keras dari para mitra Australia di pemerintah pusat, yaitu Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta Kementerian Kesehatan.

"Saya sempat berkunjung ke beberapa daerah di mana program ini telah dilanjutkan, yaitu Palembang, Bandung, dan Serang. Saya lihat kemitraan yang efisien antara pemerintah lokal (pemda) dan nasional (pusat)," kata Steven.

Pada program ini, tutur dia, hibah akan diberikan kepada pemerintah daerah setelah verifikasi untuk memastikan infrastruktur sanitasi sudah dibangun.

Insentif ini diharapkan akan mendorong pemda untuk lebih banyak berinvestasi pada proyek-proyek infrastruktur khususnya pada pengelolaan air limbah.


"Artinya kami menilai model ini sudah terbukti dan layak ditindaklanjuti di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Model ini paling efisien," sebut Steven.
loading...
Top