Taksi di Amerika Khususnya Taksi "ONLINE" Cenderung Diskriminiatif


Moda transportasi yang sedang populer belakangan ini, taksi online (Uber dan Lyft, dianggap memiliki potensi melakukan diskriminasi. Khususnya pembatasan untuk penumpang berkulit berwarna (African American), dan mengubah rute untuk perempuan, sehingga menaikkan tarif.

Studi mengenai sikap dan perilaku pengemudi ini, dilakukan oleh beberapa peneliti dari Universitas Washington dan Institut Teknologi Massachusetts. Mereka mengambil sampel dari 1.500 perjalanan pada masing-masing layanan seperti Uber, Lyft, dan Flywheel, mengutip Caranddriver, seperti yang dikutip wajibbaca.com dari laman kompas.com.

Para peneliti mengatakan, kalau pria dengan nama yang terdengar Afrika lebih sering ditolak, dua kali lebih banyak dari penumpang dengan nama yang dianggap mencirikan Amerika (kulit putih). Bahkan penumpang pria di salah satu wilayah Amerika tiga kali lebih sering ditolak, seperti nama Darnell, Kareem, dan Rasheed.

“Ini bisa menjadi bukti kalau penumpang Afrika-Amerika menerima pelayanan yang buruk, dibanding penumpang berkulit putih. Namun, sulit mengatakan sopir melakukan diskriminasi, karena pastinya akan ada banyak alasan, mengapa driver menolak atau membatalkan perjalanan, atau juga memilih rute tertentu," kata Don MacKenzie, profesor dari Universitas Washington.

Pihak Uber menanggapi positif hasil penelitian yang dilakukan oleh dua Universitas. Meski menyangkal secara halus, namun Uber berkomitmen akan terus melakukan pelayanan terbaik.

"Kami percaya Uber sudah membantu mengurangi kesenjangan transportasi di seluruh sisi. Namun, penelitian seperti ini sangat membantu dalam berpikir tentang bagaimana kami bisa berbuat lebih banyak dan positif lagi," kata Rachel Holt, Regional General Manager Uber Amerika dan Canada.
Top