Sungguh Miris, Baju Adat Dayak Terancan Punah



Daluang adalah lembaran tipis yang dibuat dari kulit kayu pohon Deluang, yang memiliki bahasa latin, Broussonetia papyrifera. Dalam adat budaya Dayak di kawasan Tanjung Kalimantan Selatan, kayu daluang digunakan sebagai pakaian adat.

BACA JUGA : Fakta Menakjubkan Pertunjukan Balet Asal Tiongkok

Mereka menyebutnya dengan baju kayu Dayak maratus. Muhamad Yusuf, selaku kolektor baju khas Dayak mengatakan, baju kayu yang biasa digunakan oleh orang-orang Dayak di Kalimantan Selatan, dipakai untuk upacara -upacara adat.

"Baju ini dipakai buat acara ritual budaya, seperti upacara adat," ujar Muhammad Yusuf saat ditemui di acara pameran Beaten Baro Exhibition di Museum Tekstil, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Namun, saat ini, baju yang terbuat dari kayu Daluang ini mulai sulit ditemukan. Bukan karena bahan bakunya yang sudah mulai langka, melainkan perajinnya yang sudah berusia renta. Yusuf mengatakan, orang-orang muda di suku Dayak sudah meninggalkan tradisi mereka.

"Bahan kayunya banyak ditemukan di hutan, tapi para perajin baju ini yang langka, karena anak-anak mudanya tidak mau mewarisi tradisi," katanya.

Selain dibuat baju, ada juga yang membuat kerajinan lain seperti tas, topi, dompet, dan macam-macam kerajinan lainnya.

Agar baju kayu adat Dayak maratus ini tidak terancam punah, Yusuf bersama seniman dan pengusaha yang ada di Kalimantan Selatan mencoba memompa semangat para pemuda Dayak untuk meneruskan tradisi nenek moyang mereka.

"Baju ini rencananya kami produksi massal, dan memotivasi para perajin yang muda-muda untuk mau meneruskan tradisi," ucapnya.
Top